• About Us
  • Privacy Policy
  • Contact
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Tekno
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Keislaman
Beranda Keislaman

Wali Dajjal dan Kultus Nasab: Menyingkap Sistem Penipuan Spiritual di Akhir Zaman

oleh Admin
2 Juli 2025
dalam Keislaman
Waktu baca: 5 menit baca
A A
0
BAGIKAN
121
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Tb. Moggi Nurfadhil Satya

Pendahuluan: Dajjal sebagai Sistem

Dalam banyak hadis, Rasulullah ﷺ menggambarkan Dajjal sebagai makhluk akhir zaman bermata satu yang membawa fitnah besar bagi umat manusia. Namun, para ulama Ahlus Sunnah juga menjelaskan bahwa “Dajjal” bukan sekadar individu, tetapi bisa dimaknai sebagai sistem penyesatan besar-besaran yang beroperasi secara terstruktur dan global di berbagai bidang—termasuk agama dan spiritualitas.

Imam al-Qurṭubī menulis dalam At-Tadzkirah:
“Dajjal adalah sebutan bagi setiap pendusta dan penipu yang memperdaya manusia dengan tipu daya kebatilan.”[^1]

Dengan kerangka ini, kita dapat memahami bahwa kemunculan pseudo-wali, tokoh kultus nasab, dan spiritualis khurafat di zaman ini adalah bagian dari sistem Dajjaliyah. Mereka meniru penampilan para salihin dan memakai simbol suci, tapi menyimpang jauh dari jalan kenabian.

Fenomena Kultus Nasab dan Wali Rekayasa

Dewasa ini, sebagian tokoh yang berasal dari kalangan Habib Ba‘alwī yang mengaku ngaku sebagai cucu nabi Muhammad saw tapi menjadikan nasab bukan sebagai warisan amanah, tetapi alat legitimasi kekuasaan spiritual, bahkan sebagai cara membungkam kritik terhadap penyimpangan.

Di antara mereka ada yang:

Memaksa umat menghormati mereka karena darah, bukan karena ilmu atau akhlak.

Mengaku memiliki maqam wali qutub, tanpa pernah menjalani riyāḍah ruhani yang benar.

Mengarang karamah khurafat, seperti terbang, bahkan mengaku mengalami mi‘raj puluhan kali setiap hari.

Salah satu klaim paling sesat dan melecehkan kenabian adalah pengakuan mi‘raj 70 kali per hari, yang menyiratkan bahwa maqam orang tersebut “melampaui” mukjizat Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ. Ini bukan hanya dusta spiritual, tapi bentuk penghinaan terhadap kemuliaan Nabi ﷺ.

Imam al-Ghazālī mengecam fenomena ini dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn:
“Tidak ada yang lebih berbahaya bagi agama daripada orang yang mengaku maqam tinggi tapi meninggalkan syariat. Ia adalah penipu terbesar yang merusak agama dari dalam.”[^2]

Mi‘raj Bohongan: Ketika Khurafat Melecehkan Mukjizat Nabi

Isra’ dan Mi‘raj adalah peristiwa tunggal dan mukjizat besar Nabi Muhammad ﷺ. Ia terjadi dalam konteks wahyu dan kehendak langsung Allah ﷻ, dan tidak pernah terjadi pada siapa pun sebelumnya maupun sesudahnya. Oleh karena itu, klaim mi‘raj harian oleh manusia biasa adalah bentuk ghuluw dan kebohongan terang-terangan.

Imam Abū ‘Abd ar-Raḥmān as-Sulamī dalam Ṭabaqāt aṣ-Ṣūfiyyah memperingatkan:
“Orang yang mengaku mencapai maqam kenabian, atau hal yang melampaui Nabi, sesungguhnya telah jatuh dalam perangkap syaitan, walaupun ia memakai pakaian orang zuhud.”[^3]

Penyebaran cerita mi‘raj harian ini bukan hanya menyesatkan, tapi juga membentuk sistem kultus, di mana tokoh spiritual dipuja setingkat atau bahkan melebihi Nabi ﷺ. Umat digiring untuk taklid buta dan menolak ilmu, hanya demi membela “wali” idolanya.

Manipulasi Nasab dan Pemalsuan Kesucian

Sebagian tokoh pseudo-wali juga terlibat dalam pemalsuan sejarah, rekayasa silsilah, dan penciptaan makam-makam fiktif. Mereka menyusun narasi bahwa seluruh warisan keberkahan Islam di Nusantara hanya datang dari jalur mereka, meskipun tidak disertai bukti ilmiah yang kuat.

Lebih mengkhawatirkan, dalam beberapa kasus:

  1. Makam palsu dijadikan alat komersialisasi ziarah.
  2. Santri atau pengikut perempuan dieksploitasi secara seksual, dengan dalih “melalui wali, bisa mendapatkan ampunan langsung dari Allah.”
  3. Ketika terungkap, para pelaku dilindungi dengan tameng “jangan menghina dzurriyyah Nabi.”

Imam Zakariyya al-Anṣārī dengan tegas menyatakan:
“Kemuliaan nasab tidak bermanfaat tanpa amal saleh. Siapa yang bersandar pada keturunan dan meninggalkan syariat, maka ia menistakan kehormatan yang diwarisinya.”[^4]

Trauma Spiritual dan Krisis Umat

Akibat dari semua ini adalah trauma spiritual kolektif. Banyak umat yang kecewa, bingung, dan akhirnya menjadi sinis terhadap agama. Mereka tidak lagi percaya pada ulama, mursyid, atau bahkan ajaran tasawuf yang benar, karena telah disakiti oleh para penipu bersorban.

Imam al-Ghazālī mengingatkan dalam nada prihatin:
“Orang awam akan menjauh dari tasawuf, bukan karena tasawuf salah, tapi karena ia telah dipalsukan oleh orang-orang yang menjadikan agama sebagai topeng dunia.”[^5]

Sistem Dajjal: Meniru Sunnah untuk Menyesatkan

Sistem Dajjal bekerja dengan menyerupai kebenaran. Ia tidak datang dalam bentuk setan yang menyeramkan, tetapi dalam rupa orang saleh palsu, membawa kitab, nasab, sorban, zikir, tapi hatinya penuh ambisi dunia.

Imam Asy-Syāṭhibī menegaskan dalam Al-I‘tiṣām:
“Bid‘ah itu menyerupai sunnah. Maka umat hanya bisa selamat jika memiliki ilmu untuk membedakan.”[^6]

Dalil-Dalil Kemenangan Kebenaran

Allah ﷻ berfirman:

Artikel Terkait

الحمض النووي يجوز استخدامه لنفي النسب ولا يجوز لإثباته

الاستفادة من الحمض النووي لنفي نسب الدخلاء على نسب النبي صلى الله عليه وسلم واجبة شرعا: رد الشيخ عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي على بعض قرارات مجلس المجمع الفقهي الاسلامي بمكة المكرمة بشأن البصمة الوراثية

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

لايجوز إثبات النسب بالشهرة والإستفاضة إذا وجد المعارض: رد الشيخ عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي على الشيخ ابراهيم بن منصور من علماء المملكة العربية السعودية

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمكثُ فِي ٱلْأَرْضِ

“Adapun buih akan hilang lenyap, sementara yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi.” (QS. Ar-Ra‘d: 17)

Rasulullah ﷺ bersabda:

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا

“Akan muncul para da‘i di pintu-pintu neraka. Siapa yang menjawab seruan mereka, akan dilemparkan ke dalamnya.” (HR. Bukhārī & Muslim, dari Hudzaifah Ibn al-Yamān)

Kesimpulan: Antara Permata dan Kaca

Akhir zaman adalah masa penuh ilusi. Umat Islam dituntut untuk tajam dalam membedakan antara permata dan kaca. Antara wali sejati dan wali Dajjal. Antara pewaris Nabi dan peniru Nabi.

