• About Us
  • Privacy Policy
  • Contact
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Tekno
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Keislaman
Beranda Opini

Kenapa Teisme Lebih Rasional di Era Sains Modern: Suatu Telaah Perbandingan Ateisme, Buddhisme dan Islam

oleh Admin
14 November 2025
dalam Opini
Waktu baca: 5 menit baca
A A
0
BAGIKAN
10
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: R.Tb. M. Nurfadhil Satya S.Sos.,M.A (Ketua II PWI – LS Pusat)

Abstrak

Tulisan ini mengkaji rasionalitas teisme di era sains modern dengan membandingkan tiga kerangka berpikir besar: ateisme, etika-metafisika Buddhisme, dan teisme Islam. Dengan memadukan dalil naqli, aqli, dan temuan ilmiah kontemporer, terutama kosmologi Big Bang dan Teorema Borde–Guth–Vilenkin (BGV), tulisan ini menunjukkan bahwa alam semesta memiliki permulaan yang secara logis menuntut keberadaan Penyebab Awal (First Cause) yang non-materi, kekal, Mahacerdas, dan berkehendak. Karakteristik ini secara paling akurat sesuai dengan konsep Allah dalam Islam. Selain itu, artikel ini menegaskan bahwa al-Qur’an secara ilmiah telah mendahului penemuan modern tentang permulaan kosmos dan ekspansi alam semesta.

Pendahuluan

Perdebatan tentang asal-usul realitas dan eksistensi Tuhan tetap menjadi salah satu isu paling fundamental dalam filsafat dan sains kontemporer. Meskipun teknologi dan metodologi ilmiah berkembang pesat, pertanyaan “Mengapa ada sesuatu, bukan tidak ada sama sekali?” tetap tidak mampu dijawab oleh ateisme secara memadai.

Dalam konteks modern, ada tiga pendekatan besar:

1. Ateisme Materialis – menyatakan bahwa realitas hanyalah materi dan proses alamiah tanpa penyebab transenden.

2. Buddhisme – tidak menekankan konsep Tuhan pencipta, tetapi membangun etika universal dan metafisika ketidakkekalan (anicca), ketidakterikatan (anatta), dan sebab-akibat (pratityasamutpada).

3. Teisme Islam – menegaskan bahwa alam semesta bermula, bergantung, dan diciptakan oleh Zat yang Wajib al-Wujud, Maha Esa, dan transenden.

Perbandingan ketiganya membuka kemungkinan untuk menilai pendekatan mana yang paling konsisten dengan logika, pengalaman, dan sains modern.

Ateis Materialis dan Kegagalannya Menjelaskan Asal-Usul Alam

Ateisme modern berpijak pada tiga premis utama:

  • Alam semesta tidak memerlukan pencipta
  • Semua fenomena adalah hasil hukum alam
  • Kesadaran adalah produk otak semata

Namun ateisme mengalami kesulitan berat dalam menjawab tiga problema filosofis dan ilmiah berikut:

1. Masalah asal-usul eksistensi

Ateis harus memilih salah satu posisi yang secara rasional bermasalah:

  • Alam muncul dari ketiadaan absolut (impossible causation)
  • Alam abadi, tidak bermula (ditolak fisika modern)
  • Alam muncul tanpa sebab (bertentangan dengan akal sehat dan prinsip kausalitas)

Hukum kausalitas adalah dasar seluruh sains. Jika ateisme menolak kausalitas untuk asal-usul alam, maka seluruh bangunan sains runtuh.

2. Masalah keteraturan alam

Fisikawan Paul Davies menulis bahwa hukum-hukum alam tampak seperti “program matematis yang sangat presisi,” sehingga tidak mungkin muncul secara kebetulan.[^1]

3. Masalah kesadaran

Neurosains modern menunjukkan bahwa kesadaran tidak dapat direduksi sepenuhnya ke materi.[^2] Dengan demikian, ateisme gagal menjelaskan tiga realitas paling mendasar: eksistensi, keteraturan, dan kesadaran.

Buddhisme: Etika Universal yang Dapat Diterima, Namun Tidak Menjawab Pertanyaan Asal-Usul

Buddhisme mengajarkan moralitas universal, welas asih, disiplin batin, dan meditasi yang dapat diterima oleh teistik, agnostik dan ateistik. Karena etika Buddhis tidak bergantung pada konsep Tuhan Pencipta. Namun dalam pertanyaan kosmologi dan ontologi, Buddhisme awal mengajarkan siklus alam yang tanpa awal, atau setidaknya tidak menekankan satu momen penciptaan kosmos.[^3]

Masalahnya:
Sains modern telah menolak model alam yang abadi. Ini membuat Buddhisme secara metafisik netral, tetapi secara kosmologis kurang lengkap, karena tidak memberi jawaban tegas tentang asal mula keberadaan.

Sains Modern: Bukti bahwa Alam Semesta Memiliki Permulaan

1. Big Bang dan ekspansi alam semesta

Penemuan Edwin Hubble (1929) menunjukkan bahwa galaksi-galaksi saling menjauh. Ini berarti alam tidak statis, tetapi mengembang. Satelit COBE, WMAP, dan Planck meneguhkan bahwa alam bermula dari singularitas—permulaan ruang, waktu, materi, dan energi.[^4]

2. Teorema Borde–Guth–Vilenkin (BGV)

Tiga kosmolog (semuanya ateis) membuktikan:
“Setiap alam yang mengalami ekspansi rata-rata pasti memiliki permulaan.”[^5]

Penegasan Vilenkin:
“We have no choice, the universe had a beginning.”

3. Konsekuensi filosofis

Jika alam bermula → maka alam tidak abadi
Jika alam tidak abadi → maka alam bergantung
Jika bergantung → maka diperlukan Penyebab Awal yang:

  • tidak bermula
  • non-material
  • tidak berada dalam ruang dan waktu
  • memiliki kehendak (untuk memulai penciptaan)

Karakteristik ini identik dengan definisi Tuhan dalam teisme Islam.

Teisme Islam: Konsisten secara Naqli, Aqli, dan Ilmiah

Islam menawarkan jawaban paling lengkap dan konsisten dalam tiga level:
1. Dalil Naqli, Allah Berfirman:

  • “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan.” (QS. Al-Baqarah: 117)
  • “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan, dan sesungguhnya Kami meluaskannya.” (QS. Adz-Dzariyat: 47).

Ayat kedua dipahami sebagian mufasir modern sebagai isyarat ekspansi alam semesta, jauh sebelum Hubble menemukannya.

2. Dalil Aqli (Filosofis), para ulama kalam baik mazhab Sunni maupun Syiah membangun argumen kosmologis:

a. Dalil Huduts al-‘Alam (al-Ghazali, Fakhruddin ar-Razi, dan sebelumnya Imam Ja‘far ash-Shadiq)

  • Alam berubah
  • Yang berubah adalah hadits (baru)
  • Yang hadits memerlukan penyebab
  • Maka alam pasti memiliki Pencipta

b. Dalil Imkan (kemungkinan-kontingen)
Dikembangkan oleh Ibnu Sina, Nasiruddin Thusi, dan Mulla Sadra:

  • Alam ini mungkin ada, mungkin tidak
  • Sesuatu yang mungkin tidak mungkin menjadi sebab bagi dirinya
  • Maka pasti ada Wajib al-Wujud (Yang Mesti Ada)

3. Mukjizat Ilmiah al-Qur’an

Beberapa ayat terbukti konsisten dengan sains modern:
a. Alam bermula dari satu titik / kesatuan, “Apakah orang-orang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi dahulu ratqan (menyatu), kemudian Kami pisahkan?” (QS. Al-Anbiya: 30).
b. Ekspansi alam (cosmic expansion), “Dan sesungguhnya Kami meluaskannya.” (QS. Adz-Dzariyat: 47)
c. Segala sesuatu diciptakan dari air, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30). Ini adalah fakta biologis modern. Seluruh isyarat tersebut menunjukkan bahwa al-Qur’an bukan produk manusia abad ke-7, tetapi memiliki dimensi pengetahuan transenden.

Kesimpulan

Melalui perbandingan ateisme, Buddhisme, dan Islam, serta analisis ilmiah modern, dapat dirumuskan bahwa:

  1. Ateisme runtuh secara kosmologis, karena tidak mampu menjelaskan asal-usul eksistensi dan permulaan alam.
  2. Buddhisme kuat secara etik, tetapi tidak memberikan penjelasan final tentang Pencipta atau permulaan kosmos.
  3. Islam paling konsisten, baik secara wahyu (naqli), logika (aqli), maupun bukti ilmiah modern.

Penemuan sains abad ke-20–21 telah menguatkan kesimpulan klasik para teolog Islam: Alam bermula → maka pasti ada Pencipta Yang Maha Esa. Dengan demikian, teisme Islam bukan hanya sebuah keyakinan religius, tetapi posisi filosofis paling rasional dalam memahami realitas.

Artikel Terkait

POLEMIK TAMBANG NU: NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

Hikmah Perseteruan Rais Aam & Ketum PBNU: Pelajaran Tentang Husnudzon, Keadilan, dan Sikap Beragama

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

Penutup

Pada akhirnya, teisme Islam menunjukkan diri sebagai sistem pengetahuan yang rasional sekaligus supra-rasional. Islam tidak hanya mengajarkan kebenaran yang dapat dijangkau akal (rasional), namun juga kebenaran yang melampaui jangkauan akal namun tetap tidak bertentangan dengan akal (supra-rasional). Al-Qur’an ratusan kali mengajak manusia untuk tafakkur, tadabbur, tanzhir, dan nazhar—suatu indikasi bahwa wahyu harus dibaca dengan nalar ilmiah, bukan taklid buta.

