• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Opini

Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”
0
BAGIKAN
110
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

​Wajah Nahdlatul Ulama (NU) hari ini tengah mengalami guncangan diskursus yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika selama puluhan tahun hubungan antara kiai-kiai NU dan kaum Ba’alwi (Habaib) dianggap sebagai relasi “Habib dan Sukibin” yang tak terpisahkan, kini arus balik dari akar rumput justru menyuarakan hal sebaliknya. Muncul aspirasi kuat agar kepengurusan PBNU di masa mendatang benar-benar “steril” dari dominasi doktrin dan pengaruh struktural kaum Ba’alwi.

Warga Nahdiyyin kini di hadapkan dalam ​gugatan sejarah dan kembalinya Marwah 1926. ​Salah satu argumen paling tajam yang muncul dari kalangan Nahdliyin kultural adalah refleksi sejarah berdirinya jam’iyyah. Saat KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri mendirikan NU pada tahun 1926, organisasi ini murni dipelopori oleh kiai-kiai pribumi sebagai benteng Aswaja Nusantara.

​Fakta sejarah bahwa kaum Ba’alwi baru mendirikan Rabithah Alawiyah pada tahun 1928—dua tahun setelah NU berdiri—kini digunakan sebagai alat legitimasi bahwa NU sejak lahir adalah milik “Pribumi”. Gerakan ini memandang bahwa NU tidak memiliki “hutang sejarah” terhadap organisasi nasab tersebut, sehingga tidak ada kewajiban bagi NU untuk memberikan panggung struktural istimewa kepada mereka.

​Fenomena Kiai Imaduddin dalam diskursus sains melawan mitos menjadi katalisator utama. Meskipun ia “hanya” menjabat sebagai anggota Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, dukungan terhadapnya di tingkat akar rumput melampaui popularitas elit Tanfidziyah. Tesisnya yang menggugat keabsahan nasab Ba’alwi melalui pendekatan kritis historis dan data DNA telah mengubah pola pikir santri.

​Bagi banyak kiai di desa, gerakan Kiai Imad bukan suatu kebencian, melainkan upaya “pembersihan sejarah”. Mereka lelah dengan oknum yang dianggap menjual narasi nasab untuk mendapatkan materi, penghormatan berlebih, atau pengaruh politik di dalam NU, sementara kiai-kiai yang berdarah-darah membina umat justru terpinggirkan.

​Sentimen ini semakin menguat seiring dengan munculnya pesimisme terhadap pengurus PBNU saat ini. Isu penerimaan konsesi tambang dan kedekatan elit organisasi dengan kekuasaan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap jati diri NU sebagai organisasi kerakyatan.
​Akar rumput melihat adanya korelasi antara sikap “diamnya” PBNU terhadap isu-isu keadilan sosial dengan masih kuatnya pengaruh “feodalisme spiritual” di lingkaran elit. Keinginan untuk membebaskan PBNU dari “doktrin Ba’alwi” dipandang sebagai langkah awal untuk memerdekakan NU dari segala bentuk sandera kepentingan, baik kepentingan nasab maupun kepentingan materi.

​Wacana “Pribumisasi NU” diperkirakan akan menjadi isu sentral dalam Muktamar mendatang. Aspirasi yang berkembang menuntut agar syarat menjadi pengurus PBNU ditekankan pada ​sanad keilmuan Nusantara dan mengutamakan mereka yang tumbuh dari rahim pesantren lokal. Ditambah dengan ia yang memiliki​loyalitas tunggal terhadap NU dan menghindari tokoh yang memiliki loyalitas ganda terhadap organisasi nasab di luar NU.

Selain itu ditekankan faktor ​Integritas Intelektual dengan memimpin berdasarkan data dan ilmu, bukan berdasarkan klaim kemuliaan darah.
​
​NU berada di persimpangan jalan. Gerakan “PBNU Tanpa Ba’alwi” bukan sekadar isu rasisme atau kebencian personal, melainkan upaya redefinisi identitas. Apakah NU akan kembali ke Khittah 1926 sebagai organisasi kiai pribumi yang mandiri, atau tetap terjebak dalam pusaran konflik nasab yang melemahkan energi organisasi?

​Satu hal yang pasti, suara dari “bawah” tidak lagi bisa dibungkam dengan sekadar dawuh kepatuhan. Mereka menuntut NU yang ilmiah, transparan, dan benar-benar milik rakyat Indonesia.

Oleh: Didin Syahbudin

Terkait Kiriman

Membaca Ketidakhadiran Presiden Prabowo Dalam Pengukuhan Pengurus PBNU 2026

Membaca Ketidakhadiran Presiden Prabowo Dalam Pengukuhan Pengurus PBNU 2026

25 Oktober 2026
Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

17 Oktober 2026
Habib Umar bin Hafidz Melecehkan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia: Saya Heran NU Diam Saja

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI: Lirik Iwan Fals Buat NU

Habib Umar bin Hafidz Melecehkan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia: Saya Heran NU Diam Saja

15 Oktober 2026

Info Baru Lainnya

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

26 Oktober 2026
Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

25 Oktober 2026
Membaca Ketidakhadiran Presiden Prabowo Dalam Pengukuhan Pengurus PBNU 2026

Membaca Ketidakhadiran Presiden Prabowo Dalam Pengukuhan Pengurus PBNU 2026

25 Oktober 2026
Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

23 Oktober 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

22 Oktober 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .