Resolusi Pandang
Sebagaimana kamera: semakin tinggi resolusinya, semakin tajam ia menangkap detail objek yang dipotret; sebaliknya, semakin rendah resolusinya, semakin blur kemampuannya mengabadikan objek. Begitu pula dalam permasalahan apa pun — terutama soal sosial, budaya, dan keagamaan — resolusi pandang menentukan kemampuan seseorang mengidentifikasi dan merumuskan anatomi masalah, yang berkonsekuensi langsung terhadap kualitas akurasi keputusan atau solusi yang dihasilkan.
Contoh Resolusi Pandang
Misalnya soal pemerintah dan negara. Keduanya sering rancu dalam percakapan sosial — kerap disamakan padahal berbeda. Itu karena resolusi pandang yang dipakai rendah. Bila menggunakan resolusi pandang tinggi, akan terlihat jelas bahwa keduanya berbeda, sehingga penggunaan kata ‘pemerintah’ dan ‘negara’ menjadi lebih tepat dan tidak menimbulkan salah paham.
Contoh lain: Rocky Gerung dan Prabowo. Saat Prabowo berada di luar pemerintahan, Rocky tampak seperti sekelompok dengan Prabowo karena sama-sama mengkritik pemerintahan Jokowi dan sering terlihat bersama. Itu pandangan beresolusi rendah. Dengan resolusi tinggi kita melihat perbedaan standing point: Prabowo mengkritik dari hasrat kekuasaan, Rocky mengkritik berdasarkan logika dan filsafat untuk mengevaluasi kebijakan publik. Anda boleh berbeda pendapat; poin saya hanya memberi contoh kualitas resolusi pandang — tidak lebih.
Soal kyai, ulama, dan pesantren juga mirip. Banyak orang beresolusi rendah sehingga keliru. Orang yang piawai public speaking, suka menghujat, provokatif, pandai berdongeng atau melawak, lalu karena berbusana “ala-ala ulama” langsung dipanggil ‘Kyai’, ‘Ulama’, ‘Ustadz’, ‘Syaikh’, atau ‘Abuya’. Itu fatal. Dalam tradisi pesantren, ‘kyai’ bukan sekadar kostum; ia buah dari sanad ilmu, akhlak, dan tanggung jawab spiritual.
Kasus Tayangan Trans7 yang Menghina Lirboyo
Dalam tayangan Trans7 itu sebenarnya ada beberapa adegan, dilakukan beberapa sosok di tempat berbeda—yang kemudian dirangkai sebelum adegan Kiai Anwar Manshur turun dari mobil. Akumulasi persepsi dan emosi dari beberapa adegan itu ditembakkan sebagai punchline ke Kiai Anwar Manshur dan Pondok Pesantren Lirboyo. Sehingga seolah-olah Lirboyo melakukan semua hal itu, padahal adegan yang benar-benar menampilkan Lirboyo hanya Kiai Anwar Manshur turun dari mobil. Yang jalan dengkul, jalan ngesot, atau urusan harga sarung mahal kebanyakan berasal dari tokoh atau pondok lain. Trans7 meramunya jadi satu; publik yang beresolusi rendah menerima paket itu mentah-mentah — jadilah keliru.
Jelas, Trans7 salah total: adegan Kiai Anwar Manshur cuma turun mobil, tapi disatukan dengan rentetan adegan lain sehingga framing-nya menyinggung. Itu etika jurnalistik yang keliru.
Pesantren Didiskreditkan, Aksi Bela Kiai
Reaksi keras muncul: banyak yang bilang kultur pesantren bukan feodalisme; perlakuan santri adalah penghormatan kepada guru; itu upaya mendiskreditkan pesantren; dan muncul narasi-narasi lain hingga Aksi Bela Kyai.
Mari gunakan resolusi tinggi:
- Pesantren atau kyai yang sedang dikritik atau dibela yang mana?
- Kultur pesantren yang dimaksud yang mana?
- Definisi “feodal” yang dipakai apa? Yang disebut feodal itu yang mana, dan yang tidak feodal yang mana di kultur pesantren yang dimaksud?
Resolusi pandang setajam itu penting agar kita tidak keliru-keliru: seolah-olah semua pondok baik-baik saja atau seolah-olah semua pondok bermasalah.
Pesantren dan Kiai yang Mana
Berikut data pertumbuhan pesantren:
- 2001: 11.312 pesantren dengan 2.737.805 santri.
- 2005: 14.798 pesantren dengan 3.464.334 santri.
- 2016: 28.194 pesantren dengan 4.290.626 santri.
- 2019–2024: Tambahan sekitar 11.000 pesantren — lonjakan pesat.
- 2025: Data Kementerian Agama mencatat jumlah pesantren aktif mencapai 42.391 unit.
Perhitungan sederhana: 2001–2005 bertambah sekitar 3.500; 2005–2016 naik ~14.000 (rata-rata ~1.400 per tahun); 2019–2024 naik ~11.000 (rata-rata ~2.000 per tahun). Bila dirata-rata, ada 5–6 pesantren baru muncul per hari selama periode lonjakan itu — luar biasa.
Dari 2001 sampai 2025 muncul sekitar 30.000 pesantren baru. Siapa yang mendirikan semua pesantren baru itu? Ini perlu penelitian karena publik yang tidak memahami mudah saja melihat kultur yang dibawa oleh pesantren baru—sehingga kultur pesantren lama tertutup dari pengamatan.
Lebih jauh, hanya ada sekitar 59 pesantren yang berusia lebih dari 100 tahun. Bila seseorang mengatakan “pesantren adalah pondasi bangsa dan tradisi Indonesia”, yang dimaksud seharusnya adalah pesantren-pesantren tua itu beserta pesantren sezaman yang telah hilang atau menyusut perannya — bukan otomatis seluruh 42 ribu pesantren hari ini.
Dari 42 ribu pesantren sekarang, mana yang meneruskan nilai juang atau jaringan dari 59 pesantren tua itu? Mana yang benar-benar NU, mana yang bukan? Apakah praktik-praktik seperti jalan dengkul, jalan ngesot, santri mencium kaki (kasus yang disorot pada beberapa figur publik), atau kasus kekerasan seksual termasuk pesantren NU atau bukan? Ini mesti diteliti dan dibedakan supaya masyarakat tidak salah paham saat membicarakan dunia pesantren.
Resolusi Pandang Tajam Itu Penting
Tujuannya: agar tidak semua pesantren mengklaim atau dipersepsikan publik sebagai entitas yang sama—bahwa semuanya berjasa atas berdirinya bangsa—sehingga masyarakat salah paham. Sering saya dengar ceramah orang NU dengan kalimat seperti: “pesantren yang berjuang, melawan penjajah, melahirkan para pejuang, nilai-nilai dan kultur pesantren itu mulia…”. Kalimat itu membuat masyarakat umum salah paham, menganggap semua pesantren begitu. Jelaskan secara detail: pesantren yang mana? Ada 42 ribu pesantren!
Sebaliknya, yang mengkritik kultur pesantren kerap berkata: “pesantren itu feodal, primitif, gak mutu, banyak masalah, pencabulan, jalannya ngesot…” — narasi penghinaan seperti itu (sebagaimana tayangan Trans7) juga tidak boleh dipakai untuk mengeneralisasi. Pertanyaannya: dari 42 ribu pesantren, pesantren dan kyai yang mana yang dimaksud? Jelaskan yang detail, jangan pakai kata umum.
Mungkin pesantren yang bermasalah selama ini adalah pesantren bukan NU, pesantren abal-abal yang didirikan oleh oportunis berkedok agama, sementara pesantren NU justru terkena dampak buruk karena publik memandang semua pesantren itu identik dengan NU. Banyak orang dalam ceramah menggunakan kata yang sama—‘pesantren’ dan ‘kyai’—padahal realitas yang dimaksud berbeda-beda.
Di tahun 2025 ini ada 42 ribu pesantren; 30 ribu muncul setelah tahun 2000; hanya sekitar 59 yang berusia 100 tahun. Konfigurasi kuantitas ini mencipta konstelasi sosiologis dan antropologis yang carut-marut, sehingga persepsi eksternal terhadap dunia pesantren juga carut-marut. Karena itu penting membedakan mana pesantren NU dan mana bukan; pesantren dan kyai mana yang dibahas, dikritik, atau dipuji; Aksi Bela Kyai membela kyai mana? Detail itu penting dalam komunikasi publik karena publik bisa jadi memandang kyai yang dibela sebagai kyai abal-abal atau malpraktik.
Yang NU dan Yang Bukan NU
Ini problem rumit yang dihadapi NU. Sejak Gus Yahya bertemu Bpk Hermawan Kertajaya, saya tahu problem yang dibicarakan dan apa yang akan dilakukan. (Kalau kata “tahu” terkesan sok pintar—seperti Pak Purbaya Yudhi Sadewa ketika di DPR—saya ubah menjadi “yaa kira-kira tahulah”—ndak apa-apa pakai kata ‘kira-kira’ meskipun biidznillah saya bisa urai lebih detail.)
Membedakan mana yang NU dan mana bukan NU itu sangat penting dan fundamental. Banyak orang mengaku-ngaku NU, mengatasnamakan NU, mencitrakan NU, tapi isinya bukan NU; core-value-nya bukan NU; kultur dan manhajnya bukan NU. Masyarakat umum keliru memandang orang yang bukan NU sebagai NU. Lalu orang yang dipandang NU itu berbuat keburukan atau kejahatan — yang kena dampaknya adalah NU. Padahal NU yang sejati tidak ikut berbuat.
Contoh: publik memandang Klan Habib Baalwi sebagai bagian dari NU. Sehingga ketika muncul tokoh-tokoh seperti Bahar bin Smith, Rizieq Shihab, Topek Segaf, Hasan Muhdor, dan lain-lain, publik menganggap problem itu berasal dari NU. Bahkan di internal NU pun ada yang memandang Klan Habib Baalwi sebagai NU. Itu resolusi pandang rendah yang membuat penilaian jadi buram.
Coba gunakan resolusi pandang tinggi: apa itu NU? Apa parameter seseorang atau kelompok disebut NU atau bukan? Ujilah Klan Habib Baalwi dengan parameter itu.
Klan Habib Baalwi itu NU atau bukan?
Kalau saya: sebagaimana “Klan Habib Baalwi itu orang Arab saja bukan, apalagi cucu Nabi”, demikian juga “Klan Habib Baalwi itu Islam saja bukan, apalagi NU”. Mirip Islam tapi bukan Islam; mirip NU tapi bukan NU — ya, cuma mirip.
Mengapa? Coba cek thariqah Baalawi, thariqah yang dipegang erat dan menjadi nyawa Klan Habib Baalwi.
Kalau terus-menerus tidak jelas dan tidak tegas mana yang NU mana yang bukan, NU akan selalu dalam kekacauan. Mengapa? Karena kebingungan identitas selalu memicu konflik persepsi.
Oleh: Kgm. Rifky Zulkarnaen