• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Opini

Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?
0
BAGIKAN
1
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Latar Belakang

Tulisan ini didorong adanya perendahan terselubung dari seorang netizen kepada saya dengan dalih itu sebuah kritikan atas tulisan saya yang menjadikan Baalawi sebagai bahan olok-olokan atau ejekan. Dilihat dari caranya mengkritik nampaknya dia tidak mengetahui cara menyampaikan kritik dan saran; nampaknya pula dia tidak mengetahui perbedaan antara mengkritik, melecehkan, merendahkan dan mencacimaki. Ketidakmengertian membedakan hal tersebut menjadikan orang kerap tergelincir. Mengira mengkritik namun terjatuh pada melecehkan. Mengira dirinya berbuat baik padahal sedang berbuat buruk. Ini problem yang umum ditemui di tengah masyarakat khususnya di media sosial dan sudah sejak lama penulis mendidik publik di media sosial sebelah mengenai hal-hal tersebut. Namun demikian, mari kita lakukan lagi sebagai pengingatan kembali, penajaman, sekaligus mendudukkan perkara komunikasi kepada Baalawi yang di awal polemik nasab bergulir beberapa Kyai yang berkomunikasi dengan penulis terindikasi mengalami, yang saya sebut, mental block. Itu hal yang wajar karena kultur Bangsa Asia, Bangsa Nusantara dan mengerucut pada para Kyai, pada umumnya tidak terbiasa dengan pola komunikasi terbuka frontal.

Sebagai dasar, mari kita mulai dari …

Low Context dan High Context

Kebudayaan, termasuk bagaimana masyarakatnya berkomunikasi, dapat dipandang dalam dua kategori. Pertama, low context. Kedua, high context.

Low context culture (budaya konteks rendah) adalah gaya komunikasi yang mengutamakan keterusterangan (eksplisit), kejelasan (clarity), dan efisiensi, di mana pesan disampaikan secara eksplisit melalui kata-kata verbal/tertulis, bukan isyarat tersirat. Budaya ini menekankan fakta, aturan, dan kontrak tertulis. Sering ditemukan di AS, Jerman, dan Swiss.

High context culture (budaya konteks rendah) adalah budaya atau masyarakat yang berkomunikasi terutama melalui penggunaan elemen kontekstual, seperti bentuk-bentuk bahasa tubuh tertentu, status individu, dan nada suara yang digunakan selama berbicara. Gaya komunikasi implisit, halus, filosofis, isyarat lembut. Jepang, Tiongkok dan Nusantara merupakan beberapa kawasan yang berbudaya konteks tinggi.

Meski dibedakan menjadi dua kategori besar, itu hanya sebagai pengidentifikasian umum saja pada suatu budaya kawasan. Pada skup yang lebih detail, low dan high context terdapat pada setiap kebudayaan dan interaksi sesuai konteks-konteks spesifik. Low context dan high context tidaklah pula hendak mengatakan para penggunanya cerdas atau kurang cerdas, beradab atau tidak beradab. Ia hanya pengidentifikasian akan ‘kerumitan kompleksitas’ susunan-susunan anasir pada suatu budaya dan komunikasi. Low context dan high context pun pula tidak mengatakan mana yang lebih superior. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan terlebih apabila diperhatikan pada konteks situasi spesifik. Ini penting dijelaskan guna menghindari kekeliruan persepsi terhadap istilah low context dan high context.

Dan hendaknya kita semua tidak terpaku hanya pada ‘mengharus-haruskan selalu’ di low context atau pun ‘mengharus-haruksan selalu’ di high context. Hendaknya kita dengan cermat dan dinamis kapan komunikasi low context dan high context kita gunakan (dynamic-adaptive context). Pada ranah praksis, kadang-kadang kita butuh menerapkan low context untuk menggapai kecepatan, ketepatan (akurasi),  dan menghilangkan kesalahpahaman. Kadang pula kita mesti di high context atau mengkombinasikan selang-seling antara keduanya. Parameter dan hilirnya adalah mengijtihadi optimalisasi produksi kebaikan (impact).

