• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Opini

Kenapa Teisme Lebih Rasional di Era Sains Modern: Suatu Telaah Perbandingan Ateisme, Buddhisme dan Islam

Kenapa Teisme Lebih Rasional di Era Sains Modern: Suatu Telaah Perbandingan Ateisme, Buddhisme dan Islam
0
BAGIKAN
10
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: R.Tb. M. Nurfadhil Satya S.Sos.,M.A (Ketua II PWI – LS Pusat)

Abstrak

Tulisan ini mengkaji rasionalitas teisme di era sains modern dengan membandingkan tiga kerangka berpikir besar: ateisme, etika-metafisika Buddhisme, dan teisme Islam. Dengan memadukan dalil naqli, aqli, dan temuan ilmiah kontemporer, terutama kosmologi Big Bang dan Teorema Borde–Guth–Vilenkin (BGV), tulisan ini menunjukkan bahwa alam semesta memiliki permulaan yang secara logis menuntut keberadaan Penyebab Awal (First Cause) yang non-materi, kekal, Mahacerdas, dan berkehendak. Karakteristik ini secara paling akurat sesuai dengan konsep Allah dalam Islam. Selain itu, artikel ini menegaskan bahwa al-Qur’an secara ilmiah telah mendahului penemuan modern tentang permulaan kosmos dan ekspansi alam semesta.

Pendahuluan

Perdebatan tentang asal-usul realitas dan eksistensi Tuhan tetap menjadi salah satu isu paling fundamental dalam filsafat dan sains kontemporer. Meskipun teknologi dan metodologi ilmiah berkembang pesat, pertanyaan “Mengapa ada sesuatu, bukan tidak ada sama sekali?” tetap tidak mampu dijawab oleh ateisme secara memadai.

Dalam konteks modern, ada tiga pendekatan besar:

1. Ateisme Materialis – menyatakan bahwa realitas hanyalah materi dan proses alamiah tanpa penyebab transenden.

2. Buddhisme – tidak menekankan konsep Tuhan pencipta, tetapi membangun etika universal dan metafisika ketidakkekalan (anicca), ketidakterikatan (anatta), dan sebab-akibat (pratityasamutpada).

3. Teisme Islam – menegaskan bahwa alam semesta bermula, bergantung, dan diciptakan oleh Zat yang Wajib al-Wujud, Maha Esa, dan transenden.

Perbandingan ketiganya membuka kemungkinan untuk menilai pendekatan mana yang paling konsisten dengan logika, pengalaman, dan sains modern.

Ateis Materialis dan Kegagalannya Menjelaskan Asal-Usul Alam

Ateisme modern berpijak pada tiga premis utama:

  • Alam semesta tidak memerlukan pencipta
  • Semua fenomena adalah hasil hukum alam
  • Kesadaran adalah produk otak semata

Namun ateisme mengalami kesulitan berat dalam menjawab tiga problema filosofis dan ilmiah berikut:

1. Masalah asal-usul eksistensi

Ateis harus memilih salah satu posisi yang secara rasional bermasalah:

  • Alam muncul dari ketiadaan absolut (impossible causation)
  • Alam abadi, tidak bermula (ditolak fisika modern)
  • Alam muncul tanpa sebab (bertentangan dengan akal sehat dan prinsip kausalitas)

Hukum kausalitas adalah dasar seluruh sains. Jika ateisme menolak kausalitas untuk asal-usul alam, maka seluruh bangunan sains runtuh.

2. Masalah keteraturan alam

Fisikawan Paul Davies menulis bahwa hukum-hukum alam tampak seperti “program matematis yang sangat presisi,” sehingga tidak mungkin muncul secara kebetulan.[^1]

3. Masalah kesadaran

Neurosains modern menunjukkan bahwa kesadaran tidak dapat direduksi sepenuhnya ke materi.[^2] Dengan demikian, ateisme gagal menjelaskan tiga realitas paling mendasar: eksistensi, keteraturan, dan kesadaran.

Buddhisme: Etika Universal yang Dapat Diterima, Namun Tidak Menjawab Pertanyaan Asal-Usul

Buddhisme mengajarkan moralitas universal, welas asih, disiplin batin, dan meditasi yang dapat diterima oleh teistik, agnostik dan ateistik. Karena etika Buddhis tidak bergantung pada konsep Tuhan Pencipta. Namun dalam pertanyaan kosmologi dan ontologi, Buddhisme awal mengajarkan siklus alam yang tanpa awal, atau setidaknya tidak menekankan satu momen penciptaan kosmos.[^3]

Masalahnya:
Sains modern telah menolak model alam yang abadi. Ini membuat Buddhisme secara metafisik netral, tetapi secara kosmologis kurang lengkap, karena tidak memberi jawaban tegas tentang asal mula keberadaan.

Sains Modern: Bukti bahwa Alam Semesta Memiliki Permulaan

1. Big Bang dan ekspansi alam semesta

Penemuan Edwin Hubble (1929) menunjukkan bahwa galaksi-galaksi saling menjauh. Ini berarti alam tidak statis, tetapi mengembang. Satelit COBE, WMAP, dan Planck meneguhkan bahwa alam bermula dari singularitas—permulaan ruang, waktu, materi, dan energi.[^4]

2. Teorema Borde–Guth–Vilenkin (BGV)

Tiga kosmolog (semuanya ateis) membuktikan:
“Setiap alam yang mengalami ekspansi rata-rata pasti memiliki permulaan.”[^5]

Penegasan Vilenkin:
“We have no choice, the universe had a beginning.”

3. Konsekuensi filosofis

Jika alam bermula → maka alam tidak abadi
Jika alam tidak abadi → maka alam bergantung
Jika bergantung → maka diperlukan Penyebab Awal yang:

  • tidak bermula
  • non-material
  • tidak berada dalam ruang dan waktu
  • memiliki kehendak (untuk memulai penciptaan)

Karakteristik ini identik dengan definisi Tuhan dalam teisme Islam.

Teisme Islam: Konsisten secara Naqli, Aqli, dan Ilmiah

Islam menawarkan jawaban paling lengkap dan konsisten dalam tiga level:
1. Dalil Naqli, Allah Berfirman:

  • “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan.” (QS. Al-Baqarah: 117)
  • “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan, dan sesungguhnya Kami meluaskannya.” (QS. Adz-Dzariyat: 47).

Ayat kedua dipahami sebagian mufasir modern sebagai isyarat ekspansi alam semesta, jauh sebelum Hubble menemukannya.

2. Dalil Aqli (Filosofis), para ulama kalam baik mazhab Sunni maupun Syiah membangun argumen kosmologis:

a. Dalil Huduts al-‘Alam (al-Ghazali, Fakhruddin ar-Razi, dan sebelumnya Imam Ja‘far ash-Shadiq)

  • Alam berubah
  • Yang berubah adalah hadits (baru)
  • Yang hadits memerlukan penyebab
  • Maka alam pasti memiliki Pencipta

b. Dalil Imkan (kemungkinan-kontingen)
Dikembangkan oleh Ibnu Sina, Nasiruddin Thusi, dan Mulla Sadra:

  • Alam ini mungkin ada, mungkin tidak
  • Sesuatu yang mungkin tidak mungkin menjadi sebab bagi dirinya
  • Maka pasti ada Wajib al-Wujud (Yang Mesti Ada)

3. Mukjizat Ilmiah al-Qur’an

Beberapa ayat terbukti konsisten dengan sains modern:
a. Alam bermula dari satu titik / kesatuan, “Apakah orang-orang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi dahulu ratqan (menyatu), kemudian Kami pisahkan?” (QS. Al-Anbiya: 30).
b. Ekspansi alam (cosmic expansion), “Dan sesungguhnya Kami meluaskannya.” (QS. Adz-Dzariyat: 47)
c. Segala sesuatu diciptakan dari air, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30). Ini adalah fakta biologis modern. Seluruh isyarat tersebut menunjukkan bahwa al-Qur’an bukan produk manusia abad ke-7, tetapi memiliki dimensi pengetahuan transenden.

Kesimpulan

Melalui perbandingan ateisme, Buddhisme, dan Islam, serta analisis ilmiah modern, dapat dirumuskan bahwa:

  1. Ateisme runtuh secara kosmologis, karena tidak mampu menjelaskan asal-usul eksistensi dan permulaan alam.
  2. Buddhisme kuat secara etik, tetapi tidak memberikan penjelasan final tentang Pencipta atau permulaan kosmos.
  3. Islam paling konsisten, baik secara wahyu (naqli), logika (aqli), maupun bukti ilmiah modern.

Penemuan sains abad ke-20–21 telah menguatkan kesimpulan klasik para teolog Islam: Alam bermula → maka pasti ada Pencipta Yang Maha Esa. Dengan demikian, teisme Islam bukan hanya sebuah keyakinan religius, tetapi posisi filosofis paling rasional dalam memahami realitas.

