Penulis: Rifky Zulkarnaen
(11/08/2024 – 24/10-2025)
Gus Yahya, Ketum PBNU, ceramah berkali-kali menekankan: mustamik, mustamik, mustamik. Mustamik ke apa ke siapa? Ya, penulis paham maksud Gus Yahya. Hanya saja saya tetap mau mengusut lebih dalam tentang itu sampai ke ‘root and core value’.
Kalau ada orang mengaku NU lalu ia diam saja terhadap Klan Habib Baalwi yang keseluruhan gerakannya mengancam dan membahayakan secara serius dan fatal terhadap eksistensi Bangsa dan Negara Indonesia—lebih-lebih ia mendukung Klan Habib Baalwi, maka dia tidak mustamik (koheren) dengan NU yang didirikan Mbah Hasyim Asy’ari dan para muassis lainnya; ia mustamiknya dengan Mufti Belanda Habib Utsman bin Yahya serta Hadrami lainnya.
Mengenai Habib Utsman bin Yahya, Klan Habib Baalwi dan orang-orang Hadramaut di Hindia-Belanda (Indonesia), mental dan perilaku mereka terhadap pribumi terekam sejarah internal penjajah Belanda sendiri. Lihat jurnal akademik Prof. Azyumardi Azra berjudul ‘Hadhrami Scholars in the Malay-Indonesian Diaspora‘ halaman 15:
Many important works on the Hadhrami’s have shown that in the Dutch Indies they were generally favorable to non-Muslim role over Muslim lands, even over their own homeland, the Hadhramawt. Conversely most of them were said to have been indifferent to political matters; the Hadhramis in the Dutch East Indies ignored Dutch oppression of indigenous Muslims as long as their interest were not in jeopardy. They almost always took the side of the Dutch in their conflict and their wars against native Muslims (Van den Berg, 1886: 173-83; Snouck Hurgronje, 1886: 79; de Vries, 1937: 148). Van den Berg has a long list of leading Hadhrami sayyids who supported the Dutch in their attempts to suppress various riots and rebellions among local Muslims throughout the Indies. They included Sayyid Abd al-Rahman bin Abu Bakr al-Qadri in Sumba, Sayyid Abd Allah bin Hamid Al-Qadri in Banjarmasin, Sayyid Abd allah bin Mansur al-Aydrus in Batavia, Sayyid Abu Bakr in Palembang and Sayyid Umarr al-Habshi in Surabaya. In many cases they were awarded honorary titles by the Dutch for their services (van den Berg, 1886: 180-2).
Banyak karya penting tentang Hadhrami telah menunjukkan bahwa di Hindia Belanda mereka umumnya mendukung penguasaan (oleh) non-Muslim atas tanah Muslim, bahkan atas tanah air mereka sendiri, Hadhramawt. Sebaliknya sebagian besar dari mereka dikatakan acuh tak acuh terhadap masalah politik; Hadhramis di Hindia Belanda mengabaikan penindasan Belanda terhadap Muslim pribumi selama kepentingan mereka tidak dalam bahaya. Mereka hampir selalu berpihak pada Belanda dalam konflik dan perang mereka melawan penduduk asli Muslim (Van den Berg, 1886: 173-83; Snouck Hurgronje, 1886: 79; de Vries, 1937: 148). Van den Berg memiliki daftar panjang sayyid Hadhrami terkemuka yang mendukung Belanda dalam upaya mereka untuk menekan berbagai kerusuhan dan pemberontakan di antara Muslim lokal di seluruh Hindia. Mereka termasuk Sayyid Abd al-Rahman bin Abu Bakr al-Qadri di Sumba, Sayyid Abd Allah bin Hamid Al-Qadri di Banjarmasin, Sayyid Abd allah bin Mansur al-Aydrus di Batavia, Sayyid Abu Bakr di Palembang dan Sayyid Umarr al-Habshi di Surabaya. Dalam banyak kasus mereka dianugerahi gelar kehormatan oleh Belanda atas jasa mereka (van den Berg, 1886: 180-2).
Sayyid Utsman, demikian Berg, tidak henti-hentinya menunjukkan bahwa orang mungkin tetap setia kepada pemerintah Eropa di Nusantara sambil menjalankan ibadah agama Islam. (Sumber: Dr. Muhammad Noupal, M.Ag. KONTROVERSI TENTANG SAYYID UTSMAN BIN YAHYA (1822-1914) SEBAGAI PENASEHAT SNOUCK HURGRONJE. AICIS XII. Hal 1389.)