Dalam konteks era sains modern, umat Islam dituntut untuk memadukan akal sehat, integritas ilmiah, dan keimanan wahyuni, agar tidak terjebak pada dua ekstrem:

  1. Materialisme-ateistik yang memungkiri dimensi ruhani manusia, dan
  2. Khurafat pseudo-religius yang mengatasnamakan agama namun tidak dapat diuji oleh akal, sejarah, atau sains.

Karena itu, umat Islam perlu waspada terhadap ajaran atau kelompok apa pun—termasuk dari kalangan yang mengklaim nasab tertentu semisal ajaran beberapa Habaib Ba’alwy —bila ajarannya memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip rasionalitas Islam, berpotensi menyimpang dari tauhid, atau menggunakan klaim silsilah, popularitas, dan “kesucian keturunan” sebagai alat legitimasi tanpa dasar ilmiah dalam ilmu nasab, sejarah kritis, maupun genetika populasi. Sikap kritis ini bukanlah bentuk kebencian, melainkan bagian dari amanah intelektual Islam: menjaga agama dari penyimpangan, menjaga umat dari manipulasi, dan menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk penyulapan spiritual yang tidak berdasar.

Dengan demikian, Islam menegaskan dirinya sebagai agama yang mendamaikan hati, menegakkan akal, menguatkan sains, dan membersihkan tradisi dari unsur yang tidak autentik. Di tengah dunia yang penuh kebingungan epistemologis, Islam menghadirkan jalan tengah: jalan wahyu yang diterangi akal, dan jalan akal yang dibimbing wahyu.

Daftar Pustaka (Footnote):

[^1]: Paul Davies, The Mind of God, Simon & Schuster, 1992.
[^2]: David Chalmers, The Conscious Mind, Oxford University Press, 1996.
[^3]: Richard Gombrich, What the Buddha Thought, Equinox, 2009.
[^4]: Stephen Hawking & George Ellis, The Large Scale Structure of Space-Time, Cambridge University Press, 1973.
[^5]: A. Borde, A. Guth, & A. Vilenkin, “Inflationary Spacetimes Are Not Past-Complete,” Physical Review Letters, 2003.

TerkaitArtikel

Opini

POLEMIK TAMBANG NU: NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

oleh Admin
25 Januari 2026
0
11

وَإِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُحِبُّ الدُّنْيَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ “ Jika engkau melihat seorang alim mencintai dunia, maka ketahuilah bahwa ia...

Baca lebihDetails

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

23 Januari 2026
3

Hikmah Perseteruan Rais Aam & Ketum PBNU: Pelajaran Tentang Husnudzon, Keadilan, dan Sikap Beragama

22 Januari 2026
1

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

22 Januari 2026
3

الاستفادة من الحمض النووي لنفي نسب الدخلاء على نسب النبي صلى الله عليه وسلم واجبة شرعا: رد الشيخ عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي على بعض قرارات مجلس المجمع الفقهي الاسلامي بمكة المكرمة بشأن البصمة الوراثية

12 Januari 2026
3

Mbah Hasyim Tidak Mempunyai Guru Ahmad Bin Hasan Al-Athas Ba’Alwi: Untuk Rumail Abbas

22 Desember 2025
2

Terbaru

Opini

POLEMIK TAMBANG NU: NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

oleh Admin
25 Januari 2026
0
11

وَإِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُحِبُّ الدُّنْيَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ “ Jika engkau melihat seorang alim mencintai dunia, maka ketahuilah bahwa ia...

Baca lebihDetails

POLEMIK TAMBANG NU: NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

Sowan CCKI ke Cidahu, Abuya Muhtadi Tegaskan: “Nggak Ada Habib Yang Cucu Nabi”

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

Haul ke-345 Raden Aria Wangsakara: Banten Bergema dengan Semangat Sang Pahlawan

Hikmah Perseteruan Rais Aam & Ketum PBNU: Pelajaran Tentang Husnudzon, Keadilan, dan Sikap Beragama

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

Prev Next

BeritaPopuler

Dilaporkan, Gus Fuad Banjir Dukungan Pribumi Nusantara

oleh Admin
30 Maret 2025
0
556

Panitia Haul Syekh Nawawi Al-Bantani ke-132: Tepis Isu Miring Didanai PIK 2

oleh Admin
24 April 2025
0
431

Rizieq Shihab Dilaporkan Ke Polres Banyuwangi

oleh Admin
14 April 2025
0
429

newsky.id

Copyright © 2025

Navigasi

  • Nasional
  • Tekno
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Keislaman

Ikuti Kami

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

Copyright © 2025