Oleh: Tb. Moggi Nurfadhil Satya
Pendahuluan: Dajjal sebagai Sistem
Dalam banyak hadis, Rasulullah ﷺ menggambarkan Dajjal sebagai makhluk akhir zaman bermata satu yang membawa fitnah besar bagi umat manusia. Namun, para ulama Ahlus Sunnah juga menjelaskan bahwa “Dajjal” bukan sekadar individu, tetapi bisa dimaknai sebagai sistem penyesatan besar-besaran yang beroperasi secara terstruktur dan global di berbagai bidang—termasuk agama dan spiritualitas.
Imam al-Qurṭubī menulis dalam At-Tadzkirah:
“Dajjal adalah sebutan bagi setiap pendusta dan penipu yang memperdaya manusia dengan tipu daya kebatilan.”[^1]
Dengan kerangka ini, kita dapat memahami bahwa kemunculan pseudo-wali, tokoh kultus nasab, dan spiritualis khurafat di zaman ini adalah bagian dari sistem Dajjaliyah. Mereka meniru penampilan para salihin dan memakai simbol suci, tapi menyimpang jauh dari jalan kenabian.
Fenomena Kultus Nasab dan Wali Rekayasa
Dewasa ini, sebagian tokoh yang berasal dari kalangan Habib Ba‘alwī yang mengaku ngaku sebagai cucu nabi Muhammad saw tapi menjadikan nasab bukan sebagai warisan amanah, tetapi alat legitimasi kekuasaan spiritual, bahkan sebagai cara membungkam kritik terhadap penyimpangan.
Di antara mereka ada yang:
Memaksa umat menghormati mereka karena darah, bukan karena ilmu atau akhlak.
Mengaku memiliki maqam wali qutub, tanpa pernah menjalani riyāḍah ruhani yang benar.
Mengarang karamah khurafat, seperti terbang, bahkan mengaku mengalami mi‘raj puluhan kali setiap hari.
Salah satu klaim paling sesat dan melecehkan kenabian adalah pengakuan mi‘raj 70 kali per hari, yang menyiratkan bahwa maqam orang tersebut “melampaui” mukjizat Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ. Ini bukan hanya dusta spiritual, tapi bentuk penghinaan terhadap kemuliaan Nabi ﷺ.
Imam al-Ghazālī mengecam fenomena ini dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn:
“Tidak ada yang lebih berbahaya bagi agama daripada orang yang mengaku maqam tinggi tapi meninggalkan syariat. Ia adalah penipu terbesar yang merusak agama dari dalam.”[^2]
Mi‘raj Bohongan: Ketika Khurafat Melecehkan Mukjizat Nabi
Isra’ dan Mi‘raj adalah peristiwa tunggal dan mukjizat besar Nabi Muhammad ﷺ. Ia terjadi dalam konteks wahyu dan kehendak langsung Allah ﷻ, dan tidak pernah terjadi pada siapa pun sebelumnya maupun sesudahnya. Oleh karena itu, klaim mi‘raj harian oleh manusia biasa adalah bentuk ghuluw dan kebohongan terang-terangan.
Imam Abū ‘Abd ar-Raḥmān as-Sulamī dalam Ṭabaqāt aṣ-Ṣūfiyyah memperingatkan:
“Orang yang mengaku mencapai maqam kenabian, atau hal yang melampaui Nabi, sesungguhnya telah jatuh dalam perangkap syaitan, walaupun ia memakai pakaian orang zuhud.”[^3]
Penyebaran cerita mi‘raj harian ini bukan hanya menyesatkan, tapi juga membentuk sistem kultus, di mana tokoh spiritual dipuja setingkat atau bahkan melebihi Nabi ﷺ. Umat digiring untuk taklid buta dan menolak ilmu, hanya demi membela “wali” idolanya.
Manipulasi Nasab dan Pemalsuan Kesucian
Sebagian tokoh pseudo-wali juga terlibat dalam pemalsuan sejarah, rekayasa silsilah, dan penciptaan makam-makam fiktif. Mereka menyusun narasi bahwa seluruh warisan keberkahan Islam di Nusantara hanya datang dari jalur mereka, meskipun tidak disertai bukti ilmiah yang kuat.
Lebih mengkhawatirkan, dalam beberapa kasus:
- Makam palsu dijadikan alat komersialisasi ziarah.
- Santri atau pengikut perempuan dieksploitasi secara seksual, dengan dalih “melalui wali, bisa mendapatkan ampunan langsung dari Allah.”
- Ketika terungkap, para pelaku dilindungi dengan tameng “jangan menghina dzurriyyah Nabi.”
Imam Zakariyya al-Anṣārī dengan tegas menyatakan:
“Kemuliaan nasab tidak bermanfaat tanpa amal saleh. Siapa yang bersandar pada keturunan dan meninggalkan syariat, maka ia menistakan kehormatan yang diwarisinya.”[^4]
Trauma Spiritual dan Krisis Umat
Akibat dari semua ini adalah trauma spiritual kolektif. Banyak umat yang kecewa, bingung, dan akhirnya menjadi sinis terhadap agama. Mereka tidak lagi percaya pada ulama, mursyid, atau bahkan ajaran tasawuf yang benar, karena telah disakiti oleh para penipu bersorban.
Imam al-Ghazālī mengingatkan dalam nada prihatin:
“Orang awam akan menjauh dari tasawuf, bukan karena tasawuf salah, tapi karena ia telah dipalsukan oleh orang-orang yang menjadikan agama sebagai topeng dunia.”[^5]
Sistem Dajjal: Meniru Sunnah untuk Menyesatkan
Sistem Dajjal bekerja dengan menyerupai kebenaran. Ia tidak datang dalam bentuk setan yang menyeramkan, tetapi dalam rupa orang saleh palsu, membawa kitab, nasab, sorban, zikir, tapi hatinya penuh ambisi dunia.
Imam Asy-Syāṭhibī menegaskan dalam Al-I‘tiṣām:
“Bid‘ah itu menyerupai sunnah. Maka umat hanya bisa selamat jika memiliki ilmu untuk membedakan.”[^6]
Dalil-Dalil Kemenangan Kebenaran
Allah ﷻ berfirman:
فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمكثُ فِي ٱلْأَرْضِ
“Adapun buih akan hilang lenyap, sementara yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi.” (QS. Ar-Ra‘d: 17)
Rasulullah ﷺ bersabda:
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا
“Akan muncul para da‘i di pintu-pintu neraka. Siapa yang menjawab seruan mereka, akan dilemparkan ke dalamnya.” (HR. Bukhārī & Muslim, dari Hudzaifah Ibn al-Yamān)
Kesimpulan: Antara Permata dan Kaca
Akhir zaman adalah masa penuh ilusi. Umat Islam dituntut untuk tajam dalam membedakan antara permata dan kaca. Antara wali sejati dan wali Dajjal. Antara pewaris Nabi dan peniru Nabi.
Solusinya adalah kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah, ilmu, dan para ulama pewaris yang lurus, serta membersihkan hati dari ghuluw terhadap tokoh yang belum tentu benar.
Iman yang kokoh dibangun di atas ilmu dan bashirah, bukan pada kisah-kisah mimpi dan klaim ghaib yang tak bisa diuji. Hanya dengan membongkar sistem Dajjal ini umat akan kembali ke jalan yang lurus.
Catatan Kaki
[^1]: Al-Qurṭubī, At-Tadzkirah fī Aḥwāl al-Mawtā wa Umūr al-Ākhirah, hlm. 753.
[^2]: Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz 3, hlm. 128.
[^3]: Abū ‘Abd ar-Raḥmān as-Sulamī, Ṭabaqāt aṣ-Ṣūfiyyah, hlm. 78.
[^4]: Zakariyya al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib, Juz 4, hlm. 224.
[^5]: Al-Ghazālī, Iḥyā’, Juz 3, hlm. 19.
[^6]: Asy-Syāṭhibī, Al-I‘tiṣām, Juz 1, hlm. 49.