• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Opini

Habib Umar bin Hafidz Melecehkan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia: Saya Heran NU Diam Saja

Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI: Lirik Iwan Fals Buat NU
0
BAGIKAN
0
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Pada esai sebelumnya berjudul “Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani” dengan link sebagai berikut https://rminubanten.or.id/anak-umar-bin-hafidz-mengangkat-kakinya-saat-bertemu-ketua-mpr-ri-ahmad-muzani/ penulis membahas sesuai judul dan berhenti pada menjelaskan terjadi peristiwa tersebut di mana penilaian atas peristiwa diserahkan kepada pembaca dengan diiringi konsekuensi-konsekuensinya. Di esai ini penulis menyajikan penilaian penulis.

Memahami Dimensi-Dimensi Manusia

Manusia terdiri dari berbagai dimensi. Secara ringkas sederhana umpamanya, penulis sengaja ambil contoh kontras, yaitu Jonatan Christie: ia beragama Kristen, beretnis turunan Tionghoa, seorang atlet bulutangkis pria yang membawa nama Indonesia di dunia internasional, sekaligus seorang suami. Jadi, seorang manusia tidak berdimensi tunggal. Sehingga demikian kita mesti menentukan dengan jelas pada segi dan kapasitas apanya kita mendukung dia dan pada segi apa kita tak bersepakat dengannya. Saat kita berteriak di stadion mendukungnya di pertandingan melawan atlet dari negara lain, itu tak berarti kita menyetujui dan mendukung kekristenannya, yang kita dukung sepenuh hati adalah Jonatan Christie sebagai atlet bulutangkis yang membawa marwah Indonesia di kancah Internasional.

Umpamanya, Jonatan Christie diperlakukan secara tak terhormat oleh orang dari bangsa dan negara lain, saya—dan mungkin kita semua meski berbeda agama dengannya, akan ikut turun gelanggang membela Jonatan Chrisite dan turut menggebuk orang dari bangsa dan negara lain itu. Kita ikut tersinggung lalu membelanya bukan karena agamanya apa atau sukunya apa tetapi karena marwah Indonesia yang melekat padanya yang itu juga berarti ketika ia dilecehkan juga melecehkan marwah Anda dan saya sebagai Indonesia. Jangan seenaknya memperlakukan kami Indonesia, kan begitu.

Pada skala multilateral, demikianlah mengapa pemerintah Indonesia dan pemerintah Amerika, sebagai contoh, tak tinggal diam saat seorang warganya meski ia warga sipil biasa diperlakukan tak terhormat oleh bangsa dan negara asing. Umpamanya pada kasus TKW di Arab Saudi atau di negara lain yang menjadi korban kekerasan seksual—meski hanya satu orang saja, pemerintah pasti memberi perlindungan dan pembelaan. “Ah, hanya satu orang saja mengapa mengeluarkan biaya dan effort luarbiasa untuk melindungi dan membelanya?” Lho, yang satu orang itu, meski hanya satu, ia membawa nama dan citra Indonesia di mata pihak eksternal yang nantinya berdampak pada perlakuan pihak eksternal kepada ratusan juta orang Indonesia lainnya. Jika pemerintah berlepas tangan membiarkan saja dari perlakuan semacam itu, itu akan mengirim pesan ke pergaulan dunia dan memberi efek berantai bahwa orang Indonesia bisa diperlakukan semena-mena, di mata bangsa dan negara lain Indonesia tak memiliki harga, akibatnya bangsa dan negara lain akan merasa aman memperlakukan orang Indonesia dengan semena-mena.

Ahmad Muzani Ketua MPR RI

Sekarang kita ke peristiwa “Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani”. Berikut ini foto yang dirilis resmi oleh detik.com:

Mari kita kenali siapa Ahmad Muzani. Ringkas saja: Ahmad Muzani adalah politisi Partai Gerindra dan Ketua MPR RI. Ketika anak Habib Umar bin Hafidz mengangkat kaki di hadapannya, saat itu Ahmad Muzani pada kapasitas sebagai Ketua MPR RI sebagaimana telah diijelaskan di esai sebelumnya. Di pertemuan dengan Ketua MPR RI yang merupakan salah satu lembaga tinggi negara Indonesia, anak Habib Umar bin Hafidz duduk di atas kursi dengan mengangkat kaki di hadapannya. Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Hasan Al Bahar yang merupakan Klan Habib Baalwi yang menjabat sebagai Ketua LAZISNU PBNU, tidak menegurnya dan membiarkannya saja. Itu artinya tidak ada penghormatan dari Habib Umar bin Hafidz, Habib Ali Hasan Al Bahar, dan putra Habib Umar bin Hafidz, kepada Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Klan Habib Baalwi di ruangan itu memandang Ahmad Muzani sebagai sosok yang tak berharga padahal ia adalah seorang Ketua MPR RI salah satu lembaga tinggi negara. Di situlah saya tersinggung dan terhina oleh Klan Habib Baalwi. Sebagaimana ilustrasi pada Jonatan Christie sebelumnya, saya merasa tersinggung dan terhina oleh Klan Habib Baalwi dan membela Ahmad Muzani bukan karena saya mendukung Ahmad Muzaninya as a person, atau mendukung Gerindra atau Prabowo, tetapi saat pertemuan itu dia sebagai Ketua MPR RI yang merupakan salah satu lembaga tinggi negara yang padanya melekat marwah bangsa dan negara Indonesia yang berarti itu juga marwah dan harga diri saya dan Anda serta ratusan juta Bangsa Indonesia lainnya.

Ada yang bilang Ahmad Muzani adalah kibin atau budak Klan Habib Baalwi maka biarkan saja dia diperlakukan begitu oleh Habib Baalwi. Saya tidak membela Ahmad Muzaninya as a person namun yang saya bela status Ketua MPR RI-nya di hadapan bangsa asing karena itu marwah bangsa kita di mata bangsa asing yang dampaknya ke ratusan juta pribumi Indonesia. Jika Ketua MPR RI saja dipandang, dinilai, dan diperlakukan begitu oleh Klan Habib Baalwi, maka apalagi kepada pribumi-pribumi yang bukan Ketua MPR RI tentu Klan Habib Baalwi memandang dan menilai lebih rendah dan lebih hina lagi—runtutan dampaknya ke situ. Bahwa Ahmad Muzani barangkali rela-rela saja diperlakukan begitu oleh Habib Umar bin Hafidz, putra Umar bin Hafidz, dan Habib Ali Hasan Al Bahar, dan tidak bersikap tegas mengusir anak Umar bin Hafidz dari ruangan, itu salah dia yang gagal dalam menyadari status yang ia emban. Hal itu tidak menggugurkan kewajiban kita membela marwah bangsa.

Tidak Boleh Memaklumi Atas Nama Penghormatan Kultur

Barangkali ada orang berkata duduk di atas kursi dengan mengangkat kaki merupakan kultur Klan Habib Baalwi oleh karenanya dapat atau harus kita maklumi. Argumentasi itu tidak bisa diterima. Mengapa? Karena status Ahmad Muzani saat itu sebagai Ketua MPR RI, artinya Habib Umar bin Hafidz dan putranya yang bangsa asing sedang berhadapan dengan bangsa dan negara Indonesia, artinya juga pertemuan itu adalah pertemuan formal meski bukan pertemuan kenegaraan.

Semakin formal pertemuannya semakin rigid etiket yang berlaku karena berhadapan dengan representasi negara asing. Donald Trump sebagai Presiden Amerika dan Vladimir Putin  sebagai Presiden Rusia tidak akan berperilaku kasual di hadapan Prabowo sebagai Presiden RI atau Ahmad Muzani sebagai Ketua MPR RI saat pertemuan formal di ruangan formal. Kecuali, mereka sedang acara mancing bareng di tepi sungai, itu sudah beda konteks situasi—busananya pun juga akan berbeda dengan busana pertemuan formal dan perilaku masing-masing akan kasual, itu pun tetap dengan tanpa mengabaikan penghormatan atas kultur masing-masing.

Maka tidak boleh atas nama kultur kemudian putra  Habib Umar bin Hafidz berperilaku seenaknya di pertemuan dengan Ahmad Muzani yang kapasitasnya pada saat itu sebagai Ketua MPR RI. Jika bangsa asing yaitu Klan Habib Baalwi menerapkan kulturnya di hadapan Ketua MPR RI dengan tidak mengindahkan kehormatan dan perasaan negara Indonesia, di situlah jelas merupakan sikap arogan Habib Umar bin Hafidz, putranya dan rombongannya karena memaksa orang menghormati kulturnya dengan menganggap remeh kultur Indonesia, tak memberi penghormatan kepada kultur Indonesia, atau dengan kata lain mereka memandang orang Indonesia tak berharga, tak layak dihargai dan wajar diabaikan.  Gestur duduk di atas kursi dengan mengangkat kaki di hadapan Ketua MPR RI dan gestur itu dibiarkan saja oleh Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al bahar, dalam artikulasi bahasa lisan—Habib Umar bin Hafidz, putranya, Habib Ali Al Bahar dan rombongannya mengirim pesan begini: “Andalah yang harus menghormati kami, kami tidak perlu menghormati Anda, Indonesia yang harus menghormati kami, kami tidak perlu menghormati Anda, kami bebas berperilaku di hadapan Anda tetapi Anda tidak, Anda harus menghormati kami”. Oleh karenanya perilaku duduk di atas kursi dengan mengangkat kaki yang dilakukan oleh putra Habib Umar bin Hafidz merupakan pelecehan terhadap martabat bangsa Indonesia.

Saya Heran Ke NU

Saya heran ke NU, ke kiai-kiai NU, terutama ke PBNU, kok tidak ada suara mengecam atas perilaku putra Habib Umar bin Hafidz dan kepada Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al Bahar. Mereka bisa arogan begitu karena endorse kalian tetapi kenapa kalian diam saat mereka berperilaku melecehkan Indonesia? Yang bahkan Donald Trump yang katanya sinting pun tidak akan berperilaku sebejat itu di hadapan Ketua MPR RI. Tapi, ya sudah, kalau NU diam berarti perilaku duduk di atas kursi di hadapan orang yang lebih tua yang merepresentasikan kehormatan bangsa yang dilakukan anak Umar bin Hafidz merupakan perilaku yang pantas, sopan, dan wajar. Maka jangan salahkan saya atau orang lain jika nanti kami berperilaku seperti itu di hadapan kiai-kiai NU atau PBNU. Kalau anak Umar bin Hafidz boleh, kenapa kami tidak boleh, padahal derajat kami secara dzat 7 juta lebih mulia dibanding seluruh Klan Habib Baalwi baik yang masih hidup, akan hidup atau pun yang sudah mati.

Kalau ada orang bilang kitalah yang harus memaklumi mereka, saya jawab: mengapa Anda malah menekan saya lha wong merekalah yang berperilaku buruk, kok Anda tidak menekan mereka untuk memaklumi dan menghormati saya?  Kalau Anda punya waktu dan energi untuk menekan saya, kenapa Anda tidak mengalokasikan waktu dan energi itu pertama kali untuk menekan mereka? Pertanyaan berikutnya, mengapa Anda merasa enteng saja dan kok Anda lancang sekali berani-beraninya menekan saya sementara Anda tidak bernyali bersuara menekan mereka? Itu pertanyaan, coba jawab.

Terkait Kiriman

Habib Umar bin Hafidz Melecehkan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia: Saya Heran NU Diam Saja

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI: Lirik Iwan Fals Buat NU

Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI: Lirik Iwan Fals Buat NU

14 Oktober 2026
KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

28 September 2026

Info Baru Lainnya

Habib Umar bin Hafidz Melecehkan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia: Saya Heran NU Diam Saja

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI: Lirik Iwan Fals Buat NU

Habib Umar bin Hafidz Melecehkan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia: Saya Heran NU Diam Saja

15 Oktober 2026
KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI: Lirik Iwan Fals Buat NU

Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI: Lirik Iwan Fals Buat NU

14 Oktober 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .