1. Pendahuluan
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan publik tentang status sebuah “tesis”, muncul fenomena memalukan -sekelompok tokoh dan pengikutnya terjebak dalam pemahaman sempit bahwa tesis hanya sah jika berbentuk dokumen fisik, diuji di kampus, dan diakui secara formal. Artikel ini ingin membongkar kebodohan literasi akademik yang dipertontonkan Klan Habib Baalwi dan para budaknya, sekaligus meluruskan makna dan hakikat tesis yang jauh lebih luas dari sekadar skripsi atau disertasi kampus.
2. Kebodohan Kolektif: Tesis Harus Fisik dan Formal?
Berawal dari pernyataan Dr. Habib Ali Baqir al-Saqqaf yang menyebut “tesis S2 Ki Imaduddin sampai sekarang wujud fisiknya masih ghoib”, penulis mempertanyakan keabsahan gelar doktor yang bersangkutan. Berbagai tokoh lain, seperti KH. Luthfi Bashori, Habib Rizieq Shihab, dan para pengikutnya, melontarkan ejekan dan tuntutan konyol:
- “Di kampus mana diuji?”
- “Siapa pengujinya?”
- “Mana dokumen fisik tesisnya?”
Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan tingkat literasi yang menyedihkan, seolah-olah tesis hanya diakui jika memenuhi ritual akademik formal.
3. Tesis: Gagasan, Paradigma, dan Dialektika
Penulis menegaskan bahwa istilah “tesis” jauh melampaui batas-batas birokrasi kampus. Dalam literatur filsafat, tesis adalah gagasan atau paradigma yang dapat diperdebatkan dan diuji secara intelektual, bukan sekadar dokumen yang dijilid dan disimpan di perpustakaan.
Contoh penggunaan tesis di luar kampus:
- Filsafat: Tesis positivisme (Noeng Muhajir), tesis benturan peradaban Huntington.
- Sosial Politik: Tesis Pancasila Kyai As’ad, tesis pendirian Gerindra oleh Prabowo.
- Investasi: Tesis dalam analisis pasar saham dan investasi.
- Media dan Podcast: Tesis sebagai argumentasi, gagasan, dan hipotesis.
4. Dialektika Hegel: Tesis, Antitesis, Sintesis
Penulis mengulas konsep dialektika Hegel yang terdiri dari tiga tahap:
- Tesis: Ide awal atau pandangan utama.
- Antitesis: Lawan atau sanggahan terhadap tesis.
- Sintesis: Kompromi atau hasil perpaduan antara tesis dan antitesis.
Proses dialektika ini menegaskan bahwa tesis adalah bagian dari dinamika intelektual, bukan sekadar produk birokrasi.
5. Tesis dalam Teks Eksposisi
Dalam dunia tulis-menulis, khususnya teks eksposisi, “tesis” adalah pernyataan umum atau pendapat utama yang menjadi landasan argumen. Tesis di sini berfungsi sebagai pengantar, bukan hasil ujian formal.
6. Penutup
Artikel ini menohok kebodohan literasi akademik yang selama ini dipertontonkan oleh Klan Habib Baalwi dan para budaknya. Tesis bukan sekadar dokumen formal kampus, melainkan gagasan, paradigma, dan argumentasi yang hidup di berbagai bidang. Jika masih ada yang ngotot mempertanyakan “kampus mana, penguji siapa, mana dokumen fisiknya”, kirimkan saja lampiran tulisan ini agar mereka berhenti mempertontonkan kebodohannya.
Lampiran PDF Asli:
Mengajari Dr. Habib Ali Baqir al-Saqqaf dan KH. Luthfi Bashori serta Budak Lainnya Tentang Apa Itu Tesis
Catatan:
Tulisan ini tidak hanya relevan untuk polemik seputar tesis Kiai Imaduddin Utsman al Bantani, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin memahami makna tesis secara komprehensif dan kritis di era digital.
Referensi:
[PDF Asli – Klik di sini untuk mengunduh]
Oleh: Rifky Zulkarnaen