• About Us
  • Privacy Policy
  • Contact
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Tekno
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Keislaman
Beranda Opini

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

oleh Admin
23 Januari 2026
dalam Opini
Waktu baca: 7 menit baca
A A
0
BAGIKAN
1
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan saya yang kemarin tentang 11 kemungkinan orang yang mengaku bagian keluarga Bani Hasyim tetapi DNA nya berhaplogroup bukan J1. Lalu ada yang bertanya dari sebelas kemungkinan itu, Klan Baalwi berada di klaster mana. Seiring telah meningkatnya kecerdasan dan system berfikir masyarakat yang kritis, diskusi tentang Klan Ba’alwi dari sisi batalnya nasab mereka secara syar’I memang sudah tidak menarik didskusikan lagi. Nasab Klan Ba’alwi batal secar syar’I karena dari dari tujuh metode penetapan nasab secara syar’I semuanya menyimpulkan hal yang sama yaitu bahwa nasab mereka “Batilun Syar’an” (batal secara syariat). Data historis mereka selama 550 tahun zonk. Tidak ada kitab sejarah sebelum abad ke-9 H. yang mereportase keberadaan leluhur mereka sama sekali.

Peredebatan tentang apakah DNA bisa dijadikan tools (alat) untuk membatalkan nasab juga sudah tidak relevan lagi. Karena ulama-ulama yang berfatwa tentang bahwa DNA tidak boleh digunakan mengisbat dan menafikan nasab, juga mengakui keakuratan DNA sampai 99,9 %. Penolakan mereka bukan dari bahwa DNA tidak akurat, tetapi lebih kepada kekhawatiran banyaknya rumah tangga yang menggunakannya semena-mena untuk membatalkan nasab anak mereka tanpa adanya li’an. Li’an tetap satu-satunya cara syar’I untuk membatalkan nasab anak kepada ayahnya.

Jika seorang ayah melakukan tes DNA untuk anak yang dicurigai sebagai bukan anaknya, lalu hasilnya memang anak itu bukan keturunan biologisnya, maka hasil tes DNA itu tidak serta merta menggugurkan nasab anak itu kepadanya sebelum ia melakukan li’an (bersumpah di hadapan hakim bahwa anak itu bukan anaknya). Artinya, sebelum li’an, ayah itu masih wajib memberikan nafkah, dan jika ia meninggal maka anak itu, secara syar;I, tetap mendapatkan warisan darinya. Jika setelah tes DNA lalu hasil DNA anak itu berbeda dengannya lalu ia melakukan li’an, baru anak itu dinyatakan sah bukan anaknya. Jadi DNA sangat membantu ayah untuk yakin melakukan li’an.

Li’an yang dilakukan tanpa tes DNA bersifat dzonny yang bisa jadi akan membawa penyesalan, sebaliknya, li’an yang dilakukan setelah tes DNA bersifat qot’iy yang tidak ada keraguan dan tidak akan membawa penyesalan selamanya. Inilah kritik yang telah saya sampaikan kepada salah satu keputusan Majma Fikih di Arab Saudi yang mendahulukan li’an dari tes DNA. Kritik itu telah saya buat dalam Bahasa Arab yang mudah-mudahan menjadi bahan kajian fikih di masa depan. Dan saya siap memberikan illat-illat tentang kekuatan hujjah itu kepada Majma Fikih Arab Saudi jika diperlukan.

Diskusi tentang apakah haplogroup J1 merupakan haplougroup Bani Hasyim juga sudah tidak layak dilakukan, karena perwakilan Asyraf dan Sadah Bani Hasyim yang nasabnya sahih secara syariat telah melakukan tes DNA dan hasilnya mereka semuanya berhaplogroup J1. Probabilitas genetic Klan Ba’alwi yang berhaplogroup G untuk bisa mempunyai kekerabatan paternal dengan para Asyraf dan Sadah tersebut adalah nol persen. Sama dengan probabilitas pohon Nangka berbuah cempedak. Menerima Ba’alwi sebagai sadah sama saja dengan membatalkan keturunan Nabi yang nasabnya sahih secara syar’I seperti para Asyraf dan Sadah di Makkah, Madinah, Yordan, Yaman, Irak, Kwait, Mesir, dan syiria, yaitu dari Asyraf Qatadah, Asyraf Sulaimaniyah, Asyraf Abadilah, Asyraf Al-A’raj, Asyraf Bani Rass Yaman, Sadah Al-Ja’fari, Sadah Al-Qanadil dll. Nasab mereka terbukti sahih secara syar’i: syuhrah istifadlah mereka terverifikasi kitab-kitab nasab, dan secara historis, leluhur mereka yang mayoritas adalah para raja-raja dan pembesar politik pada masanya, terverifikasi sumber-sumber “contemporary record” (buku-buku sejarah pada masanya). Jadi, kedudukan mereka sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW sudah mencapai derajat qath’i. Ketika mereka berhaplogroup J1 maka para pengaku Sadah seperti Ba’alwi yang berhaplogroup G wajib ditolak dan dinasehati untuk bertaubat, bukan malah didukung untuk terus dalam kesesatan. Menerima dengan husnudzon bahwa mereka adalah bagian dari Sadah termasuk dalam kategori “Al-I’anah alal ma’shiyat” (membantu dalam kemaksiatan).

