• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Berita

KH. Ahmad Mahrussilah: Museum Raden Aria Wangsakara Harus Jadi Pusat Pendidikan Sejarah dan Keteladanan Ulama Pejuang

KH. Ahmad Mahrussilah: Museum Raden Aria Wangsakara Harus Jadi Pusat Pendidikan Sejarah dan Keteladanan Ulama Pejuang
0
BAGIKAN
3
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

TANGERANG — Peletakan batu pertama pembangunan Museum Pahlawan Nasional Raden Aria Wangsakara di Kompleks Taman Makam Pahlawan Raden Aria Wangsakara, Kampung Lengkong Ulama, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Jumat (11/9/2026), mendapat perhatian dari kalangan dzurriyah dan keluarga besar Raden Aria Wangsakara.

Salah satunya KH. Ahmad Mahrussilah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-As’ariyyah Gintung, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, yang merupakan bagian dari keluarga besar dan dzurriyah Raden Aria Wangsakara.

Menurut KH. Ahmad Mahrussilah, pembangunan museum tersebut merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali sejarah perjuangan leluhur, khususnya bagi generasi muda Tangerang dan Banten.

Museum, menurutnya, jangan hanya dipandang sebagai bangunan untuk menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi harus menjadi pusat pendidikan sejarah, kebudayaan, keislaman dan keteladanan perjuangan Raden Aria Wangsakara.

“Sejarah perjuangan para ulama dan pahlawan harus dikenalkan kepada generasi muda. Mereka perlu mengetahui bahwa para pendahulu kita tidak hanya berdakwah, tetapi juga berjuang mempertahankan masyarakat dan tanah air,” demikian semangat yang disampaikan dalam momentum tersebut.

Raden Aria Wangsakara dikenal sebagai ulama sekaligus pejuang yang memiliki peranan penting dalam sejarah Tangerang dan Banten. Beliau terlibat dalam perjuangan menghadapi VOC di Batavia dan Tangerang serta berperan dalam pengembangan kehidupan Islam masyarakat.

Jejak perjuangannya tercatat dalam berbagai sumber historiografi Nusantara yang perlu terus dikaji, di antaranya Sajarah Banten, Paririmbon Ka-aria-an Parahiyang dan Babad Diponegoro. Negara juga telah menetapkan Raden Aria Wangsakara sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2021.

Bagi KH. Ahmad Mahrussilah, pengakuan tersebut semakin menegaskan pentingnya menjaga warisan sejarah Raden Aria Wangsakara secara objektif dan bertanggung jawab.

“Warisan leluhur bukan hanya soal hubungan darah, tetapi juga bagaimana nilai perjuangannya diteruskan. Keteladanan beliau harus menjadi energi bagi generasi sekarang untuk mencintai agama, masyarakat dan bangsa,” menjadi pesan penting dari momentum pembangunan museum tersebut.

Peletakan batu pertama dihadiri berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat, di antaranya Dr. Komarudin, M.A.P., yang mewakili Gubernur Banten Andra Soni; Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid; unsur Forkopimda; DPRD Provinsi Banten dan Kabupaten Tangerang; Ketua IKBAR WANGSA KH. M. Taqiyudin, S.Pd.; Penasihat IKBAR WANGSA KH. Baiquni Yasin; para ulama, tokoh masyarakat, keluarga besar Raden Aria Wangsakara serta masyarakat sekitar.

Sejumlah anggota PWI-LS (Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah) juga turut hadir, termasuk Kang Didin selaku Ketua Bidang Media PWI-LS Pusat.

Selain KH. Ahmad Mahrussilah, sejumlah tokoh lainnya juga dikenal sebagai bagian dari keluarga besar atau dzurriyah Raden Aria Wangsakara, di antaranya Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, RH. Oma Irama, KH. Imaduddin Utsman Al-Bantani, R. Tb. M. Nurfadhil, R. Gina/Ki Paten, R. Lutfi Abdul Gani, KH. Muhammad Heppy, dan Sofian Hadi.

Dengan dibangunnya museum tersebut, keluarga besar berharap sejarah Raden Aria Wangsakara dapat terdokumentasi dengan baik dan diwariskan secara ilmiah kepada generasi mendatang.

Bagi KH. Ahmad Mahrussilah, merawat sejarah berarti menjaga identitas.

“Jangan sampai generasi kita mengenal sejarah hanya dari cerita yang terputus. Museum ini harus menjadi tempat anak-anak kita belajar siapa leluhurnya, bagaimana perjuangannya, dan nilai apa yang bisa mereka teruskan.”

Peletakan batu pertama pun menjadi awal dari sebuah ikhtiar besar: menjadikan Lengkong bukan hanya sebagai tempat peristirahatan seorang pahlawan, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi sejarah, pendidikan dan keteladanan ulama pejuang Raden Aria Wangsakara.

Dari Lengkong, warisan perjuangan untuk generasi dan Indonesia. (Din)

Terkait Kiriman

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Pesantren Afiliasi NU di Bogor Disegel, KH Imaduddin: Gaya PKI Semacam Itu Harus ditindak Aparat

3 Oktober 2026
Susunan Lengkap PBNU 2026–2031: Syuriyah, A’wan hingga Tanfidziyah

Susunan Lengkap PBNU 2026–2031: Syuriyah, A’wan hingga Tanfidziyah

1 Oktober 2026
Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

23 September 2026
Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

13 September 2026
Mahfud MD Tegaskan Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

Mahfud MD Tegaskan Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

13 September 2026
Akademisi Irak Dr Yasin Al-Kalidar Batalkan Nasab Ba’alwi Hadramaut, dan Peringatkan Pendukung Ba’alwi Mendapat Laknat Allah

Akademisi Irak Dr Yasin Al-Kalidar Batalkan Nasab Ba’alwi Hadramaut, dan Peringatkan Pendukung Ba’alwi Mendapat Laknat Allah

13 September 2026
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .