Penulis: Rifky Zulkarnaen JB.
SUMBER
Sumber: di tulisan facebooknya https://www.facebook.com/share/19n8nSnDEU/ . Terakhir kali penulis kunjungi lagi, postingan tersebut tidak ada. Mungkin dihapus olehnya. Namun penulis masih dapat memperoleh tulisannya. Lihat gambar di bawah ini:

PROLOG
Naskah penjelasan penulis mengenai ‘tesis’ sudah penulis siapkan sejak adanya perilaku Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya di media sosial yang sungguh sangat menyedihkan kala menanggapi tesis Kyai Imad (sekitar 2 tahun yang lalu). Naskah tidak penulis publish karena urusan ini tidak vital saat itu. Naskah ini akhirnya penulis keluarkan sekarrang karena mumpung ada Habib bergelar akademik Doktor (Dr) membahas tentang ‘tesis’ dengan pemahaman yang sangat memalukan, dia menulis ‘…. Thesis S2 Ki Imaduddin yg sampai sekarang wujud fisiknya masih ghoib, akan tetapi…’.
Jadi, di kepala si Habib yang bergelar Doktor itu, tesis haruslah berbentuk dokumen fisik tertulis jika tidak fisik tertulis maka bukan tesis. Kalimatnya itu juga memframing Kyai Imad di hadapan publik (awam) bahwa tesis Kyai Imad tidak pernah dicetak atau dipublilkasikan. Jelas itu salah total. Maka mungkin maksud si Habib itu adalah tesis harus diprint, dijilid, diujikan dan diluluskan oleh para penguji di kampus. Sebuah kedunguan pemahaman.
Tulisan Dr. Habib Ali Baqir al-Saqqaf ’…. thesis S2 Ki Imaduddin yg sampai sekarang wujud fisiknya masih ghoib, akan tetapi…’. merupakan statement yang menunjukkan gelar Doktornya patut sangat diragukan keabsahan proses perolehannya dan butuh diteliti betul dari universitas mana dia memperoleh gelar Doktornya itu.
PEMAHAMAN KLAN HABIB BAALWI TENTANG TESIS
Selain betapa sangat memalukannya pemahaman Dr. Habib Ali Baqir al-Saqqaf mengenai tesis, Klan Habib Baalwi lainnya dan para budaknya juga menunjukkan ketidakpahaman yang sama. Mereka umumnya mengatakan seperti ini:
“itu testis—kalau tesis, diuji di kampus mana, siapa pengujinya!?”
“saya tanya kau buat skripsi ada dosennya, ini dosennya Imad siapa?”[1]
“Karya Kyai Imad itu bukan tesis… Masalahnya di perguruan tinggi itu tidak jadi skripsi, tidak jadi tesis kalau belum teruji, belum diakui…”[2]
…Imad bisa apa kok ngaku-ngaku tesis?[3]
Rhoma Irama mengatakan Rizieq Shihab mengatakan tentang tesis Kyai Imad:
…antum (HRS) juga kan pernah bilang bahwa tesis Kiai Imad itu bukan tesis. Kalau tesis itu harus diuji di universitas…[4]
Budak habib yang juga dedengkot NUGL, KH. Luthfi Bashori, berapi-api di media sosial berkata sebagaimana berikut:
… Nah, ini yang saya tahu bahwa mereka ini melakukan penelitian termasuk tesis itu adalah semua ada ujiannya. Maka ayo ditanya di manakah kampus yang menguji tesis yang membatalkan nasab Baalwi dan siapa pengujinya? Tentu ini tidak akan ditemukan. Berarti tesis tersebut adalah tesis yang hox, tesis yang batal, tidak bisa dijadikan pegangan oleh umat Islam[5].
Budak habib bernama KH. Abdurrahman Bustomi mengatakan:
…Makanya saya bilang di sana di pengajian kantong plastik diisi sosis sosisnya dipotong-potong ente jangan dong bohong pakai tesis, tesisnya juga dapat nyolong…[6]
Ada kalimat ejekan lain dari Habib Rizieq Shihab yang dilontarkan tak berapa lama sejak tesis Kyai Imad meledak dan mengguncang publik: “tesis kandang kebo! Iyeee!”
Dari ucapan ‘tanda kutip tesis’ yang bermaksud bahwa tesis Kyai Imad bukanlah tesis, Habib Hanif Alatos menunjukkan dirinya juga tidak mengerti apa itu tesis ketika berceloteh di kantor Rabithah Alawiyah (RA)[7], kandang para imigran Yaman Klan Habib Baalwi.
AAGuruTiGarut, seorang pengidap gangguan kepribadian, mengatakan ‘tesis abal-abal’, ‘katanya tesis’ atau ‘kliping’ kepada tesis Kyai Imad[8]. Pengidap gangguan kepribadian itu berlagak intelek, sok ngerti dan sok sophisticated dengan mengatakan hal lebih bodoh lagi daripada budak lainnya:
… Pak Bahlil itu membuat disertasi untuk gelar doktoralnya dan disuruh direvisi mungkin atau disuruh untuk mengulangi entahlah apa yang disuruhnya itu oleh UI dengan permintaan maaf… Pak bahlil itu bagus sekali responnya ya kalau saya adalah mahasiswa, mahasiswa Universitas Indonesia dan apa yang dikatakan oleh UI saya ikut begitu. Itu responnya Pak Bahlil ya ini menunjukkan ada satu kultur intelektual ya kultur edukasi yang mana seseorang itu tidak bisa secara serta merta mengeluarkan buah pikirannya… Saya mau melihat dulu kultur edukasinya, kultur intelektualnya, jadi tatkala kita masuk ke dalam ranah intelektual itu kita sudah masuk kepada ranah yang memiliki aturan, jadi tidak bisa seseorang itu seenaknya mengatakan bahwa ini adalah disertasi atau ini adalah tesis. Nah makanya tatkala satu ide diajukan sebagai skripsi begitu ya atau sebagai tesis atau sebagai disertasi itu pasti harus melalui tahapan ujian dulu, itu harus diuji dulu dan yang paling penting di dalam menguji itu kan metodologinya, metodologi di dalam menyusun paper itu itu yang paling penting… Nah ini menarik dilihat karena hal ini tidak berlaku untuk Imaduddin… ini tidak berlaku, jadi tiba-tiba Tesis Tesis Tesis begitu ya. Yang mana pengikut-pengikut buah pikirannya Imad ini saya itu enggak mengerti mereka itu, belum pernah diteliti juga ya apa kapasitas intelektualnya sampai mana belum pernah diteliti juga, cuman kalau yang saya lihat kita lihat dari segi pesantrenanlah begitu ya itu enggak ada ilmunya pengikut-pengikutnya imad itu atau kalau pun ada ilmunya itu dalam kasus ini mereka itu salah berpikir karena itu ya sudah saya jelaskan dari awal sudah salah begitu…[9]
Rumail Abbas mendemonstrasikan kedustaan pengakuannya sebagai S2 dan historian yang diekspos oleh Dr. Sugeng Sugiharto. Dia mengatakan:
…sejak dulu 2 tahun terakhir bicara tentang tesis tesis tapi saya belum pernah sekalipun melihat yang diucapkan sebagai tesis diuji dalam sidang yang lebih akademik, perkenalkan saya Ramli’…[10]
Habib Syehrel menuliskan: tesis lucu kok dipercaya, tesis ilmiah kok gak diuji[11]—di youtubenya.
Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan lain yang menunjukkan mereka semuanya senada memahami ‘tesis’ yaitu harus diuji di kampus, kalau lulus, maka sah dikatakan tesis. Sungguh menyedihkan sekali tingkat literasi dan pemahaman Klan Habib Baalwi dan para budaknya.
Mari saya ajari Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya tentang Tesis.
PEMBAHASAN: APA ITU TESIS
Penulis tidak menerangkan penjelasan teoritis tentang apa itu Tesis atau Tesis dalam dialektika Hegel—atau pun definisinya. Pada kesempatan kali ini penulis langsung menyajikan contoh penggunaan terma ‘Tesis’.
Tesis Positivisme
Hal 69. Literatur “Filsafat Ilmu: Positivisme, PostPositivisme, dan PostModernisme”. Edisi II Cetakan I tahun 2001, Prof. Dr. H,. Noeng Muhajir, Guru Besar Pasca Sarjana dalam Ilmu Filsafat, Penelitian, dan Kebijakan. Penerbit RAKESARASIN, Yogyakarta. Dituliskan:
Tesis positivisme adalah: bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek di belakang fakta, menolak segala penggunaan metode di luar yang digunakan untuk menelaah fakta.
Makna kata ‘tesis’ di situ adalah pandangan yang berprinsip pada positivisme.
Tesis Benturan Peradaban Huntington
Di literatur The Clash of Civilization and The Remaking of World Order, Samuel P. Huntington, 1993. Edisi bahasa Indonesia oleh Penerbit Qalam, cetakan ketiga, Mei 2002. Yogyakarta. Dituliskan:
Sejak publikasinya yang pertama dalam bentuk artikel di Majalah Foreign Affairs Musim Panas 1993, terlebih setelah dikembangkan menjadi sebuah buku dan dialihbahasan ke dalam puluhan bahasa — seperti yang ada di tangan Anda ini — tesis benturan antarperadaban ala Huntington telah mengundang begitu banyak kontroversi dari dunia internasional. Sejak saat itu, Huntington masuk dalam daftar intelektual dunia paling berpengaruh yang menentang arus common-senses. (Pengantar Penerbit, hal vii, paragraf 1).
Di negara asalnya saja, tesis Huntington dikritik habis-habisan terutama oleh pakar-pakar sosial dari beragam sudut pandang. Asumsi, model, dan datanya dicermati, hingga posisi keintelektualannya pun sempat digugat. Pada dasarnya yang menjadi titik sorot kritikan-kritikan mereka, terutama, terkait dengan signifikansi tesis tersebut terhadap sensitivitas persoalan agama, budaya, dan debat politik yang memanas pasca-perang dingin. Gayung pun bersambung, Huntington menjawab semua kritikan tersebut. (Hal vii-viii)
Atas semua stigma itu, Huntington tidak serta merta menerimanya. Dari paparan jawabannya atas kritikan tersebut, kentara sekali ia masih mengunggulkan tesis benturan antarperadabannya sebagai sebuah paradigma yang tetap reliable dan valid sebagai saran yang ketajaman analisisnya masih bisa diandalkan untuk menerangkan fenomena politik dunia global kontemporern dan masa depan. Tidak hanya bersikukuh dengan tesisnya itu, Huntington bahkan melakukan serangan balik. Ia menegaskan bahwa semua kontroversi dan kritikan pada dirinya itu sebenarnya muncul dari mereka yang kurang atau bahkan tidak ‘ngeuh’ akan zamannya. Ketidakpekaan pada — meminjam istilah Habermas — zeitgest atau ruh zaman itulah yang kemudian membuat mereka terjebak melakukan penafsiran yang keliru dan terkesan berlebihan atas apa yang ditawarkan Huntington. (Hal viii)
Klan Habib Baalwi dan budaknya, perhatikan dengan seksama: tesis Huntington merupakan artikel di majalah.
Tesis Pancasila Kyai As’ad
Di Hal 66. Buku ‘Gus Dur, NU, dan Masyarakat Sipil’. Bab ‘Konjungtur Sosial Politik di Jagat NU Paska Khittah 16 (Pergulatan NU Dekade 90-an)’. Martin Van Bruinessen. Penerbit LKiS Yogyakarta bekerjasama dengan Pustaka Pelajar Yogyakarta. Cetakan 1 November 1994. Dituliskan:
Di tengah kondisi yang demikian krisis, kegelisahan dirasakan di mana-mana ini, tokoh-tokoh NU berperan menentramkan kegelisahan masyarakat. Pertama, Kiai As’ad Syamsul Arifin mengeluarkan satu tesis penting bahwa Pancasila itu sama dengan Tauhid karena sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, bagi umat Islam wajib hukumnya menerima Pancasila. Sejak memunculkan fatwa tentang tesis Pancasila adalah tauhid, pamor Kiai As’ad melonjak dalam pelataran peta politik di Indonesia. Dari kiai daerah yang semula tidak begitu banyak dikenal, berkat liputan pers, Kiai As’ad dikenal masyarakat luas. Beberapa kali pertemuannya dengan Presiden Soeharto, ia mendapat liputan yang sangat besar.
Jika mengikuti pemahaman Klan Habib Baalwi dan para budaknya maka muncul pertanyaan bodoh semacam ini: kapan Kyai As’ad menulis tesis itu, di kampus apa, diuji oleh Doktor atau Profesor siapa? Mana dokumen fisik tesisnya? Mana rumusan permasalahannya? Menggunakan metode apa? Atas dasar apa seorang Martin van Bruinessen menyematkan kata ‘tesis’ terhadap penjelasan Kyai As’ad itu? Klan Habib Baalwi dan budaknya: Ayo jawab pertanyaan itu!
Untuk menghindari penggunaan kata ‘goblok!’ Penulis katakan begini saja: orang-orang yang bertanya seperti di atas pada tesis Pancasila Kyai As’ad adalah orang-orang yang sama sekali tidak memahami hakikat makna dan definisi operasional term tesis; sebagaimana dipertontonkan Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya.
TESIS DI BERBAGAI BIDANG
Term ‘tesis’ biasa digunakan di berbagai bidang secara meluas. Berikut ini contohnya.
Begawan investasi Indonesia, Joeliardi Sunendar, hampir pada setiap analisisnya menggunakan term ‘tesis’. Big Alpha menggunakan kata ‘tesis’. Di email-email Stockbit, sebuah aplikasi investasi, dan analis investasi biasa menggunakan term ‘tesis’.

Tempo menggunakan term ‘tesis’ kepada pendapat, pandangan atau kesimpulan Fadli Zon di bukunya Politik Huru-Hara 1998.

Timothy Ronald dan Deddy Corbuzier di podcastnya:
…in case ini hilang 5% Ya udah tapi kalau 5% ini naik dan tesisnya benar, jadi 50 kali…[12]
Seorang investor sekaligus youtuber, Leon Hartono, menggunakan term ‘tesis’ di podcastnya:
…tesis bahwa ini berpotensi hit jadi 40.000 kan…[13]
…jadi tesisnya lu kalau misalnya kepentingan ownernya adalah…[14]
…tergantung dari lu punya investment tesis…[15]
Investor-investor lain podcast bersama Leon Hartono mengatakan:
…gua punya tesis sendiri, Bro. Dan ini bukan angka atau kapan. Ini Bitcoin dalam skala logaritmik. All time high biasanya pada saat di garis merah kira-kira 400 sampai 500.000. Tapi di tahun 2022 itu akhir dari era easy money. So, my tesis kita enggak akan sampai all time high di garis merah[16].
… Karena banyak teman yang market maker yang tesis saya semua tuh rata-rata benar gitu ya[17].
Jie Kusumo, investor dan YouTuber:
…tesis kita adalah market akan ke bawah dan ternyata benar ya marketnya ke bawah dan sekarang tesis saya adalah ke bawahnya cuman segini nih…[18]
Rocky Gerung di sebuah acara bersama Dr. Bagus Muljadi:
…mana mungkin tesis ditantang oleh antitesis dari luar, dialektika artinya tesisnya sendiri memberi sinyal bahwa perlu antitesis dari dalam dirinya…[19]
Rocky Gerung di GMN Forum 15 Juni 2025 Timor Leste:
…dia menulis disertasi, selesai. Kemarin dia pidato guru besar, saudara Robertus Robert, teman saya temannya Salsa, dia bikin tesis baru: kita harus mulai mengubah emansipasi menjadi ekosipasi, emansipasi itu adalah hak manusia untuk diperlakukan setara. Ekosipasi artinya alam menuntut juga kesetaraan dengan kebutuhan manusia. Jadi paradigm shift dirubah paradigmanya dari emansipasi yang sangat antropologis, sangat berbasis pada kepentingan manusia pergi pada ekosipasi yang sangat peduli pada ekologi itu[20].
Prof. Dr. Ahmad Zahro:
… bahwa secara akademik ilmiah itu dahsyat sekali, sayangnya itu hanya untuk penelitian magiste kayaknya tesis ya, itu andai kata digunakan disertasi pun menjadi disertasi yang sangat unggul. Saya itu sudah membing puluhan Doktor saya belum pernah ketemu orang yang meneliti sehebat kiai imaduddin itu dahsyat luar luar biasa meneliti dari abad 3 Hijriah kitab-kitab lacak semuanya Allahu akbar Saya kagum dengan ketelatenan kemampuan kemauan itu dan hasilnya ternyata teruji. Soal setuju gak setuju terserah tapi secara akademik teruji…[21]
Seorang kader Gerindra menjelaskan tesis di balik berdirinya Partai Gerindra:
…partai Gerindra ini didirikan karena ada rasa tidak terima dari kita para pendiri-pendiri ini bahwa kok bangsa ini bangsa yang kaya bangsa yang besar tapi keadaannya miskin, sebenarya tesis ini juga berasal pemikiran Pak Prabowo jauh sebelum partai Gerindra berdiri…[22]
Gus Yahya, Ketum PBNU, menggunakan term tesis:
…saya menolak tesis yang mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama ini didirikan sebagai tanggapan atas menangnya Wahabi di Hijaz, saya tolak itu…[23]
Qodari di ILC:
… gini loh, fenomena sosial itu variabel penjelasnya enggak pernah satu. Ada beberapa variabel. Apa ya? Pengaruh Pak Jokowi, pengaruh mesin politik. Loh, gini loh, tesisnya Anda mengatakan tidak naik. Saya katakan naik…[24]
Felix Siauw, dedengkot HTI:
… tesisnya bukan karena mereka jahat. Tapi mereka bisa berkompetisi dengan sengit…[25]
Rizieq Shihab sendiri suatu waktu pernah berceramah mengatakan ‘tesis HTI tentang Khilafah’:
Hanya saja kita di Front Pembela Islam menginginkan tesis soal khilafah yang sudah begitu bagus, yang sudah begitu luar biasa, di dalam pelaksanaan untuk mewujudkannya jangan kita menolak kenyataan yang ada. Artinya begini, jangankan menyatukan seluruh dunia Islam di bawah satu khilafah, menyatukan Malaysia sama Indonesia aja setengah mati…[26]
Coba tunjukkan di kampus mana tesis khilafah HTI diuji dan diluluskan? Siapa saja nama pengujinya?
Ini intermezzo saja, Rizieq Shihab tentang isu ijazah Jokowi:
…Sebab ini kan penelitian ilmiah yang mesti dibuktikan, bukan dikriminalisasi. Masa penelitian ilmiah dikriminalisasi dilaporkan sebagai bentuk fitnahlah yang menyebarluaskan kebencian. Enggak begitu.[27]
Rizieq Shihab dan habib lain sudah terbiasa munafik. Untuk urusan Rismon yang menuntut ijazah Jokowi dia bilang begitu, untuk kasus tesis Kyai Imad dia menyebutnya sebagai fitnah kepada Klan Habib Baalwi.
Cania Citta:
… tulisan argumentatif intinya terdiri atas dua hal aja. satu, ide yang mau dibela, bisa disebut tesis. dua, penjelasan buat ngebela ide itu, yang bisa nunjukin bahwa idenya benar…[28]
Tesis Sandiaga Uno:
… memang dalam tesis saya waktu saya masuk di politik membantu pemerintahan dan ikut pernah menjadi oposisi pada saat itu terus ada di pemerintahan… Salah satu tugas terberat yang harus diselesaikan oleh pemerintahan kita adalah menciptakan peluang lapangan kerja. Karena lapangan kerja ini kan kita ada cuman ada dua di dalam ekonomi kita itu paling gampang sih dijelaskan pendapatan sama pengeluaran. Ini saya pengin fokus gimana caranya ningkatin pendapatan masyarakat yaitu dengan membuka peluang usaha dan lapangan kerja[29].
Dr. Syafiq Hasyim mengomentari Polemik Trans7 dan Pesantren Lirboyo:
…Ketika sudah melibatkan judgement dan pesantren juga membalasnya, maka anggap saja ini merupakan proses tesis antitesis yang biasa saja…[30]
Jendral (Purn) AM Hendropriyono, Guru Besar Sekolah Intelijen Negara:
Keinginan tersebut terkait dengan waktu kehadiran para Habib Arab, yang berperilaku rasis di zaman ini, yang merendahkan martabat para Kyai sebagai pemimpin umat Islam pribumi sejak zaman Wali Songo abad ke 14.
Sudah mulai nampak reaksi dari segolongan masyarakat pribumi, terhadap kelakuan para oknum Habib tersebut, yang dirasakan telah sangat merendahkan harkatp bangsa.
Jika Rasisme para oknum kaum Arab di Indonesia ini merupakan suatu tesis sosial, maka dalam teori dialektika Hegel, akan terjadi antitesisnya berupa rasialisme kaum pribumi, yang berbahaya bagi persatuan nasional.
Persatuan Indonesia akan menuntut: Indonesia untuk bangsa Indonesia !
Saya sudah memberikan banyak contoh tesis. Sampai di sini: para Imigran Yaman dan budak-budaknya sudah paham belum tentang kebodohan kalian sendiri dalam memahami apa itu tesis? Belum ya?
Mari kita ke dialektika Hegel.
DIALEKTIKA HEGEL[31]
Munculnya dialektika dari filsafat Hegel dilatarbelakangi oleh pemikiran filsafat yang mendahuluinya, yaitu dari Fichte yang bercorak idealisme subjektif oleh Hegel diposisikan sebagai ‘tesis’ dan dari Schelling yang bercorak idealisme absolut oleh Hegel diposisikan sebagai ‘antitesis’. Dari dua pandangan yang sama-sama ekstrem ini, Hegel bermaksud mengatasi kedua sistem itu dengan memperdalam ‘sintesis’ (hal. 146).
Proses dialektika yang diajarkan Hegel terdiri atas tiga fase, yaitu fase pertama ‘tesis’ yang menampilkan lawannya ‘antitesis’ sebagai fase kedua dan akhirnya timbullah fase ketiga yang memperdamaikan fase pertama dan kedua, yaitu ‘sintesis’. Dalam sintesis itu, tesis dan antitesis menjadi aufgehoben yang mengandung tiga arti, yaitu (1) mengesampingkan (misalnya suatu undang-undang dikesampingkan); (2) merawat, menyimpan, jadi tidak ditiadakan, melainkan dirawat dalam suatu kesatuan yang lebih tinggi dan dipelihara; (3) ditempatkan pada dataran yang lebih tinggi, yang keduanya (tesis dan antitesis) tidak lagi berfungsi sebagai lawan yang saling mengucilkan. Dari tiga arti itu, dapat dijelaskan secara singkat bahwa kebenaran yang terkandung dalam tesis dan antitesis tetap disimpan dalam sintesis, tetapi dalam bentuk yang lebih sempurna (hal.147).
Dalam proses dialektika itu alur geraknya akan berlangsung terus-menerus tanpa henti. Sintesis yang telah dihasilkan dapat menjadi tesis baru yang melahirkan antitesis baru lagi dan akhirnya kedua-keduanya dapat diperdamaikan menjadi sintesis baru pula. Oleh karena itu, proses dialektika ini sebaiknya dikiaskan dengan gerak spiral dan bukan dengan gerak garis lurus (hal. 147).
Sebenarnya, dalam hidup sehari-hari, kita banyak mencerminkan apa yang dimaksudkan oleh Hegel itu. Suatu pandangan ekstrem ke kanan menimbulkan suatu reaksi ekstrem ke kiri yang kemudian melahirkan suatu kompromi sebagai penyelaras dari keduanya yang dimaknai dengan pandangan moderat (hal. 147).
Hegel memberikan contoh menyangkut tiga bentuk negara: diktator (tesis), anarki (antitesis), dan diperdamaikan dalam suatu sintesis ‘demokrasi konstitusional’. Dalam bentuk negara yang ketiga ini kebebasan para warga negara dijamin, dibatasi oleh undang-undang dasar, dan hidup kemasyarakatan berjalan dengan memuaskan (sintesis). Dalam demokrasi konstitusional, maka kedua bentuk lain sudah lewat, ditiadakan atau sudah tidak ada lagi. Dalam kondisi seperti itu berarti juga bahwa apa yang bernilai dalam diktator dan anarki masih disimpan pada taraf lebih tinggi dalam demokrasi konstitusional. Yang bernilai dalam diktator ialah hidup kemasyarakatan yang teratur dan yang bernilai dalam anarki ialah kebebasan. Dengan demikian, kedua-duanya disimpan dalam demokrasi konstitusional sedemikian rupa sehingga sudah diperdamaikan satu sama lain.
Contoh kedua menyangkut tiga konsep yang sering dipakai dalam filsafat, yaitu ‘yang ada’, ‘yang tidak ada’, ‘menjadi’. Gerak dari ‘yang tidak ada’ menuju kepada ‘yang ada’ ini disebut ‘menjadi’. ‘Yang ‘ada’ sebagai wujud tesis, dan ‘yang tidak ada’ sebagai wujud antitesis, maka ‘menjadi’ adalah sebagai wujud sintesisnya sebab di dalam ‘menjadi’ itu keduanya baik ‘yang ada’ maupun ‘yang tidak ada’ dipersatukan dalam tataran yang lebih tinggi. Apa yang sedang ‘menjadi’ belum mencapai tujuannya. Meskipun demikian, apa yang sedang ‘menjadi’ tidak dapat dikatakan bahwa itu ‘yang tidak ada’. Pengertian ‘menjadi’ melahirkan pengertian ‘yang dijadikan’. Dengan demikian, ‘yang ada’ secara umum tadi karena ‘menjadi’ dibatasi, berada sebagai ‘yang terbatas’. Adanya sesuatu yang terbatas mengandaikan adanya sesuatu ‘yang tidak terbatas’. Jadi, tesis ‘menjadi’ menimbulkan antitesis ‘yang dijadikan’ atau ‘yang berada’, yang kemudian menghasilkan sintesis ‘yang tidak terbatas’. Demikian seterusnya (hal. 148).
Contoh ringan dapat dijumpai di percakapan sehari-hari. Ayah menentukan liburan keluarga ke Paris dengan argumentasi A, B, C, D. Pernyataan Ayah ini berada di permukaan keadaan yang seolah-olah nampak sudah mapan diterima oleh anggota keluarga lainnya dan itulah yang akan berlaku. Itu posisi tesis. Anggota keluarga lainnya sebenarnya tidak setuju tapi tidak bersuara sehingga keadaan yang mapan adalah keputusan Ayah. Maka yang berposisi tesis tetap keputusan Ayah meski hati orang-orang tidak setuju. Ibu kemudian bersuara mengajukan liburan ke London dengan argumentasi A, B, C, D. Itu posisi antitesis. Antara pernyataan ‘ke Paris’ vs ‘ke London’ akan terjadi perdebatan atau dialog atau dialektika atau diskusi antara Ayah, Ibu serta anggota keluarga lainnya. Bagaimana pun hasil kesepakatannya, bisa dikatakan itulah sintesis.
TESIS DALAM TEKS EKSPOSISI
Teks eksposisi adalah jenis teks yang bertujuan untuk memberikan informasi atau penjelasan tentang suatu topik secara objektif, logis, dan sistematis. Teks eksposisi biasanya digunakan dalam bidang akademik, ilmiah, atau sosial. Struktur teks eksposisi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: tesis, argumentasi, dan penegasan ulang[32].
Tesis adalah bagian pertama dari teks eksposisi yang berisi pernyataan umum tentang topik yang akan dibahas. Tesis berfungsi untuk menarik perhatian pembaca dan memberikan gambaran singkat tentang isi teks.
Pernyataan pendapat atau tesis; adalah bagian pembuka dari teks eksposisi berisi pernyataan pendapat atau permasalahan yang ingin disajikan penulis[33].
Argumentasi adalah bagian kedua dari teks eksposisi yang berisi penjelasan atau pembuktian tentang tesis yang telah disampaikan. Argumen berfungsi untuk meyakinkan pembaca tentang kebenaran atau kepentingan topik yang dibahas. Argumen dapat berupa fakta, data, contoh, opini, atau analogi.
Penegasan ulang adalah bagian ketiga dan terakhir dari teks eksposisi yang berisi simpulan atau kesimpulan dari tesis dan argumen yang telah disampaikan. Penegasan ulang berfungsi untuk mengulangi atau memperkuat pesan utama dari teks dan memberikan rekomendasi atau saran kepada pembaca.
EPILOG
Jadi begitulah makna, hakikat, definisi operasional, praksis serta pemakaian kata ‘Tesis’.
Dengan penjelasan ini mudah-mudahan Klan Habib Baalwi dan para budaknya menjadi mengerti meski sedikit; setidaknya bisa berhenti mempertontonkan kebodohannya dalam memahami apa itu tesis. Jika tak kunjung juga mengerti mengenai apa itu tesis, Klan Habib Baalwi dan budaknya lakukan mubahalah saja yang banyak. Saya butuh banyak data mengenai itu.
Tulisan ini juga mudah-mudahan dapat membantu mempermudah pribumi Nusantara tatkala bertemu dengan Klan Habib Baalwi dan budaknya yang mengungkit-ungkit status tesis Kyai Imad bahwa harus lulus uji di kampus, di kampus mana, siapa pengujinya. Kalau masih ada perilaku begitu, tinggal kirim link tulisan ini beres.
Referensi-referensi:
[1] https://youtu.be/PfGQdZaq9sg?si=-1RR6LPr3YGtGLcU
[2] https://youtu.be/JMgkYvfBi6Q?si=4WFsQX8SHYfC5HaW&t=1009
[3] https://youtu.be/bor68KOc-Qk?si=b-vOA1IcTGXpOgc2&t=70
[4] https://youtu.be/NmBS3AbuwRc?si=1kNFeqH10PiRalNv
[5] https://youtu.be/7jA9Q1Qdn6U?si=LToLrhPIn3Eju9FI
[6] https://youtu.be/sCTokCeuIXw?si=Bmj7HaesR2gNirnN
[7] https://youtu.be/aHdqVl1iHq4?si=HeY_8X4HnY6jo4aN
[8] https://youtu.be/HElmJ7wfWBs?si=9dN3_G1ckHmbkiU3 ; https://youtu.be/pcytNorz3dI?si=xAKrXs43uhGxZgqF
[9] https://youtu.be/Dvcyme6mHjk?si=Ev9e2CzlDn3_BoKl
[10] https://youtu.be/JN63AbmPaQE?si=8yuhgj2BQEO5TKnE
[11] https://youtu.be/0Zha973jhBA?si=yIqn8ipmsatMrb8g
[12] https://youtu.be/bJP-zG2q3JE?si=OqtZrPf_LXdN9f9M
[13] https://youtu.be/9oAFDe9-yV8?si=4G2orPZUJyahELQL
[14] https://youtu.be/1d_Paux43No?si=JyAvpTutymb86BVZ
[15] https://youtu.be/opcUsvZyfiM?si=34Y4z9N-cMqxmiUz
[16] https://youtu.be/avki-mLy_EI?si=-O17q9uOW4lL-dA9
[17] https://youtu.be/UX8en6YvliU?si=46pUC4XEMztMJ1NW
[18] https://youtu.be/QgjGwFWCyCc?si=9K7RyV72xq0E7BZZ
[19] https://youtu.be/5VbBv6bFRTc?si=PnDIKOyzys2iTT2g
[20] https://www.youtube.com/live/sFCwBeDm8wA?si=huO-OpoMi02mXcMY&t=7723
[21] https://youtu.be/36ySwXlRnQI?si=t49_69s1n8BA4I_6
[22] https://youtu.be/dgAHmfqPdlA?si=RpVG9zPAqMuZ6rrC
[23] https://youtu.be/hoHNkmIoATY?si=A-A9PKEDiVQV8X2M
[24] https://youtu.be/-NhTJ8XD8vM?si=8IKLYNEqLOkc4HiB
[25] https://youtu.be/hXokd8Rcu5I?si=S8__s3uiA8hLqJmP
[26] https://youtu.be/fuW9nkDLhs0?si=C91JXMZ7TsCjp2bB
[27] https://youtu.be/kXb3WyjccGk?si=XEMK2TKJNTcSg8So
[28] https://youtu.be/pZZCl-mnpCY?si=Zvec1hSjp50aUYdD&t=347
[29] https://youtu.be/fC7KjoV5qYc?si=EbVf9D7e1T_uA4_H
[30] https://youtu.be/zUIkKZCoQfk?si=omUgFclO8cmWr1m8
[31] https://media.neliti.com/media/publications/11805-ID-filsafat-dialektika-hegel-relevansinya-dengan-pembukaan-undang-undang-dasar-1945.pdf
[32] https://an-nur.ac.id/blog/struktur-teks-eksposisi-tesis-argumen-penegasan-ulang.html
[33] https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20240109145120-569-1047199/struktur-teks-eksposisi-secara-urut-dan-contohnya#:~:text=Berikut penjelasannya.-,1.,permasalahan yang ingin disajikan penulis.