Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara
Prolog
Sebenarnya sudah lama saya ingin merampungkan tulisan ini tapi pada saat itu timingnya saya nilai belum tepat. Masyarakat masih terkonsentrasikan pada turbulensi polemik nasab habib, eksekusi kuburan palsu dan pemalsuan sejarah. Pada tanggal 08 April 2026 ini situasinya saya pikir sudah agak settle sehingga masyarakat luas, khususnya Nahdliyyin, relatif sudah memiliki ruang dan waktu guna berpikir lebih mendalam dan meluas tentang relasi NU dan Klan Habib Baalwi ke depannya.
Dengan suatu pertimbangan, saya harus mengucapkan ini bahwa apa-apa yang saya tuliskan ini tidak mengada-ada dalam artian sesuatu yang tidak begitu lalu saya plintir menjadi begitu dengan permainan kata-kata dan pikiran untuk memanipulasi pikiran pembaca. Pemaparan saya ini juga bukan hadir dari sentimen atau emosi. Apa yang saya paparkan ini murni dari kalkulasi data dan situasi. Anda dan siapa saja bisa langsung menguji setiap apa yang saya sampaikan.
Separate and Distinct
Menurut saya, organisasi NU baik struktural maupun kulturalnya harus memisahkan diri (separate) dan membedakan diri (distinct) dengan Klan Habib Baalwi. ‘Memisahkan diri’ (separation) di sini maksudnya bukan bermusuhan—jangan diplesetkan begitu—maksudnya adalah dalam rangka menuju pembedaan (distinction) antara NU dengan Klan Habib Baalwi. Ini hanya suatu tahapan logis saja, sebelum melakukan pembedaan langkah yang harus ditempuh adalah memisahkan diri terlebih dahulu. Pemisahan dan pembedaan ini penting supaya jelas, terang, dan nyata di benak (perspektif) masyarakat umum dan outsider mengenai mana yang NU dan mana yang Klan Habib Baalwi.
Jika tidak dilakukan separasi dan distingsi persepsi, publik khususnya nahdliyyin yang mayoritas awam dan pihak outsider akan tetap pada paradigma: Baalwi adalah NU, NU adalah Baalwi; ajaran Baalwi adalah ajaran NU, ajaran NU adalah ajaran Baalwi; value Baalwi adalah value NU, value NU adalah value Baalwi; identitas Baalwi adalah identitas NU, identitas NU adalah identitas Baalwi; acara Baalwi adalah acara NU, acara NU adalah acara Baalwi; gerakan Baalawi adalah gerakan NU, gerakan NU adalah gerakan Baalawi. Meski aslinya keduanya berbeda, keadaan iltibas di persepsi publik itu akan membingungkan masyarakat luas dan outsider (misalnya negara dan umat beragama lain), konsekuensinya membuat keputusan dan pandangan terhadap NU juga bisa menjadi melenceng teramat jauh.
Pemisahan dan pembedaan tidak perlu dilakukan jika memang NU secara tegas menyatakan dirinya sama dengan ajaran, karakteristik, dan gerakan Klan Habib Baalwi. Jika jelas begitu, malah itu lebih baik bagi masyarakat, masyarakat bisa dengan jelas menentukan sikap dengan pikiran yang terang mau ikut NU atau tidak. Jika tidak jelas, mungkin bisa dikatakan NU menipu masyarakat atau masyarakat tertipu oleh NU, sebab masyarakat inginnya ikut NU kok malah yang diperoleh adalah ikut Klan Habib Baalwi. Inginnya masuk surga, dilalah kok tibanya di neraka.