Penutup

Pada akhirnya, teisme Islam menunjukkan diri sebagai sistem pengetahuan yang rasional sekaligus supra-rasional. Islam tidak hanya mengajarkan kebenaran yang dapat dijangkau akal (rasional), namun juga kebenaran yang melampaui jangkauan akal namun tetap tidak bertentangan dengan akal (supra-rasional). Al-Qur’an ratusan kali mengajak manusia untuk tafakkur, tadabbur, tanzhir, dan nazhar—suatu indikasi bahwa wahyu harus dibaca dengan nalar ilmiah, bukan taklid buta.

Dalam konteks era sains modern, umat Islam dituntut untuk memadukan akal sehat, integritas ilmiah, dan keimanan wahyuni, agar tidak terjebak pada dua ekstrem:

  1. Materialisme-ateistik yang memungkiri dimensi ruhani manusia, dan
  2. Khurafat pseudo-religius yang mengatasnamakan agama namun tidak dapat diuji oleh akal, sejarah, atau sains.

Karena itu, umat Islam perlu waspada terhadap ajaran atau kelompok apa pun—termasuk dari kalangan yang mengklaim nasab tertentu semisal ajaran beberapa Habaib Ba’alwy —bila ajarannya memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip rasionalitas Islam, berpotensi menyimpang dari tauhid, atau menggunakan klaim silsilah, popularitas, dan “kesucian keturunan” sebagai alat legitimasi tanpa dasar ilmiah dalam ilmu nasab, sejarah kritis, maupun genetika populasi. Sikap kritis ini bukanlah bentuk kebencian, melainkan bagian dari amanah intelektual Islam: menjaga agama dari penyimpangan, menjaga umat dari manipulasi, dan menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk penyulapan spiritual yang tidak berdasar.

Dengan demikian, Islam menegaskan dirinya sebagai agama yang mendamaikan hati, menegakkan akal, menguatkan sains, dan membersihkan tradisi dari unsur yang tidak autentik. Di tengah dunia yang penuh kebingungan epistemologis, Islam menghadirkan jalan tengah: jalan wahyu yang diterangi akal, dan jalan akal yang dibimbing wahyu.

Daftar Pustaka (Footnote):

[^1]: Paul Davies, The Mind of God, Simon & Schuster, 1992.
[^2]: David Chalmers, The Conscious Mind, Oxford University Press, 1996.
[^3]: Richard Gombrich, What the Buddha Thought, Equinox, 2009.
[^4]: Stephen Hawking & George Ellis, The Large Scale Structure of Space-Time, Cambridge University Press, 1973.
[^5]: A. Borde, A. Guth, & A. Vilenkin, “Inflationary Spacetimes Are Not Past-Complete,” Physical Review Letters, 2003.

Terkait Kiriman

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Ini Sangsi Yang Akan Diterima Oknum Polres dan Jaksa Jika Paksakan RJ Dalam Kasus Pengeroyokan Oleh Bahar Smith Terhadap Anggota Banser

6 Maret 2026
Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

3 Maret 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Melepas Bahar Smith Polres Metro Tangerang Kota Ada Apa?

3 Maret 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Alidin Assegaf Tegas Walisongo Dan Keturunannya Bukan Marga Habib B Alwi: Riziq Syihab Tetap Mengemis Keturunan Walisongo Agar Percaya Bahwa Mereka Adalah Ba Alwi

24 Februari 2026
Karya KH Imaduddin Utsman VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

Karya KH Imaduddin Utsman VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

22 Februari 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

18 Februari 2026

Info Baru Lainnya

Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

PD DMI Kab. Serang Buka Posko Mudik 1447 H di Alun-Alun Kramatwatu, KH Bunyamin Hafiz: Dari Masjid untuk Indonesia

14 Maret 2026
Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

14 Maret 2026
PWI LS Purwokerto Kidul dan Pemuda Pancasila Gelar Aksi Berbagi Takjil di Banyumas

PWI LS Purwokerto Kidul dan Pemuda Pancasila Gelar Aksi Berbagi Takjil di Banyumas

13 Maret 2026
Tokoh, Ulama dan Budayawan Banten Gelar Buka Bersama di Ponpes NU Cempaka

Tokoh, Ulama dan Budayawan Banten Gelar Buka Bersama di Ponpes NU Cempaka

13 Maret 2026
PWILS Sumbang Banyumas Bagikan Takjil ke Pengendara di Bulan Ramadhan

PWILS Sumbang Banyumas Bagikan Takjil ke Pengendara di Bulan Ramadhan

12 Maret 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .