Jakarta–Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz mengumumkan nama pengurus struktur organisasi periode 2026-2031. Ada 210 orang yang menjadi pengurus PBNU periode ini.
“Yang sekarang total semuanya 210 orang. Mengalami kenaikan sebesar 21 orang,” kata Ketua Umum (Ketum) PBNU Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dalam sambutan pengumuman kepengurusan PBNU di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/3026).
Dia menyatakan bahwa hal itu dimaksudkan agar adanya pemerataan dari semua jajaran. Pengurus, menurutnya, terdiri atas beberapa unsur dari berbagai organisasi internal PBNU.
Yang menarik pada susunan pengurus PBNU kali ini tokoh-tokoh klan Habaib Ba’alwi tidak masuk dalam susunan kepengurusan. Lutfi bin Yahya yang dalam beberapa periode namanya selalu masuk jajaran pengurus PBNU sebagai mustasyar, kali ini tidak dimasukan.
Syekh bin Abdulkadir Assegaf, tokoh Habaib yang popular sebagai penyanyi shalawat, namanya juga tidak dimasukan. Pada periode sebelumnya, nama Syekh bin Abdulkadir Aseegaf menempati urutan pertama jajaran A’wan PBNU.
Taufiq Assegaf, ketua Rabitah Alawiyah, organisasi yang menghimpun anggota dari klan Baalwi Yaman, juga namanya tidak dimasukan dalam jajaran pengurus PBNU. Ketua organisasi Rabitah Alawiyah biasanya dimasukan dalam susunan pengurus PBNU seperti ketua Rabitah Alawiyah sebelumnya Zen bin Sumet.
Tokoh-tokoh klan Ba’alwi popular lainnya seperti Ahmad bin Jindan dan Salim bin Jindan juga tidak dimasukan dalam jajaran pengurus PBNU. Klan Baalwi Yang masuk jajaran PBNU kali ini relatif sosok-sosok yang tidak popular.
Dilihat dari sisi jumlah, klan Baalwi yang masuk jajaran PBNU menurun drastis. Jika dalam pengurusan sebelumnya 9 orang kali ini hanya 6 orang. Ditengarai hal tersebut merupakan bentuk akomodasi desakan arus utama warga NU yang menginginkan PBNU diurus oleh para kiai pribumi.
Oleh: Didin Syahbudin














