Oleh: Anggie
Semua berawal dari oknum-oknum habib sendiri yang kerap mempertontonkan perilaku yang tidak sesuai dengan kepribadian orang-orang yang umumnya mewarisi nasab mulia, apalagi yang mengaku memiliki nasab suci Baginda Nabi Muhammad SAW.
Keberadaan habib frontal atau kontroversial bukanlah hal baru. Sejak masa rezim Presiden Soekarno dan Soeharto, sudah ada tokoh-tokoh habib yang bersikap demikian. Di era pemerintahan Soekarno, terdapat tokoh habib frontal seperti Utsman bin Yahya dan Husein bin Syihab. Sedangkan pada masa pemerintahan Soeharto, muncul Idrus Jamalulail dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Tanjung Priok (1984). Hingga era reformasi dan masa kini, fenomena tersebut tetap berlanjut.
Meskipun sejak dahulu sudah ada kemunculan habib-habib frontal atau kontroversial, jumlahnya tidak banyak—biasanya hanya satu atau dua orang, dan bersifat individual, tidak berafiliasi dengan ormas maupun partai politik. Berbeda dengan masa pascareformasi hingga sekarang, di mana kemunculan tokoh habib frontal terjadi secara masif, baik yang berafiliasi dengan ormas atau parpol, maupun yang bergerak secara independen.
Perbedaan antara habib frontal era dahulu dan sekarang sangat mencolok. Dari sisi bahasa dan gaya bicara, ungkapan sarkastis dan provokatif di era sekarang jauh lebih parah dibandingkan masa Soeharto atau Soekarno. Sebagaimana yang sering kita lihat, baik secara langsung maupun melalui tayangan video di media sosial, banyak oknum habib yang menunjukkan perilaku demikian — di antaranya Rizieq Shihab, Bahar Smith, Taufik Segaf, dan sejumlah nama lainnya.
Selain itu, pada masa lalu hampir tidak pernah terdengar kasus oknum habib menzinahi istri orang, membawa lari istri orang, melakukan dawīr secara paksa, mencabuli anak di bawah umur, mencabuli santri, menghina lambang negara, berupaya mengganti ideologi negara dengan khilafah, mengaku sebagai dzurriyyah Nabi di atas mimbar sambil mencaci maki pemerintah atau presiden, bahkan menghunuskan pedang di hadapan publik.
Belum lagi tindakan mengagungkan leluhur Ba’alawi dengan cerita-cerita khurafat, pemalsuan makam, pemalsuan sejarah bangsa dan sejarah berdirinya NU, serta menghabibkan makam keramat atau makam pahlawan. Semua itu kini terekam dan dapat ditemukan dengan mudah di media sosial — dilakukan langsung oleh oknum-oknum tersebut, bukan sekadar narasi fitnah.
Mungkin di masa lalu kasus-kasus serupa juga pernah terjadi, namun mudah diredam atau ditutupi. Sekarang hal itu tidak lagi bisa dilakukan. Segala sesuatu dapat terungkap karena kemajuan teknologi informasi dan internet, serta kemudahan akses media sosial melalui smartphone dan berbagai aplikasinya yang memungkinkan siapa pun untuk merekam, mengunggah, dan menyebarkan informasi secara terbuka.
Dari sinilah umat mulai melihat dan mengetahui berbagai kejanggalan perilaku oknum habib atau habaib yang mengaku sebagai dzurriyyah Nabi SAW. Berdasarkan hal inilah, seorang ulama muda Nahdlatul Ulama dari Banten, yakni KH. Imaduddin Utsman al-Bantani — atau yang akrab disapa Kiai Imad — mulai menelusuri keabsahan dan kebenaran silsilah nasab Rizieq Shihab dan Bahar Smith yang dinilai paling frontal dan mencurigakan.
Kiai Imad kemudian menulis sebuah karya ilmiah (tesis) yang menelusuri nasab para habib yang berasal dari klan Ba’alawi, sama seperti Rizieq Shihab. Menurut penelitian beliau, nasab Rizieq Shihab (klan Ba’alawi) tidak ditemukan dalam kitab-kitab nasab klasik, bahkan hingga abad di mana Sayyid Ahmad bin Isa (al-Abah / an-Nafath) hidup pada masanya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemunculan tesis Kiai Imad berawal dari perilaku oknum-oknum habib seperti Rizieq Shihab dan Bahar Smith yang menimbulkan pertanyaan di kalangan umat: “Benarkah mereka ini keturunan Nabi SAW, jika perilakunya seperti itu — suka mencaci maki, mengobrak-abrik warung di bulan puasa, memaksa dawīr, terlibat VCS, menganiaya orang, dan sebagainya?”
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya mendorong Kiai Imad untuk melakukan penelitian mendalam mengenai keabsahan nasab tersebut.
Meskipun tesis Kiai Imad kemudian menimbulkan polemik selama tiga tahun terakhir, namun ada hikmah besar di baliknya: banyak umat Islam yang mulai tersadarkan, bahwa selama ini mereka hanya diberi label muhibbin — pengikut yang dimanfaatkan demi kepentingan para habaib, baik untuk tujuan sosial, politik, budaya, maupun ekonomi.
Bahkan lebih ironis lagi, umat yang sejatinya adalah murid dan santri para kiai pribumi, justru menomorduakan para kiai yang telah mengajarkan ilmu agama, dan sebaliknya menomorsatukan habaib yang bukan guru mereka, hanya karena diframing sebagai dzurriyyah Nabi SAW.
Karya tulis Kiai Imad bukanlah masalah besar dan tidak perlu ditakuti, selama memang ada bukti-bukti keabsahan nasab para habaib (Ba’alawi) yang bisa dikonfirmasi secara ilmiah — baik melalui kitab nasab, ilmu sejarah, filologi, genealogi, maupun ilmu rijal al-hadits.
Namun, jika ternyata semua itu tidak dapat dikonfirmasi, maka seharusnya bersikaplah jujur dan rendah hati: akui saja bahwa nasab tersebut belum terbukti secara sahih, tanpa perlu marah-marah. Tetaplah bersikap tawadhu dan santun, serta perbaikilah perilaku-perilaku yang selama ini justru merusak citra habaib (Ba’alawi), jika memang ingin diakui sebagai orang alim dan berilmu tinggi — sambil menunggu waktu, barangkali kelak ditemukan bukti yang lebih jelas tentang keabsahan nasabnya.
Karena bila hanya bisa marah, mengamuk, dan mencaci maki para kiai atau ulama yang mendukung tesis Kiai Imad — bahkan sampai menuduh mereka sebagai Wahabi atau PKI — hal itu justru memperlihatkan kegalauan batin, dan semakin meyakinkan umat bahwa nasab para habaib (Ba’alawi) memang patut dipertanyakan keasliannya.
Seekor domba akan tetap mengembik meski dituduh bukan domba. Tetapi seekor serigala berbulu domba, sehalus dan semirip apa pun bulu domba yang dikenakannya, pada akhirnya akan menggonggong — dan tanpa perlu diteliti lebih dekat pun, orang akan tahu bahwa itu bukan domba.
Wallahu a‘lam bish-shawab.