Sepanjang observasi saya pada keadaan pra-tesis Kyai Imad, masyarakat mengalami kesalahpahaman persepsi bahwa “Habib Baalwi = NU, NU = Habib Baalwi”. Mispersepsi itu tercipta karena beberapa hal. Pertama, dipropagandakan oleh Klan Habib Baalwi sendiri dan budak-budaknya. Kedua, endorse dari para Kyai NU sendiri seperti misalnya Taufik Assegaf sampai dijadikan pendoa bersanding dengan Abuya Muhtadi pada suatu acara besar NU. Ketiga, acara konser shalawat yang hampir selalu menampilkan duet Kyai NU dan habib—masyarakat mengira setiap acara habib adalah acara NU. Dampak mispersepsi itu adalah masyarakat menduga bahkan meyakini ajaran Habib adalah ajaran NU, melawan Habib sama dengan melawan NU, ikut Habib sama dengan ikut NU.
Kalau NU memang tidak sama dengan Klan Habib Baalwi, separation and distinction merupakan langkah yang mesti dilakukan. Mungkin frase yang dapat penulis tawarkan: NU Kembali ke Khittah Khittah atau NU Kembali ke Khittah 2.0. Khittah 1.0 adalah Khittah NU 1984 kembali ke khittah bentuk dan orientasi organisasi NU. Khittah NU 1984 adalah keputusan monumental Muktamar ke-27 NU di Situbondo untuk kembali ke dasar pendirian tahun 1926. Ini menegaskan NU sebagai organisasi sosial-keagamaan (jami’yyah diniyyah ijtima’iyyah), bukan politik praktis, serta menjadi landasan berpikir dan bertindak warga NU untuk fokus pada dakwah, pendidikan, dan kemasyarakatan.[1] Saya kira tidak apa-apa saya sematkan bahwa itu adalah kembali ke khittah formil-materiil. Sedangkan Khittah 2.0 aksentuasinya pada kembali ke khittah substansiil dan nilai karena substansi dan nilai NU sudah mengalami perubahan atau percampuran dengan Klan Habib Baalwi. Maka diperlukan kembali ke Khittah substansiil dan nilai NU. Dalam keadaan demikian sudah sebantennya NU melakukan purifikasi NU.
Purifikasi NU di sini bukan sebagaimana yang dipahami pada purifikasi agama melainkan maksudnya adalah NU itu aslinya seperti apa, konsepnya apa, nilainya apa, kembalilah ke situ—kembalilah ke core concept dan core value itu, tegaskan itu baik ke internal dan eksternal, dan teguhlah di situ. Jangan ke mana-mana. Yang tidak sesuai dengan core concept dan value itu, keluarkan saja. ‘Gus Yahya dkk sudah dan sedang melakukan itu’, ya, saya juga memahami bahwa Gus Yahya dkk sudah dan sedang melakukannya. Tapi mungkin butuh, tidak ada salahnya, mungkin juga sangat bagus—dibikin monumen sosio-historisnya sebagaimana Khittah 1984 di Muktamar 27 Situbondo sehingga setiap batin Nahdliyyin tertegaskan kiblat batin ber-NU-nya ke mana dan seperti apa.
Lain daripada itu, kalau NU memang memutuskan sama dengan Klan Habib Baalwi, maka langkah itu tak diperlukan. Pada pokoknya: yang penting jelas NU ini apa dan jelas pula di benak masyarakat NU ini apa. Kalau selalu tidak jelas, internal NU dan eksternal akan selalu turbulen akibat konflik identitas sebab ketidakjelasan identity.
Hal ini sebenarnya biasa saja apabila pembaca memiliki kemampuan memisahkan antara kecenderungan emosi pribadi (subjektifitas) dengan akal murni (objektifitas); dan kepentingan politik praktis dengan kepentingan idealisme organisasi. Ini biasa saja, normal, wajar, sebagaimana NU membedakan diri dengan Syiah, sebagaimana NU membedakan diri dengan Muhammadiyah, PERSIS, LDII dan ormas lainnya. Vice versa.
Dalam hal ini Muhammadiyah bisa dijadikan benchmark. Muhammadiyah mengalami hal serupa yang dialami NU mengenai Klan Habib Baalwi. Lihat Buku Ilusi Negara Islam (Gus Dur, Gus Mus, LibFor All Foundation, dkk, 2009).[2] Saya kutipkan beberapa hal sebagai highlightnya:
Gerakan garis keras transnasional dan kaki tangannya di Indonesia sebenarnya telah lama melakukan infiltrasi ke Muhammadiyah. Dalam Muktamar Muhammadiyah pada bulan Juli 2005 di Malang, para agen kelompok-kelompok garis keras, termasuk kader-kader PKS dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi ketua PP. Muhammadiyah. Namun demikian, baru setelah Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan mudik ke desa Sendang Ayu, Lampung, masalah infiltrasi ini menjadi kontroversi besar dan terbuka sampai tingkat internasional. (h. 23)
Lampiran 1: Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah No. 149/KEP/I.0/B/2006, untuk membersihkan Muhammadiyah dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). (h. 239)
NU juga mengeluarkan dokumen sejenis itu pada Lampiran 2: Dokumen Penolakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap Ideologi dan Gerakan Ekstremis Transnasional. (h. 251)
Sudah sejak 20 tahun yang lalu Muhammadiyah dengan tegas bersih-bersih. Melakukan pemisahan dan pembedaan lalu konsolidasi internal. Saya dengan sangat kuat para pembaca mengkaji kembali Buku Ilusi Negara Islam secara keseluruhan dan secara khusus mengamati SKPP Muhammadiyah No. 149 di atas.
Bagi yang belum membaca buku tersebut, ini supaya Anda aware petanya seperti apa dan apa yang sudah dan sedang terjadi, bahwa, menurut analisis saya, apa yang terjadi di tubuh NU baik struktural maupun kultural yang 3-4 tahun terakhir ini terekspos masif ke publik (yaitu polemik nasab dan Baalwisasi-Yamanisasi) merupakan kelanjutan peristiwa yang diceritakan di Buku Ilusi Negara Islam. Dengan sederhana, Muhammadiyah diinfiltrasi oleh PKS, HTI, dan Wahabi-Salafi; NU diinfiltrasi oleh FPI, Rabithah Alawiyah atau Klan Habib Baalwi—bisa juga kita ekstensi ke Syiah dan Sekte Baalwi (Tarekat Alawiyah). Kalau kita tarik ke belakang ke sejarah yang lebih panjang, ini juga rentetan kelanjutan proyek Arabisasi yang dikemas-selewengkan sebagai Islamisasi—makanya kemudian muncullah antitesanya berupa Pribumisasi Islam dan dilanjutkan dengan konsep Islam Nusantara.[3] Mereka hendak melakukan pemusnahan kultural (cultural genocide) terhadap Budaya Nusantara dan mengendalikan negara Indonesia—ini jauh lebih berbahaya daripada bom (Ilusi Negara Islam hal. 71). Lebih dari itu, Klan Habib Baalwi tidak hanya melakukan upaya cultural genocide namun juga melakukan upaya pemusnahan identitas Bangsa Pribumi melalui pemalsuan sejarah, kuburan, dan identitas leluhur-leluhur Pribumi; yang kemudian diambil alih sebagai milik Klan Habib Baalwi. Itu Epistemicide & Ethnocide. Jika cultural genocide dikatakan oleh Gus Dur dkk sebagai jauh lebih berbahaya daripada bom, amatlah pantas kita katakan apa yang dilakukan Klan Habib Baalwi sebagai jauh lebih berbahaya daripada bom nuklir sebab mereka tak hanya melakukan cultural genocide tetapi lengkap hingga epistemicide dan ethnocide. Tentang ethnocide bisa baca buku KH. Imaduddin Utsman Al Bantani dan saya yang berjudul “Mengapa Penting Mengetahui Habib Baalwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad Saw” khususnya di Part 2.
Kembali ke Muhammadiyah sebagai benchmark.
Selain melakukan pembersihan diri terhadap PKS, Muhammadiyah juga dengan tegas melakukan pemisahan dan pembedaan dirinya dengan Wahabi-Salafi.[4] Muhammadiyah mengedukasi internal dan eksternal tentang itu melalui buku, website, ceramah, infografis, mediao sosial dan berbagai upaya lainnya. Muhammadiyah melakukan itu karena Muhammadiyah dan Wahabi (Salafi) sering dianggap serupa karena sama-sama menekankan purifikasi (pemurnian) ajaran Islam dari syirik dan bid’ah. Padahal Muhammadiyah dan Wahabi-Salafi berbeda secara mendasar. Edukasi pemisahan dan pembedaan itu penting dilakukan supaya warga MD sendiri dan eksternal (outsider) tidak salah paham menduga Muhammadiyah = Wahabi-Salafi. Jika tidak dilakukan, bisa-bisa warga MD terseret semuanya ke orang-orang Wahabi-Salafi dan atau mengizinkan Wahabi-Salafi masuk ke MD padahal Muhammadiyah bukanlah Wahabi-Salafi dan Wahabi-Salafi bukanlah Muhammadiyah. Bisa-bisa hilang identitas Muhammadiyah.
Dalam hal oknumisasi. Muhammadiyah tidak mengatakan bersih-bersih dari oknum PKS. Muhammadiyah mengatakan lugas “membersihkan Muhammadiyah dari PKS”. Semuanya—tidak oknum, dan semua anasirnya.
Semestinya, NU juga demikian demi menyelamatkan NU baik keselamatan eksistensi formal organisasinya maupun eksistensi substansinya (hakikatnya). Bersihkan NU dari Klan Habib Baalwi (Rabithah Alawiyah), semuanya. Hatta kitab-kitabnya karena itu juga menjadi tools mempengaruhi NU dengan cara membuat NU berpikir dan merasa berhutang budi dan tunduk patuh kepada Klan Habib Baalwi.
Oknumisasi Habib & Strategi Multi-brand
Tuan-tuan Rahimakumullah. Tidak ada oknum habib. Semuanya sama hanya beda tupoksi saja. Mengapa? Karena menggunakan analisis Who Is Benefiting[5] semua habib baik yang bergerak aktif dan yang pasif bergerak selaras dan serempak kepada satu tujuan yang sama yaitu Supremasi Klan Habib Baalwi di tubuh NU secara khusus dan secara umum terhadap seluruh Bangsa Pribumi. Yang pasif tidak menginterupsi yang aktif dan diamnya yang pasif menguntungkan yang aktif. Kedua bagian itu menguntungkan satu pihak pada puncaknya yaitu Habib (Baalwi) dan Rabithah Alawiyah sebagai organisasinya.
Jika Anda berkata ada habib baik mengkritisi habib jahat itu mekanismenya sebagaimana keributan pada merek Oppo dan Vivo. Keributan dan persaingan Oppo vs Vivo merupakan bagian dari strategi multi-brand BBK Electronics, yang juga menaungi Realme, OnePlus, dan iQOO. Pendekatan ini membuat BBK tetap menang di pasar, tidak peduli konsumen memilih Oppo maupun Vivo. Ujung puncaknya ada di BBK Electronics. Keributan antara habib baik dan habib jahat itu menguntungkan seluruh habib karena keributan antar habib itu menimbulkan dampak meluasnya awareness dan influence seluruh Habib sebagai Dzurriyah Nabi. Masyarakat menjadi berpikir “itu pertikaian antar dzurriyah Nabi, yang bukan dzurriyah Nabi tidak usah ikut-ikut, silakan ikut habib yang keras atau yang lembut sama saja, sama-sama dzurriyah Nabi”. Konstruksi lanjutannya adalah tersebarnya core doctrine “Habib = [satu-satunya] Cucu Nabi= Rasul = Allah = Islam itu sendiri”.[6] Pada puncaknya seluruh keuntungan konvergen ke Rabithah Alawiyah (Habib Baalwi) dan simultan yang ditenggelamkan adalah para Kyai NU dan pribumi. Ketika hadir tesis Kyai Imad, ilmu DNA Dr. Sugeng, dan filologi Prof. Menachem Ali, yang membuktikan Habib bukan dzurriyah Nabi, konstruksi itu runtuh semuanya. Masyarakat berbalik pemahamannya menjadi “sesama cucu palsu bertengkar, sesama imigran Yaman sesat bertengkar”. Simpulnya itu ada di merek “Habib” di mana “Habib = [satu-satunya] dzurriyah Nabi”. Ketika simpul itu lepas berantakanlah semuanya itu.
Begitu, Tuan-Tuan Rahimakumullah.
Ada sebagian orang dan elite NU yang masih berteguh hati bahwa yang melakukan kejahatan itu ‘oknum habib, jangan digebyah uyah’. Sekali lagi, tidak ada oknum habib sebagaimana tidak ada oknum PKS. Tidak ada oknum Yamaha meski yang menjadi bintang iklannya hanya satu orang yaitu Komeng yang membuat Iklan Yamaha hanya beberapa orang. Saya telah menjabarkannya pula pada tulisan Retrospeksi dan Refleksi Tahun ke-2 Polemik Nasab.[7]
Kalau masih berteguh bahwa itu hanya oknum-oknum habib, mari buktikan, diuji saja habib yang Anda katakan baik itu. Jangan uji tentang nasab tetapi ujilah tentang pemalsuan kuburan, sejarah, dan identitas serta doktrin dan khurafat Klan Habib Baalwi.
Saya memperkirakan kyai NU dan elite NU yang tetap kooperatif-akomodatif dengan Klan Habib Baalwi menggunakan dalil Ikrimah anak Abu Jahal dan bahwa ada bangsa Yahudi yang baik ke umat Islam. Yang dilihat adalah sisi kualitatifnya jangan kuantitatif-primordialnya. Iya, saya memahaminya. Jika demikian, lakukanlah prosedur detailnya sebagaimana termuat pada dalil itu yaitu minta dia ‘bersyahadat’ terang-terangan dalam arti berbaiat kepada NU sesuai ajaran, tarekat (jalan) dan core value NU; dan minta dia terang-terangan mendeklarasikan di hadapan publik dia bukan Cucu Nabi Saw dan dia melepaskan diri dari tarekat Baalwi, melepaskan diri dari Klan Habib Baalwi dan Rabithah Alawiyah untuk kemudian melawan kejahatan-kejahatan Tarekat Baalwi, Klan Habib Baalwi dan Rabithah Alawiyah. Harus jelas dan terang benderang tidak boleh bersikap ambigu dan iltibas. Kan begitu kalau mau konsekwen dengan konsep pada dalil tersebut.
Baalwisasi-Yamanisasi adalah Bom Waktu NU(?)
Terjadinya pemalsuan kuburan, identitas, dan sejarah yang masif dilakukan Klan Habib Baalwi adalah fakta. Dan ketika semua itu terjadi Klan Habib Baalwi terasosiasi atau mengasosiasikan diri dengan NU. Dengan kata lain NU bisa saja dikatakan terlibat pada kasus Baalwisasi-Yamanisasi baik secara aktif maupun pasif. Ini akan menjadi bom waktu bagi NU karena Baalwisasi-Yamanisasi bukanlah hal ringan, ia kasus kejahatan berat atau kejahatan kemanusiaan dan berurusan dengan keamanan, kedaulatan dan eksistensi bangsa dan negara. Sangat besar kemungkinannya memenuhi kriteria kejahatan ethnosida yang merupakan langkah linear ke genosida. Potensi NU diseret-seret ke kasus Baalwisasi-Yamanisasi di masa depan nanti tidak bisa dibilang tidak ada sama sekali. Pihak-pihak yang hendak melemahkan atau bahkan menghapus NU bisa saja menggunakan kasus Baalwisasi-Yamanisasi sebagai tools dan pintu masuk.
