Oleh: Kgm. Rifky ZulkarnaenJatman (rezim LBY) digunakan untuk melegitimasi posisi tarekat Alawiyah (Baalwi) sebagai tarekat tertinggi, terbaik, teristimewa dan termulia karena menjadi asal usul (origin) seluruh tarekat lain—karena tarekat Alawiyah adalah satu-satunya tarekatnya satu-satunya dzurriyah Nabi (kata ‘satu-satunya’ memang berulang). Tarekat lain diposisikan di bawah tarekat Alawiyah. Untuk memahami konstruksinya silakan baca:
Satu. Arahan dan instruksi Habib Luthfi bin Yahya kepada Klan Habib Baalwi mengenai tarekat Alawiyah https://youtu.be/PoxBVbyadYQ?si=CNC0FXtNFMx_122j .
Dua. Lihat uraian penulis tentang tarekat Studi Kasus: Thariqoh Alawiyyin (yang isinya Alawiyah) https://rminubanten.or.id/politik-bahasa-klan-habib-baalwi-politikus-bahasa-yang-licik-dan-terlaknat-1/ .
Tiga. Lihat uraian penulis Sejata Utama Klan Habib Baalwi dalam Operasi Klandestin Baalwisasi Yamanisasi Nusantara https://rminubanten.or.id/senjata-utama-klan-habib-baalwi-dalam-operasi-klandestin-baalwisasi-yamanisasi-nusantara/
Empat. Lihat uraian penulis mengenai Clan Branding Habib Baalwi Pemecah Belang Bangsa Indonesia: Cucu Nabi vs Non Cucu Nabi https://rminubanten.or.id/clan-branding-habib-baalwi-pemecah-belah-bangsa-indonesia-segregasi-cucu-nabi-vs-non-cucu-nabi/
Di Jatman tarekat lain (akan) dikaitkan, dilebur (digabung), lalu dikerucutkan tunggal ke tarekat Alawiyah sebagai tarekat tertinggi. Caranya: penggabungan/penyatuan tarekat. Tiap tarekat digabung dengan tarekat Alawiyah.
Contoh:
Pertama. Tarekat Syadziliyah diubah jadi Syadziliyah Alawiyah. Dilakukan oleh Habib Luthfi bin Yahya. Thariqoh Syadziliyah dicantolkan sebagai bagian dari Thariqoh Alawiyah melalui dokumen aurod. Silsilah sanad thariqoh pada aurod tersebut diubah pula melalui Habib Luthfi bin Yahya padahal dia tidak pernah ada bukti diangkat sebagai mursyid thariqoh Syadziliyah. Ini kelanjutan atau satu kesatuan rencana dari pencurian organisasi banom yaitu Jatman dari PBNU dan propaganda Thariqoh Alawiyah sebagai thariqoh tertinggi atau induk dari seluruh thariqoh. Pada aurod tersebut silsilah nasab Mbah Malik bin Ilyas juga di-bin Yahya-kan. Lihat: https://youtu.be/TwV9ps6VtHY?si=EWVqc6EyCZ1lQwff .

Ini (poin pertama) merupakan catatan pribadi penulis jauh sebelum tulisan ini dirampungkan. Saat itu penulis sudah dapat membaca arah dan algoritma Klan Habib baalwi di JATMAN dan di part Klandestin lainnya. Namun, untuk pembahasan part Tarekat (JATMAN) data konkritnya belum mencukupi untuk dapat dikatakan valid ketika disajikan ke publik. Penulis menunggu bertemu dengan data-data konkrit itu. Alhamdulillah, sekarang data konkritnya sudah cukup. Data-data konkrit itu hadir di hari yang sama ke hadapan penulis di Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober 2025. Mari saya ajak pembaca melangkah ke data ke-2 dan ke-3.
Kedua. Tarekat Naqsyabandi digabung dengan tarekat Alawiyah menjadi ‘Naqsyabandiyah Ali Ba’Alwiyah (perpaduan dari dua buah tarekat besar, tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Ali Ba’alawiyah)’. Lihat halaman 320 yang membahas Kiai Muhammad Hasan Genggong pada buku Ensiklopedia Karya Berbasis Tokoh Pesantren tahun 2023 cetakan pertama Januari 2023, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia.
Penulis tidak tahu apakah memang benar Kyai Hasan Genggong pernah memaklumatkan secara resmi tarekat Naqsyabandiyah Ali Baalwiyah. Penulis juga tidak tahu tim penulis buku itu memperoleh informasi dari siapa atau dari mana. Silakan diinvestigasi. Namun, perhatikan tokoh yang dilekatkan pada tarekat Naqsyabandiyah Ali Baalwiyah yaitu Kyai Hasan Genggong yang selama ini dijadikan (dicitrakan sebagai) tokoh panutan pribumi yang muhibbin sekali kepada Klan Habib Baalwi.
Ketiga. Tarekat Qadiriyah digabung dengan Tarekat Alawiyah Baalwi. Lihat: Abuya KH.A. Qurthubi Jaelani : Kita Gabungkan Antara Dzikir T.Q. Dengan Thoriqoh Alawiyyah, Baalawi https://youtu.be/gW1SBvZJ2SI?si=h1XC0HbROb84P24N (publish di YouTube 19 Oktober 2025). Qurtubi Lebak bersama Rizieq Shihab yang mendeklarasikannya di hadapan publik.
Perhatikan konstruksi narasi Pak Qurtubi Lebak:
.. Lalu ada orang sekarang mau cela-cela jangan ngaji kitab Salamut Taufik, jangan ngaji kitab Alawi, terima apa tolak dari para aulia kita!? saya mendapatkan sanad … dari Toriqoh Qadiriah dari orang tua saya, orang tua dari kakek saya Mama Haji Aceh bin Alinta Gunung Guru dari Syekh Abdul Karim Tanara sampai Syekh Khatib Sambas.
Tariqah Qadiriah digabung dengan tareqah Naksabanndiah dan zikirnya salah satunya ya arhamarrahimin. Pada tahun 2005 saya masukkan anak saya Haji Muhammad Hikam ke Pondok Pesantren Kedinding Surabaya dan saya pun mengambil sanad ijazah tentang istiasah dari Sayidil Walid Syekh Asrori Al-Ishaqi tharrqah Qadiriah. Beliau pun sanadnya sama pakai ya arhamarahimin. Beliau muhibbin cinta para baalawi tasaruf Sayid Muhammad bin Alwi Almaliki. Para ulama-ulama kita, para guru-guru kita itu saling mendukung antara ulama dan habaib. Apalagi habaibnya habaib ulama. Siap satukan umat!? Kita kalau melihat ulama dan umarah bersatu, senang apa tidak? Ulama istikomah, umarah, adil, kasih sayang kepada rakyat.
Bersatu bagus tidak bagus? Hebat tidak? Ulama dan habaib, kiai dan habaib bersatu. Bagus apa tidak bagus? siapapun dari kelompok mana pun yang akan memecah belah antara ulama dan habaib, terima apa tolak di Banten? Terima apa tolak? Apa pun ormasnya, apapun namanya yang memecah belah umat. Terima apa tolak? Siap tolak!? siap bersatu!? Bersatu kita akan menang! … (dst).
Kitab, sanad, tokoh, tarekat, dan narasi Klan Habiib Baalwi satu-satunya dzurriyah Nabi (melalui Baalwisasi nasab, kuburan, dan sejarah) dijadikan alat membius masyarakat dan mempersuasi bahkan memaksa umat supaya bersatu di bawah kekuasaan Klan Habib Baalwi yang dipropagandakan (di wilayah lain) sebagai satu-satunya cucu Nabi yang paling absah garis laki. Di semua part Klandestin aliran energi influencenya menuju mengerucut terkonsentrasi solid ke supremasi kekuasaan tunggal Klan Habib Baalwi.
Jadi makna ‘bersatu’ yang digaung-gaungkan Klan Habib Baalwi beserta para budaknya maksudnya adalah bersatu di bawah kekuasaan Klan Habib Baalwi. Jika tidak bersatu dengan Klan Habib Baalwi, menurut mereka, itu pecah belah dan yang tidak mau bersatu di bawah kaki Habib merupakan pihak pemecah belah. Intinya harus ikut mereka jika tidak ikut mereka berarti penjahat, kafir, murtad, tarekatnya tidak sah, sanadnya terputus, sanadnya tidak tertinggi, tarekatnya tidak muktabaroh, pembenci cucu Nabi, dll sebagaimana tabiat tudingan dan penyudutan khas Klan Habib Baalwi.
Itu 3 (tiga) data konkritnya.
Jadi andai Jatman masih dikangkangi Luthfi bin Yahya, semua nama tarekat akan ditambahi kata ‘Alawiyah’ dan isi tiap tarekat dicampur dengan isi tarekat Alawiyah. Dibikinlah storynya sebagai pembenaran, dibikin buku sejarahnya, dibikin pula kitab aurodnya—disebarkan, ditanamkan. Setelahnya, tarekat di Nusantara akan menunggal kiblatnya ke Tarekat Alawiyah di posisi sebagai tarekat tertinggi sedangkan tarekat yang lain hanya derivasi. Siapa mursyid penguasa tarekat Alawiyah? Klan Habib Baalwi. Maka demikian, paripurnalah infrastruktur dan suprastruktur penundukan, penguasaan, dan pengendalian kaum tarekat di Nusantara.
Setelah itu, Jatman digunakan untuk menguasai NU dari dalam dan atau menghabisi NU dengan cara berdiri sejajar menjadi kompetitor NU. Dari dalam NU dikuasai atas nama ‘Habib adalah cucu Nabi’ dan atau dari luar: NU kalah atau tumbang atau punah karena NU bukan cucu nabi; sanad ilmunya tidak valid karena bukan cucu nabi; sanad ilmunya putus karena melawan cucu Nabi atau karena tidak mengakui habib sebagai cucu nabi; NU pembenci cucu Nabi karena tidak mau mengalah kepada Jatman atau Klan Habib Baalwi; dan seterusnya seperti itu sebagaimana doktrin dan tabiat khas Klan Habib Baalwi dalam menyudutkan, memfitnah, memframing dan menghabisi kompetitornya.
(Uraian di atas itu) Andai, tidak ada tesis Kyai Imad, itulah yang (akan) terjadi… Algoritmanya, konstruksinya atau patternnya akan seperti itu. Kita lihat saja ke depannya apakah tesis penulis terbukti di realitas atau tidak. Tapi tidak lagi di Jatman namun di Jatma Aswaja karena Habib Luthfi bin Yahya sudah didepak dari Jatman.
Mari kita perhatikan bersama-sama ke depannya bagaimana. 3 (tiga) tarekat terpopuler sudah di-Baalwikan. Tarekat mana lagi yang akan di-Baalwikan berikutnya? Prediksi saya: mari kita menoleh ke Kalimantan.
Penulis: Kgm. Rifky Zulkarnaen