Dari pandangan Van Den Berg dan Prof. Azyumardi Azra mengenai Klan Habib Baalwi dan Arab Hadramaut lainnya dapat disimpulkan: mereka tidaklah peduli kepada kaum muslim pribumi dan atau pribumi Nusantara sepanjang kepentingan mereka tidak dalam bahaya; selama kepentingan material dan spiritual mereka tidak menjadi taruhan; mereka selalu berpihak kepada penjajah ketimbang pribumi sekali pun jelas yang terdzalimi adalah pribumi.
Jiwa Imigran Yaman Hadhrami adalah Partikularisme, mereka tidak memiliki Nasionalisme Nusantara (Indonesia). Yang mereka pedulikan hanya diri dan kelompoknya saja. Begitulah jiwa-jiwa Klan Habib Baalwi dan Arab Hadramaut di Nusantara ini dari dulu dan sangat terindentifikasi masih hingga sekarang. Mafhum, mereka memang imigran mlarat Hadramaut Yaman yang diangkut penjajah Belanda untuk menjadi antek penjajah Belanda dalam menindas Bangsa Pribumi Nusantara.
Kita telah mengetahui paham dan spirit Muassis NU dan ulama-ulama Nusantara berseberangan dengan paham dan spirit Klan Habib Baalwi dan Arab Hadramaut.
Oleh karenanya, orang-orang yang mengaku NU namun diam saja tidak peduli menyaksikan kedzaliman Klan Habib Baalwi terhadap seluruh rakyat Indonesia, maka dia mustamik dengan Klan Habib Baalwi dan Arab Hadramaut, dia tidak mustamik dengan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan muassis NU lainnya.
Saya mohon maaf mungkin ini terdengar sumbang: NU bubar saja—kalau tidak kembali ke akar dan nilai inti muassis NU lalu teguh menjalani hidup dengannya. “Kalau NU bubar NKRI akan bahaya!” Saya kira NU butuh mengurangi omongan-omongan jumawa begitu, kita bisa usut betul-betul statement itu untuk membuktikan seberapa salah atau seberapa benarnya statement itu. Islam ditinggal Rasulullah SAW masih jalan sampai kita sekarang. Ketika Rasulullah SAW wafat, Umar bin Khattab ra ditempelengi Abu Bakar ra karena seakan Rasulullah Saw jadi Tuhan di pikiran Umar ra. Begitu pula perihal NU: NU bukan Rasulullah SAW, NU bukan Allah Swt. Jadi, mohon kiranya nyali kita kepada Allah Swt agak dikendalikan supaya tak terpeleset pada memasti-mastikan ketika NU bubar lantas hidup ini kiamat. Mengapa tak berpikir sebaliknya. Ketika organisasi NU bubar: mungkin saja NKRI akan baik-baik saja atau bahkan bisa jadi NKRI lebih baik lagi dan Islam akan tetap tetap baik-baik saja.
Jangan salah paham… Pahamilah. Yang penting itu bukan NU secara organisasi namun NU secara organisme—yang lebih penting itu bukan organisasi NU namun organisme NU: masyarakat yang sungguh-sungguh menjalani hidupnya dengan kesadaran nilai dan ruh NU. Bukan sekedar omon-omon atau pajangan-pajangan banner dan umbul-umbul. Daripada organisasi NU-nya ada sementara ruh di dalamnya adalah jin-jin Baalwiyah-Hadramautism yang berpihak pada penjajahan, Baalwisasi makam, Baaalwisasi sejarah, Baalwisasi akidah, dan penyuburan doktrin-doktrin sesat dan khurafat; malah justru itulah yang dapat dipastikan bikin kiamat bagi kehidupan pribumi. Daripada begitu, sudahlah… lebih baik NU bubar saja. Buat apa mati-matian mempertahankan sesuatu yang membuat hidup saja tidak bisa apalagi dibawa mati—lebih tidak bisa lagi.
Toh, sudah sunnatullah segala sesuatu ada awal dan akhir. Jika sesuatu berakhir, kita bisa mulai lagi dari awal. Kata Gus Dur: gitu aja kok repot.