Dan, diskusi apakah Ba’alwi telah konklusif berhaplogroup G atau bukan, tidak patut lagi diperbincangkan. Rumail Abas berusaha berkelit malu-malu membuat wacana berbeda dari narasi sebelumnya bahwa Klan Baalwi berhaplogroup G itu belum konklusif karena sampelnya baru sedikit. Sebelumnya Rumail Abbas membuat narasi bahwa sebelum sampel DNA Nabi Muhammad dapat ditemukan, maka kemungkinan haplogroup selain J1 pun masih terbuka sebagai kandidat haplogroup Nabi Muhammad SAW. Namun, kini setelah Rumail memahami bahwa perbedaan haplogroup dari klan pengaku Sadah dengan Asyraf di Hijaz adalah suatu pertanda yang konklusif bahwa nasabnya palsu, kini Rumail membuat narasi bahwa belum tentu Ba’alwi haplogruopnya G semua. Dengan narasi itu Rumail telah menendang keluarga Assegaf, Bin Syihab, Bin Smith, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi dan Al-Haddad sebagai bagian dari Klan Ba’alwi, karena marga-marga tersebut sudah tes DNA dan hasilnya G.

Kembali kepertanyaan dari sebelas kemungkinan mengapa ada klan yang mengaku Bani Hasyim tetapi haplogroupnya bukan J1, lalu Ba’alwi termasuk masuk dalam klaster yang mana, ketika haplogroupnya terbukti G.

Pertama dilihat dari kemungkinan terjadinya sumpah setia (tahaluf) antara para sadah dan Asyraf Bani Rass yang ada di Yaman dengan Klan Ba’alwi, saya tidak mendapatkan satu sumber pun, baik dari kitab nasab atau sejarah sebelum abad Sembilan yang menyatakan adanya aliansi antara Asyraf Bani Rass di Yaman dengan Klan Ba’alwi. Maka probabilitas bahwa Klan Ba’alwi berasimilasi ke keluarga Bani Hasyim di Yaman karena factor Tahaluf adalah nol persen. Begitu juga jika kita asumsikan mereka ber-tahaluf dengan keluarga Ahmad bin Isa, sama sekali datanya zonk. Tidak ada satu berita pun sebelum abad ke-9 H. yang menyatakan Ahmad bin Isa pernah hijrah ke Yaman, atau Ba’alwi pernah pergi ke Madinah. Tidak ada. Jadi kemungkinan pertama ini tidak mungkin.

Kemungkinan kedua mereka jalur ibu. Saya juga sama sekali tidak mendapatkan satu sumber pun dari buku nasab dan sejarah sebelum abad ke-9 H. yang menyatakan adanya interaksi saling menikah antara Ba’alwi dengan para Sadah dan Asyraf. Jadi kemungkinan mereka merupakan jalur ibu sebelum abad ke-9 hijriyah probabilitasnya nol persen juga. Berbeda dengan keturunan Walisongo yang sejak abad pertama Hijriyah terverifikasi data primer adanya interaksi antara Damaskus dan Nusantara dengan ditemukannya koin berangka tahun 79 H. di Situs Bongal, yang terletak di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Begitupula tercatat dalam sejarah adanya interaksi Sadah Makkah yang datang ke Aceh pada 840 M. yang Bernama Sayyid Abdul Aziz dari keturunan Musa Al-Kadzim lalu menikah dengan putri bangsawan peurlak dan kemudian diangkat menjadi sultan peurlak pertama dengan gelar Sultan Alaidin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah. Pada tahun 1699, datang dari marga Al-Hasani Makkah, Sultan Badrul Munir Syarif Hasyim Jamaluddin. Ia diangkat sebagai Sultan setelah masa para Sultanah berakhir. Jadi para bangsawan Aceh mempunyai propabilitas sebagai keturunan Nabi dari jalur ibu dengan asumsi sang sultan tidak mempunyai anak laki-laki.

Kemungkinan ketiga Baalwi merupakan anak hasil adopsi dari para Sadah dan Asyraf. Saya juga tidak mendapatkan satu sumber otoritatif yang menyatakan adanya peristiwa adopsi dari para Sadah dan Asyraf terhadap salah seorang leluhur Klan Baalwi sebelum abad ke-9 H. jadi kemungkinan ini juga probabilitasnya kecil, bahkan hampir mustahil, dikarenakan tidak adanya informasi secuil pun yang menyebut adanya interaksi sebelum abad ke-9 antara Klan Ba’alwi dengan para Sadah dan Asyraf.

Kemungkinan keempat Ba’alwi merupakan orang yang mengaku sebagai Bani Hasyim karena mengambil kesempatan dari para Sadah asli yang bertaqiyyah (menyembunyikan identitas). Probabilitas untuk proposisi ini ada namun kecil karena betul klan Ba’alwi mengaku sebagai Bani Hasyim, tetapi bukan karena para Sadah dan Asyraf bertaqiyyah. Hal itu, karena para Sadah dan Asyraf di Yaman tidak bertaqiyah. Justru mereka menjadi raja di sana hampir 1200 tahun sejak tahun 284 H. sampai tahun 1336 H.

Kemungkinan kelima yaitu mantan budak (wala). Apakah Baalwi dikenal sebagai Bani Hasyim diakibatkan kedudukan mereka dahulu kala sebagai budak para Asyraf dan Sadah di Yaman. Untuk kemungkinan ini juga memerlukan dalil yang menunjukan peristiwa itu terjadi. Seperti budak-budak Rasulullah, ia menyandang gelar “Maula Rasulillah” dengan data sejarah yang lengkap. Dari sana, Klan Ba’alwi untuk bisa dikatakan sebagai keturunan mantan budak Bani Hasyim saja kita tidak bisa menemukan sumber, apalagi langsung sebagai Bani Hasyim.

Kemungkinan keenam yaitu mempunyai guru Bani Hasyim. Seseorang di masa lalu Ketika ia mempunyai guru Bani Hasyim, untuk mendapat keberkahan ia memakai nama gurunya. Untuk beberapa generasi keturunannya secara keliru mengidentifikasi diri sebagai Bani Hasyim. Tapi ini tidak terjadi kepada Ba’alwi, sebelum abad ke Sembilan. Tidak ada satu sumberpun yang menyatakan Klan Ba’alwi mempunyai guru dari Sadah dan Asyraf Bani Hasyim.

Kemungkinan ketujuh, persaingan antar golongan (munaafasah bainal firaq). Untuk kemungkinan ini juga agak sulit, jika yang dimaksud adalah kepentingan ekspansi ideologis dari suatu firqah (golongan). Karena Klan Ba’alwi di abad kesembilan mengaku sebagai sunni, sedang keluarga Ahmad bin Isa adalah seorang syi’i. jika suasana arus-utama ideologis di Tarim adalah syi’I pengakuan itu mungkin bermakna munafasah bainal firaq, agar kedudukan Klan Baalwi seabagai syi’I mempunyai kekuatan genealogis untuk menarik orang sunni agar berpindah menjadi syi’i. kenyataannya, arus-utama di Tarim adalah sunni, jadi pengakuan Klan Ba’alwi sebagai Bani Hasyim atau keturunan Nabi dari jalur Ahmad bin Isa bukan berdasarkan faktor ideologis tetapi lebih dimaknai sebagai hanya upaya meraih otoritas lebih dari klan lainnya di suatu Kawasan dengan menyambungkan diri dengan nasab para Sadah dan Asyraf terlepas dari basis ideologisnya.

Kemungkinan kedelapan, kesalahan identitas. Yaitu terjadinya kesalahan identifikasi satu generasi akan identitas leluhurnya yang menggunakan gelar mirip para Sadah dan Asyraf padahal bukan Sadah atau Asyraf. Kemungkinan ini juga saya tidak melihatnya pada Klan Ba’alwi, justru Abdurahman Assegaf sendiri sebagai tokoh utama Klan Ba’alwi yang disambungkan nasabnya kepada Ahmad bin Isa oleh Ali al-Sakran tidak menggunakan gelar Sayid atau Syarif.

Kemungkinan kesembilan, kesalahan reportase sejarawan. Ini tidak terjadi kepada Klan Ba’alwi. Tidak ada satu sejarawan pun yang menulis mereka sebagai Sadah sebelum pengakuan mereka di abad kesembilan Hijriyah. Jangankan sebagai Sadah, sebagai sosok historis pun nihil. Yang saya maksud Klan Ba’alwi di sini adalah Klan Ba’alwi Abdurrahman Assegaf yang di abad ke-9 H. mengaku sebagai Ba’alwi Jadid. Adapun Ba’alwi Jadid yang ditulis oleh Al-Janadi dalam Al-Suluk, kasusnya bisa disebut kesalahan reportase sejarawan. Dalam Al-Suluk tahun 732 H. Ba’alwi Jadid ditulis sebagai keturunan Ahmad bin Isa padahal keluarga Ba’alwi Jadid tidak pernah mengidentifikasi diri sebagai keturunan Ahmad bin Isa. Dan kitab-kitab nasab pun menolak kesalahan reportase itu. Lalu keluarga Abdurrahman Assegaf di abad kesembilan mengaku sebagai bagian dari Ba’alwi Jadid itu setelah 163 tahun kitab Al-Suluk itu ditulis. Jadi Ba’alwi Abdurrahman Assegaf salah cangkok untuk menyambungkan diri kepada nasab Ahmad bin Isa. Seharusnya ia mencangkok dari Muhammad, Ali atau Husain yang tercatat sebagai anak Ahmad bin Isa dalam kitab-kitab nasab, bukan dari Ubed yang nyantol kepada nasab Ahmad bin Isa berdasarkan kesalahan reportase sejarawan. Jika kita ingin mencangkok pohon jambu, pastika kita mencangkok di tangkai jambu, bukan di benalu yang menempel di tangkai jambu. Maka nasab Ba’alwi ini kita sebut saja “benalu di atas benalu”.

Kemungkinan kesepuluh, klaim sepihak atau Al-Iltisoq (numpang nempel). Inilah yang saya lihat alasan kenapa Klan Ba’alwi hari ini hasil tes DNA nya berbeda dengan para Sadah dan Asyraf. Karena iltisoq, “numpang nempel”. “Numpang nempel” ini terverifikasi oleh kitab-kitab nasab dan sejarah sebelum abad kesembilan. Kitab nasab yang berjejer dari abad keempat sampai Sembilan yang menyebut Ahmad bin Isa itu satu kalipun tidak pernah menyebut ada seorang yang Bernama Ubed yang menjadi anak Ahmad bin Isa. Tidak ada. Lalu kitab sejarah dari rentang yang sama tidak ada satupun yang menyebut nama-nama leluhur mereka yang mulai ditulis pada abad kesembilan itu sebagai sosok yang pernah ada di masa lalu. Tidak ada. Lalu di abad kesembilan mereka mulai nempel agak renggang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Sadah dan Asyraf. Lalu lambat laun mulai kenceng nempelnya sampai sekarang. Mereka tidak pernah menyangka di abad ke-21 ada ulama Indonesia yang akan menginterupsi klaim sepihak itu. Seperti juga mereka tidak menyangka akan ada tehnologi seperti DNA di abad ini yang secara absolut membongkar kedustaan yang selama ini disembunyikan.

Artikel Terkait

POLEMIK TAMBANG NU: NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

Hikmah Perseteruan Rais Aam & Ketum PBNU: Pelajaran Tentang Husnudzon, Keadilan, dan Sikap Beragama

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

الاستفادة من الحمض النووي لنفي نسب الدخلاء على نسب النبي صلى الله عليه وسلم واجبة شرعا: رد الشيخ عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي على بعض قرارات مجلس المجمع الفقهي الاسلامي بمكة المكرمة بشأن البصمة الوراثية

Untuk alasan terakhir, yaitu Non Paternity Event (ketidaksetiaan), penulis tidak akan berandai-andai itu mungkin terjadi untuk keluarga suci Rasulullah Muhammad SAW. Sekian.

Oleh: Imaduddin Utsman Al-Bantani

TerkaitArtikel

Opini

POLEMIK TAMBANG NU: NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

oleh Admin
25 Januari 2026
0
4

وَإِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُحِبُّ الدُّنْيَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ “ Jika engkau melihat seorang alim mencintai dunia, maka ketahuilah bahwa ia...

Baca lebihDetails

Hikmah Perseteruan Rais Aam & Ketum PBNU: Pelajaran Tentang Husnudzon, Keadilan, dan Sikap Beragama

22 Januari 2026
1

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

22 Januari 2026
3

الاستفادة من الحمض النووي لنفي نسب الدخلاء على نسب النبي صلى الله عليه وسلم واجبة شرعا: رد الشيخ عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي على بعض قرارات مجلس المجمع الفقهي الاسلامي بمكة المكرمة بشأن البصمة الوراثية

12 Januari 2026
3

Mbah Hasyim Tidak Mempunyai Guru Ahmad Bin Hasan Al-Athas Ba’Alwi: Untuk Rumail Abbas

22 Desember 2025
2

Indonesia Milik Bangsa Nusantara

14 Desember 2025
3
newsky.id

Copyright © 2025

Navigasi

  • Nasional
  • Tekno
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Keislaman

Ikuti Kami

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

Copyright © 2025