Solusinya adalah kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah, ilmu, dan para ulama pewaris yang lurus, serta membersihkan hati dari ghuluw terhadap tokoh yang belum tentu benar.

Iman yang kokoh dibangun di atas ilmu dan bashirah, bukan pada kisah-kisah mimpi dan klaim ghaib yang tak bisa diuji. Hanya dengan membongkar sistem Dajjal ini umat akan kembali ke jalan yang lurus.

Catatan Kaki

[^1]: Al-Qurṭubī, At-Tadzkirah fī Aḥwāl al-Mawtā wa Umūr al-Ākhirah, hlm. 753.
[^2]: Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz 3, hlm. 128.
[^3]: Abū ‘Abd ar-Raḥmān as-Sulamī, Ṭabaqāt aṣ-Ṣūfiyyah, hlm. 78.
[^4]: Zakariyya al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib, Juz 4, hlm. 224.
[^5]: Al-Ghazālī, Iḥyā’, Juz 3, hlm. 19.
[^6]: Asy-Syāṭhibī, Al-I‘tiṣām, Juz 1, hlm. 49.

TerkaitArtikel

Berita

الحمض النووي يجوز استخدامه لنفي النسب ولا يجوز لإثباته

oleh Admin
13 Januari 2026
0
4

(مسئلة) اذا مات أحمد وله ثلاثة ابناء ثم جاء عبيد وادعى انه ابنه من أم أخرى وليس له بينة بزوجية...

Baca lebihDetails

الاستفادة من الحمض النووي لنفي نسب الدخلاء على نسب النبي صلى الله عليه وسلم واجبة شرعا: رد الشيخ عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي على بعض قرارات مجلس المجمع الفقهي الاسلامي بمكة المكرمة بشأن البصمة الوراثية

12 Januari 2026
3

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

10 Januari 2026
1

لايجوز إثبات النسب بالشهرة والإستفاضة إذا وجد المعارض: رد الشيخ عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي على الشيخ ابراهيم بن منصور من علماء المملكة العربية السعودية

10 Januari 2026
1

فتوى الشيخ عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي حول عدم ثبوت نسب عائلة باعلوي في تريم الى رسول الله صلى الله عليه وسلم شرعا وتاريخيا وجينيا

7 Januari 2026
1

Mbah Hasyim Tidak Mempunyai Guru Klan Habib Ba’Alwi

19 Desember 2025
3

Terbaru

Opini

POLEMIK TAMBANG NU: NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

oleh Admin
25 Januari 2026
0
11

وَإِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُحِبُّ الدُّنْيَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ “ Jika engkau melihat seorang alim mencintai dunia, maka ketahuilah bahwa ia...

Baca lebihDetails

POLEMIK TAMBANG NU: NABI MENOLAK, PBNU JUSTRU MENERIMA

Sowan CCKI ke Cidahu, Abuya Muhtadi Tegaskan: “Nggak Ada Habib Yang Cucu Nabi”

DNA Berhaplogroup G, Apakah Klan Ba’Alwi Keturunan Budak Bani Hasyim?

Haul ke-345 Raden Aria Wangsakara: Banten Bergema dengan Semangat Sang Pahlawan

Hikmah Perseteruan Rais Aam & Ketum PBNU: Pelajaran Tentang Husnudzon, Keadilan, dan Sikap Beragama

Mendukung Tesis KH. Imaduddin Utsman Terhadap Nasab Ba’alawi

Prev Next

BeritaPopuler

Dilaporkan, Gus Fuad Banjir Dukungan Pribumi Nusantara

oleh Admin
30 Maret 2025
0
556

Panitia Haul Syekh Nawawi Al-Bantani ke-132: Tepis Isu Miring Didanai PIK 2

oleh Admin
24 April 2025
0
431

Rizieq Shihab Dilaporkan Ke Polres Banyuwangi

oleh Admin
14 April 2025
0
429

newsky.id

Copyright © 2025

Navigasi

  • Nasional
  • Tekno
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Keislaman

Ikuti Kami

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

Copyright © 2025