Lebih dari setengah juta warga Lebanon tercatat meninggalkan tempat tinggal mereka setelah konflik kembali memanas antara Israel dan kelompok Hezbollah. Eskalasi ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan regional yang berkaitan dengan perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menteri Urusan Sosial Lebanon, Haneen Sayed, menyampaikan bahwa hingga akhir pekan tercatat sekitar 517.000 orang telah mendaftarkan diri sebagai pengungsi melalui platform daring milik kementeriannya. Dari jumlah tersebut, sekitar 117.228 orang kini tinggal di tempat penampungan yang disediakan pemerintah sejak pertempuran kembali berlangsung pada awal pekan lalu.
Situasi ini berkembang seiring meluasnya operasi militer Israel di Lebanon. Untuk pertama kalinya sejak konflik terbaru pecah, serangan dilaporkan mencapai pusat ibu kota Beirut. Eskalasi tersebut memperburuk dampak kemanusiaan, dengan laporan 394 korban jiwa dalam sepekan, termasuk 83 anak-anak, 42 perempuan, serta sembilan petugas penyelamat, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Publik Lebanon.

Pada Minggu dini hari, sebuah drone Israel dilaporkan menyerang sebuah kamar hotel di kawasan pesisir Raouche. Area tersebut dikenal sebagai destinasi wisata di Beirut dan belakangan juga menjadi lokasi penampungan sementara bagi ribuan warga yang mengungsi dari daerah konflik.
Otoritas kesehatan Lebanon menyebutkan empat orang tewas dan sepuluh lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Sementara itu, militer Israel menyatakan operasi tersebut menargetkan tokoh penting dari pasukan elit Iran. Menurut pernyataan resmi, serangan itu menewaskan lima komandan senior Pasukan Quds, unit operasi luar negeri dari Islamic Revolutionary Guard Corps.
Pihak militer Israel menuduh para komandan tersebut terlibat dalam perencanaan serangan terhadap Israel dari wilayah Lebanon.
Kawasan Raouche sendiri sebelumnya relatif aman selama konflik terakhir antara Israel dan Hezbollah yang berakhir dengan gencatan senjata pada November 2024. Namun, laporan menyebutkan bahwa sejak kesepakatan tersebut tercapai, berbagai pelanggaran terhadap gencatan senjata masih kerap terjadi.
Berita ini dirangkum dari laporan yang dipublikasikan oleh Al Jazeera. (KD)