Bisa saja di masa depan itu tidak terjadi apabila PBNU memiliki cara-cara antisipatif tertentu dengan dan demi tetap kooperatif-akomodatif terhadap Klan Habib Baalwi. Namun demikian, rekaman fakta-fakta terjadinya Baalwisasi-Yamanisasi tetaplah ada di realitas. Utamanya yang bersangkutan dengan kejahatan pemalsuan kuburan, identitas, dan sejarah Kraton Ngayogyakarta efek dominonya tidak satu jengkal.
Data-data fakta Baalwisasi-Yamanisasi bertebaran di internet dan di luar sana. Pelakunya terasosiasi dengan organisasi NU. Yang memerangi Baalwisasi-Yamanisasi adalah NU kultural, grass-roots dan berbagai elemen lainnya. PBNU dan elite-elite NU bagaimana? Diam, membela pelakunya yaitu Klan Habib Baalwi, tetap kooperatif-akomodatif terhadap Klan Habib Baalwi, bahkan menghina, memfitnah, menghantam dan menginjak pribumi yang sedang berjuang. Komposisi sikap PBNU itu tidak kecil kemungkinannya di masa depan nanti akan dibaca sebagai sikap anti-NKRI, dukungan aktif penjajahan dan etnosida-genosida terhadap pribumi, dukungan terhadap upaya makar (subversif) terhadap negara, dan entah apa lagi lainnya sebab kita tidak tahu orang masa depan nanti akan membaca dan mengolahnya bagaimana dan untuk apa.
Bisa saja Anda berpendapat bahwa Bom Waktu itu tidak akan meledak. Bisa saja orang lain berpendapat bom waktu itu cepat atau lambat akan meledak. Atau dengan variasi pendapat lainnya. Berbagai pendapat itu sah-sah saja dan masih di ranah artikulasi pikiran saja belum fakta. Yang sudah pasti fakta dan ada datanya nyata di realitas adalah Baalwisasi-Yamanisasi—pemalsuan ratusan bahkan ribuan kuburan, sejarah dan identitas yang mengancam eksistensi pribumi, bangsa dan negara. Fakta dan data itu bisa jadi bom waktu bisa jadi juga tidak tetapi tetaplah ada probabilitas bisa menjadi bom waktu dan meledak suatu saat nanti. Entah itu bom waktu atau tidak, entah itu akan meledak atau tidak; yang pasti tidak merugikan NU adalah membuang yang patut diduga sebagai bom waktu dari tubuhnya sebelum terlambat. Worst case scenario-nya, ambil amannya, anggap saja itu bom waktu, maka entah nantinya meledak atau tidak—terserah masa depan—yang sudah pasti NU tidak terkena ledakannya adalah jika secepat mungkin hari ini membuang bom waktu yang ada di tubuhnya.
[1] Lihat https://www.nu.or.id/nasional/khittah-nu-44rmP
[2] Download Buku Ilusi Negara Islam https://ia800602.us.archive.org/25/items/ebook_aswaja/ILUSI_NEGARA_ISLAM.pdf
[3] Sebagai gambaran lihat Gus Dur: Arabisasi, Samakah dengan Islamisasi? https://gusdur.net/arabisasi-samakah-dengan-islamisasi/ (arsip 2006)
[4] Lihat https://web.suaramuhammadiyah.id/2021/06/15/perbedaan-muhammadiyah-dan-salafi-wahabi
[5] Liha penjelasan penulis di sini https://rminubanten.or.id/who-is-benefiting-dari-baalwisasi-yamanisasi-klan-habib-baalwi/
[6] Baca penjelasan saya di sini https://rminubanten.or.id/habib-baalwis-doctrine-psycho-linguistic-model-pattern-and-its-impact-to-nusantara/
[7] https://pwils.net/retrospeksi-tahun-ke-2-polemik-nasab-klan-baalwi-pelaku-kejahatan-luar-biasa-dan-pembelanya-pengkhianat-bangsa-dan-negara-indonesia/