Mari kita melangkah ke bagian berikutnya yaitu…

Beda Kultur Beda Sistem Beda Makna Beda Komunikasi

Mestilah pula menyadari bahwa perbedaan kultur juga menuntut kita menyesuaikan bagaimana cara kita bersosialisasi, berkomunikasi, dan memperlakukan seseorang dari latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Suatu gestur komunikasi pada suatu kebudayaan dapat berbeda makna (diterjemahkan berbeda) ketika memasuki wilayah psikologis kebudayaan lain. Berkomunikasi dengan orang Jawa yang cenderung high context berbeda dengan berkomunikasi dengan orang Amerika Serikat yang cenderung low context. Di Nusantara kita tersenyum—bahkan kepada orang yang tak kita kenali—dipahami sebagai bentuk kesopanan dan keramahan. Konon katanya, etiket semacam itu diterjemahkan oleh orang Rusia sebagai gestur tidak sopan yang mencurigakan bukan gestur sopan santun atau pun penghargaan. Dalam pada perbedaan kontras itu, kita tidak bisa memaksakan satu bentuk etiket komunikasi harus diterjemahkan oleh komunikan pada makna yang sama sebagaimana kita memaknai (memahami) dengan dalih “yang penting niat saya baik, niat saya baik, Anda saja yang salah paham”. Tidak bisa arogan begitu. Prinsipnya adalah The meaning of communication is the response that it gets.

Menyadari dan memahami adanya keniscayaan komunikasi lintas budaya merupakan pondasi penting guna meminimalisir miskomunikasi, pertengkaran yang tak perlu, dialog yang macet, serta membangun hubungan yang harmonis dalam rangka memproduksi kebaikan bersama.

Al Quran mengajarkan kepada kita melalui isyarat bilisani qoumihi (QS. Ibrahim: 04). Dengan lisan (bahasa) kaumnya. Di balik lisan suatu kaum tersimpan struktur kompleks sistem kebudayaan, sistem tata nilai, ego, filosofi, histori, belief system (aqidah), rules, dan sistem berpikir-psikologi lainnya. Dalam berkomunikasi, itu semua mestilah dipertimbangkan dalam meramu bagaimana cara kita akan menyampaikan pesan yang berdampak.

Pada skup yang lebih spesifik bahkan ada realitas-realitas psikologi yang lebih detail. Sistem berpikir pria dan wanita, meski sama-sama manusia, berbeda. Banyak suami memperlakukan istrinya dengan asumsi bahwa istrinya adalah seorang pria sama dengan dirinya. Sebaliknya pula, istri bicara kepada suaminya dengan asumsi bahwa suaminya adalah seorang wanita sebagaimana dirinya. Yang satu bicara A, diterjemahkan B oleh sistem yang lain. Yang satu bicara C, diterjemahkan D oleh sistem yang lain. Ketegangan psikis pun terbangun di antara keduanya akibat proses komunikasi yang tidak nyambung.

Orang tua memperlakukan balitanya (anaknya) dengan asumsi balitanya telah mencapai tingkat pengalaman hidup yang sama dengan dirinya sehingga ia kerap marah-marah berkata balitanyalah yang harus mengerti situasi dirinya sebagai orang tua atau semestinya si anak telah mampu bersikap ideal sebagaimana standar dirinya yang sudah tua. Lucu memang tapi itu banyak terjadi.

Belum lagi tentang faktor perbedaan tingkat kecerdasan atau pemahaman komunikan pada suatu konteks yang juga mesti dipertimbangkan. Di kalangan santri (pesantren) masyhur pepatah orang cerdas cukup dengan isyarat (al aqilu yakfiihi al isyarah). Bicara kepada orang cerdas berbeda caranya dengan bicara kepada orang yang cerdas pada konteks spesifik lainnya. Sengaja saya tidak menuliskan: bicara kepada orang cerdas berbeda caranya bicara kepada orang bodoh, telmi, atau tidak cerdas. Mengapa? Karena kecerdasan manusia berbeda-beda jenisnya. Ada orang yang cerdas filosofis sekaligus tidak cerdas pada ranah teknis. Ada orang yang cerdas teknis tidak cerdas filosofis. Ada tipologi orang yang cerdas musikal tapi lemah sekali dalam urusan bersosialisasi. Ada yang cerdas matematis lemah di urusan asmara (relationship). Ada orang cerdas di ranah relationship sampai dijuluki Don Juan tapi lemah sekali dalam urusan manajemen finansial. Dan bermacam-macam lainnya.

Jadi, pepatah orang cerdas cukup dengan isyarat itu selayaknya tak kita pahami dengan paradigma bahwa orang yang tak cukup dengan isyarat merupakan orang bodoh. Saya (kira) tidak begitu memahaminya. Itu maksudnya: kalau kamu bicara tentang suatu bidang dengan orang cerdas di bidang tersebut cukup bicara dengan isyarat (high context). Dia akan sudah mengerti apa yang harus dia lakukan karena dia paham betul dengan bidangnya itu. Berbeda apabila kita bicara tentang suatu hal dengan orang yang tidak cerdas pada hal tersebut, kita harus bicara dengan spesifik, poin demi poin runtut, seperti SOP (standard operational procedure). Contoh: bicara dengan ahli masak Anda cukup bilang “pedas”, tapi kalau seorang istri bicara dengan suaminya yang seorang Kyai yang tidak tahu memasak, Sang Istri harus rinci memberi petunjuk kepada Sang Kyai perihal memasak bahkan kalau perlu ditulis via whatsapp (low context). “Sayangku, cabenya 7, masukin lengkuas 2 ketika airnya mendidih, jahenya setengah sentimeter saja” atau semacam itu.

Bilisani qoumihi itu bisa lebih rinci lagi. Ada orang yang sistem komunikasi atau representasi systemnya (rep-system) dominan visual. Ditengarai 60-80% populasi dunia rep-systemnya visual. Ada pula yang dominan auditori, kinestetik, lalu olfaktori gustatori meski kuantitasnya minor tetap ada. Ada yang koleris, melankolis, plegmatis, introvert, ekstrovert, dan beragam detail lainnya

Pengalaman pribadi saya, ada yang baru bisa paham apabila dibentak. Meski itu merepotkan, melelahkan, dan saya tidak menyukainya tapi pada suatu konteks itu dibutuhkan karena it works, proven method. Ketika mendampingi seseorang, suatu ketika saya bilang “keputusanmu fals, menyikapinya itu dengan notasi dan irama yang enak, antar elemen itu diramu harmoninya, ketukannya dijaga, kapan instrumen tertentu masuk dan berhenti, kaya lagu itu lho” alih-alih meluncurkan kalimat “keputusanmu salah, jelek, yang sabar, yang telaten, tunggu timing, ciptakan timing”. Mengapa? Karena dia seorang musisi. Penggunaan bahasa pun berbeda ketika mendampingi seorang teman yang hobinya masak dan punya restoran, utilisasi metafora memasaklah yang efisien mengantarkan pesan (maksud).

Di ranah terapeutik (terapi), kisah-kisah fleksibelitas komunikasi legenda psikoterapi, Milton H. Erickson, layak diteladani. Dia pernah bahkan berkomunikasi dengan seorang kliennya (menterapi) menggunakan bahasa yang aneh-aneh menyesuaikan dengan sistem bahasa klien. Di field marketing, konon katanya, Chevrolet pernah gagal memasarkan satu produk mobilnya karena tidak sengaja salah sebab luput memahami antropologi masyarakat Amerika Latin. Merek mobilnya ‘Nova’ gagal di pasaran karena arti ‘No va’ dalam bahasa Spanyol bermakna it doesn’t go (tidak jalan, macet, mogok).[1] Saya pernah menjumpai kisah itu di suatu literatur marketing. Belakangan ada yang mengomentari bahwa itu hanya urband legend saja yang pada faktanya tidak terjadi namun karena terus diulang di kelas-kelas dan literatur marketing dari zaman ke zaman maka kemudian dianggap benar. Mirip Baalawi. Terlepas itu benar atau tidak bagi saya tidaklah penting. Yang penting adalah pelajarannya bahwa apa yang kita anggap bagus-jelek, keren-tidak keren, sopan-tidak sopan, mulia-hina, baik-buruk, layak-tidak layak, beradab-tidak beradab, penting-tidak penting, kasar-tidak kasar, bisa diterjemahkan berbeda saat masuk ke wilayah masyarakat yang sistem budaya dan sistem psikologisnya berbeda. Akibatnya, respon masyarakatnya juga berbeda.

Untuk keberhasilan komunikasi dan memperoleh dampak yang baik, mau tidak mau, kita harus  mentransformasikan ‘cara kita’ pada sistem budaya dan sistem psikologis target (tujuan komunikasi); bukan sesuai dengan selera kita karena mereka tidak memahami sebagaimana budaya yang kita pahami.

Begitulah dengan cara bagaimana kita berkomunikasi dan bersikap kepada Klan Habib Baalwi. Bilisani qoumi Baalwi.

Komunikasi Inter-Kultur

Yang harus kita sadari dan pahami betul adalah bahwa meski kita hidup di wilayah geografis yang sama dengan Klan Habib Baalwi, sistem budaya kita dengan sistem budaya Klan Habib Baalwi berbeda bahkan dapatlah disimpulkan sistemnya diametral. Ini tidak dapat dilepaskan dari perbedaan genealogi historis antara kita dengan Klan Habib Baalwi yang juga diametral. Klan Habib Baalwi itu bangsa budak, imigran (nomaden), sama sekali bukan bangsawan, dan miskin sumberdaya alam. Ini rentetannya akan panjang sekali pada pencapaian budayanya, sistem psikologis dan perilakunya.

Tuan-Tuan Pembaca Rahimakumullah.

Bagi kita, Bangsa Nusantara, sopan santun dan keramahan merupakan hal yang bernilai mulia, tanda penghargaan, penghormatan, dan ajakan persahabatan. Tetapi itu berbeda bagi Klan Habib Baalwi, sopan santun dan keramahan kita kepada mereka itu masuk ke sistem psikologis mereka diterjemahkan sebagai ungkapan kelemahan, ketundukan, dan kerelaan hati untuk ditindas.

Kita, Bangsa Nusantara, umumnya diingatkan dengan halus, disindir, diomongi dengan kalem, sudah mengerti. Tetapi Klan Habib Baalwi tidak sebagaimana kita. Mereka menerjemahkan gaya komunikasi kita itu dengan terjemahan bahwa bangsa kita mengatakan mereka adalah Raja Yang Berkuasa dan kita adalah budak yang takut dan tunduk kepada mereka.

Kita di high context, mereka di low context. Anda berkomunikasi dengan mereka menggunakan high context, tentu mereka tidak mengerti dan disalahpahami. Mau tidak mau kita harus ke low context supaya mereka memahami. Ditambah pula faktor perbedaan sistem budaya dan sistem psikologis pada diri mereka yang menerjemahkan maksud kita ke arah yang sebaliknya.

Dalam bahasa matematis: A = —A (minus A). Di sisi kita maksudnya A, masuk ke sistem mereka, mereka menerjemahkannya —A. Ini seperti merek Pajero yang asal nama aslinya melambangkan ketangguhan; di Eropa, khususnya di negara-negara berbahasa Spanyol, merek Pajero memiliki arti negatif atau tidak sopan. Kata tersebut sering diartikan sebagai ‘bajingan’ atau istilah vulgar untuk tindakan masturbasi (dalam bahasa Spanyol: pajero berarti wanker atau masturbator).[2]

Supaya tak disalahpahami seperti itulah yang memaksa kita harus semakin low context saat berkomunikasi dengan Klan Habib Baalwi. Tidak bisa implisit, halus, lembut, tipis, indirect. Haruslah tebal, jelas, vulgar, akurat, presisi, terbuka, lantang, eksplisit, kasar, direct. Selain low context, penggunaan kalimatnya juga harus persis sama sesuai sistem psikologis mereka secara akurat. Sebagai contoh. Kalau mau mengatakan salah kepada mereka, ucapkanlah ‘salah’ bukan ‘itu sebaiknya dihindari’ atau ‘itu jauh dari kebenaran’. Kalau mau mengatakan ‘kamu bodoh’ ucapkanlah ‘kamu bodoh’ bukan ‘kamu kurang mengaji (belajar)’ atau ‘Anda kurang muthola-ah’ atau ‘ayo belajar lagi’. Bagi kita, berkata kepada orang ‘kamu bodoh, kamu tolol, kamu dungu, kamu goblok’ itu tidak nyaman di hati, terasa kasar, terasa tidak sopan, terasa tidak beradab—tentu saya memahami itu—tetapi itu masuk ke sistem mereka menjadi hal yang biasa.

Makanya, sekali lagi, kita harus sadar betul bahwa ada proses komunikasi lintas budaya antara kita dengan Klan Habib Baalwi. Tidaklah sepenuhnya tepat (menurut saya lugasnya: salah total) memandang mereka dengan presuposisi bahwa mereka sama persis dengan kita atau menduga sistem perasaan (emosi) mereka sama persis dengan sistem perasaan (emosi) kita lantas kita memutuskan memperlakukan mereka sebagaimana sistem budaya kita. Mengenai ini, nanti akan saya ceritakan kesalahan saya ketika memperlakukan kucing sebagai tambahan ilustrasi.

Perbedaan lainnya antara kita dengan mereka ada pada dosis, kadar, atau intensitas. Bagi kita, 2 sendok gula sudah cukup. Bagi mereka, 2 sendok gula masih terasa tawar. Mereka harus 20 sendok gula barulah mereka bisa merasakan manis sebagaimana manis yang kita rasakan dengan 2 sendok gula. Sistem psikologis mereka hanya mengenal titik ekstrem. Jika tidak ekstrem maka tidak ada. Yang ekstrem bagi kita adalah biasa saja bagi mereka bahkan tidak ada apa-apanya bagi mereka. Perhatikan saja behaviour mereka. Mereka enteng saja bersumpah ‘Wallahi, Demi Allah’ untuk hal remeh temeh yang di mana bagi kita itu berat diucap kecuali untuk hal betul-betul memaksa. Mereka enteng saja menghina, mencaci maki, di mana bagi kita itu sangat sulit kita lakukan. Mereka dengan entengnya berdusta, memfitnah, di mana bagi kita itu sungguh dosa yang teramat besar. Mereka enteng saja memukuli orang dan melukai fisik orang lain, seolah-olah hal yang begitu biasa saja, di mana bagi kita itu hal yang mengguncang. Mengambil istri orang, meniduri istri orang, kawin cerai, anak-anaknya ditelantarkan, menipu, dan beragam behaviour melenceng lainnya bagi mereka normal, biasa, dan wajar.

Jadi, dikatai ‘bodoh’ bagi mereka itu kata yang terasa tawar. Barulah terasa bagi sistem psikologis mereka adalah tolol, dungu, goblok, IQ jongkok. Dikatai ‘jahat’ bagi mereka itu tawar. Mereka baru memahami jika dikatai ‘bejat, cabul, penjahat kelamin, penjajah’. Dikatai ‘salah’ bagi mereka itu tawar. Harus difatwa ‘sesat, kafir, murtad, halal darahnya’ barulah terasa di hati dan pikiran mereka.

Oleh karenanya, cara kita berkomunikasi dengan mereka memang haruslah low context, presisi, akurat, dan beberapa kali lipat ekstrem dari standar ekstem kita sendiri. Dan itu works, proven, sebagaimana telah kita saksikan bersama selama 3 tahun terakhir ini.

Sistem Pencernaan Kucing

Dulu, pertama kali keluarga saya mengadopsi anak kucing, kami melakukan kesalahan yang menyebabkan kucing itu mati. Root cause-nya adalah kami memperlakukan kucing itu dengan pemahaman (asumsi) bahwa sistem hidup kucing itu sama dengan sistem manusia (kami). Kami menduga bahwa kucing itu menu makanannya harus ganti-ganti karena pasti dia merasa bosan sebagaimana kami (manusia) bosan apabila diberi menu yang sama setiap hari atau setiap waktu makan. Jadilah kami memberi dia makan tiga kali sehari dengan menu yang berbeda-beda dan berganti-ganti pakan tiap kali stok pakannya sudah habis. Kami melakukan itu dengan dorongan kasih sayang, ingin menyenangkan si kucing, biar kucingnya happy, gembira, sehat. Niatnya begitu.

Singkat cerita, si kucing susah makan bahkan tidak mau makan. Kami pikir (menduga) dia bosan dengan menu pakan itu. Jadi, kami ganti pakan, tetap tidak mau makan. Kami campur pakannya, selang-seling makanan kering dan makanan basah, tetap tidak mau makan. Singkat cerita: kucingnya mati. Berdukalah kami.

Kami cari tahu kenapa kok bisa mati. Kami belajar. Ternyata sistem makan kucing berbeda dengan sistem makan manusia. Kucing itu malah pakannya harus satu jenis saja setiap hari seumur hidup. Mereka tidak bosan kok sebagaimana yang kita (kami) duga. Justru gonta-ganti pakan itu merusak sistem pencernaan mereka. Kalau pun mau ganti jenis atau merek pakan, menggantinya harus berproses sedikit demi sedikit—tidak bisa langsung total ganti, supaya sistem pencernaan mereka beradaptasi secara gradual.

Kesalahan kami adalah memperlakukan kucing dengan basis dugaan bahwa kucing sama dengan kami, menduga sistem dan dinamika psikologi dan pencernaan mereka sama dengan kami, manusia. Itu salah.

Kesalahan itu tidak kami ulangi di momen berikutnya. Contohnya ketika men-steril kucing (vasektomi). Awalnya kami merasa tidak tega, wah kok dikebiri, kan kasian dia ngga bisa kawin, gak bisa punya anak, terus sedih karena melihat telurnya hilang. Cepat-cepat kami sadari, halah wong kucing itu sistem emosi dan berpikirnya gak seperti kita, manusia. Mereka punya sistemnya sendiri, kita punya sistem sendiri. Kita dan mereka berbeda. Mereka gak akan sedih dan meratapi nasib  telurnya tinggal satu, sebagaimana kita manusia. Paling nyampe ke rumah mereka udah berkeliaran lagi, manjat pohon dan berantem lagi.

Kita dan Baalawi itu seperti itu, Tuan-Tuan. Kelirulah apabila kita menakar mereka dengan standar sistem budaya dan psikologis kita. Perlakukanlah mereka sebagaimana sistem budaya dan psikologis mereka. Betul, memang, perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Namun kalimat preskripsi itu butuh dilengkapi: perlakukanlah orang lain sebagaimana mereka butuh dan ingin diperlakukan atau perlakukanlah orang lain sebagaimana cara yang manjur bagi mereka.

Jadi, bagi Tuan-Tuan yang masih ragu-ragu  dan menahan diri memperlakukan Klan Habib Baalwi dengan low context, presisi, akurat, dan beberapa kali lipat ekstrem dari standar ekstem kita sendiri—saya mendorong untuk tidak ragu dan tidak menahan diri. Faktanya, sekali lagi, cara berkomunikasi di atas itu works, proven, sebagaimana telah kita saksikan bersama selama 3 tahun terakhir ini. Lihat saja, semakin keras mereka dihujat, dicaci maki, semakin dilawan, semakin digebuki, semakin berkurang cacat behaviour mereka meski tetap saja masih sangat jauh dari standar normalnya manusia. Wakil Ketua [3] Banten, KH. Hamdan Suhaemi, di acara Buka Bersama di Ponpes KH. Imaduddin Utsman, 12 Maret 2026, mengungkapkan (saya menyimpulkan dari ceramah beliau) bahwa Baalwi dihujat di medsos tapi sampai sekarang pun mereka tidak merasa (tidak berpikir, tidak menyadari) bahwa mereka salah. Faktanya, sampai sekarang tidak ada satu pun permohonan maaf yang hadir dari mereka tentang pemalsuan sejarah, pemalsuan kuburan, pemalsuan silsilah, doktrin-doktrin sesat, dan kejahatan Baalwisasi-Yamanisasi lainnya. Realitasnya begitu itu.

Menurut saya, melihat fakta dan data yang ada, sebenarnya Baalwi itu makhluk yang sepenuhnya berbeda dengan kita, manusia. Kita manusia mereka nonmanusia. Maka tidaklah bijak memperlakukan makhluk nonmanusia sebagaimana memperlakukan manusia. Mungkin sistem biologisnya mirip namun sistem psikologisnya beda total. Kita ini tak lagi berkomunikasi lintas budaya melainkan lintas makhluk. Mungkin niat Anda baik, tidak mau kasar, maunya sopan santun, maunya beradab, maunya berperilaku mulia, menunjukkan diri Anda sebagaimana manusia terpelajar, tetapi kemungkinan besar dampaknya sebagaimana kesalahdugaan yang dialami kucing saya. Tidak persis sama, ada bedanya. Bedanya adalah yang mati adalah kita sebagai suatu bangsa, bukan Baalwi yang mati.

Tentang Kritik dan Saran

Kritik adalah memberitahu atau menunjukkan apa yang salah, apa yang kurang, apa yang tidak tepat. Saran (nasehat) adalah memberitahu atau menunjukkan bagaimana sesuatu semestinya, idealnya, atau sebaiknya dilakukan.

Banyak orang kemudian terpeleset pada dugaan yang keliru bahwa mencela, mencaci, merendahkan, melecehkan, dan sejenis itu, merupakan suatu bentuk kritikan. Praktek tersebut kerap kita jumpai pada interaksi orang tua-anak dan vice versa, suami-istri dan vice versa, pemimpin bisnis-karyawan dan vice versa, government-rakyat dan vice versa. Ia menduga telah berbuat baik dengan menyajikan kritik untuk kebaikan orang tersebut padahal itu penghinaan, perendahan, dan pelecehan yang melukai hati dan martabat komunikan. Keterlukaan hati dan martabat yang dialami komunikan menyebabkan ia menolak kritik dan saran sebagus apapun kualitasnya. Dan karenanya hal yang bagus itu menjadi tak berguna. Oleh karenanya, cara bagaimana menyampaikan sesuatu, pada banyak kasus, lebih menentukan dibanding apa yang disampaikan.

Sering pula kita temui orang-orang berkata dengan sak enak udele dewe bahwa seseorang anti-kritik karena menolak apa yang disampaikannya. Ia berdalih “yang penting kan niat saya baik, maksud saya baik” sebagai pembelaan bahwa cara yang keliru tetap boleh asal niatnya baik. Dia luput memahami bahwa yang ditolak keras bukan isi kritikan dan sarannya melainkan yang ditolak adalah caranya menyampaikan.

Kisah paling poluler yang dapat kita jadikan acuan bersama adalah bagaimana Imam Syafii ‘marah’ (menolak) ketika diberi nasehat di depan umum. Salah satu Imam kita itu menuliskan:

“Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku. Maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti”.

Apakah Imam Syafii anti-kritik, keras kepala, mbideg? Tidak. Yang beliau tolak keras adalah cara menyampaikan nasehat yang cara tersebut merendahkan martabat beliau. “Tapi kan niat saya baik” adalah apologi umum orang-orang. Tuan-tuan, betapapun baiknya niat kita ia akan menjadi buruk tatkala dilakukan dengan cara-cara yang buruk. Sebaik apapun niat baik di hati (pikiran) kita tak berarti kita diperbolehkan melakukan dengan cara yang serampangan.

Ada pula kritik dan saran disampaikan di depan umum  (di hadapan pihak ke-3) yang bertujuan membuat orang lain nampak buruk dan membuat dirinya nampak (lebih) baik; membuat orang lain dipersepsikan publik sebagai orang yang rendahan, bodoh dan najis dan di saat yang bersamaan membuat dirinya dipersepsikan publik sebagai orang yang bijak, cerdas, dan suci. Biasanya ini dilakukan manusia-manusia manipulatif. Dan korbannya biasanya orang-orang yang lugu.

Maka demikian itu, sangat perlulah kita berhati-hati dalam mengkritik dan memberi saran (nasehat). Jika pun hendak memberi kritik dan saran, maka memang kita mesti repot-repot  mengenali dengan siapa kita akan berkomunikasi, menyusun cara yang baik dan benar berdasar profil orangnya dan pada timing yang tepat. Jika tak mau repot-repot begitu kemungkinan besar landasan motif kita mengkritik dan memberi saran (nasehat) adalah pelampiasan nafsu (emosi) bukan murni demi memproduksi kebaikan.

Ke Baalwi Barbar Malah Benar

Kehati-hatian dan kecermatan dalam bagaimana cara memberi kritik dan saran itu perlu diperhatikan kalau ke sesama manusia atau ke sesama Pribumi Nusantara. Kalau ke Baalawi itu tidak berlaku dengan premis-premis sebagaimana pada uraian panjang di atas. Mereka dihujat saja tidak sadar bahwa mereka salah apalagi tidak dihujat. Dan terbukti bahwa semakin dihujat semakin berkuranglah kuantitas kejahatan dan perilaku menyimpang mereka. Dengan kata lain, cara yang baik bagi Klan Habib Baalwi adalah dengan hujatan ekstrem atau treatment negatif ekstrem. Jika Anda merasa aneh dengan kesimpulan itu, tidak hanya Anda yang merasa demikian, saya pun merasa aneh dengan pola Baalawi. Baru kali ini saya bersentuhan langsung dengan kasus seaneh ini dan situasi ‘seunik’ ini.

Pernah saya menyampaikan melalui video YouTube sekitar satu tahun[4] lalu bahwa situasi hari ini sungguh unik karena jadi medan pahala bagi bakat-bakat mencela dengan barbar yang dimiliki netizen Indonesia. Mencela, menghina, menghujat, pada dasarnya perbuatan dosa tercela. Tetapi menghadapi Baalwi perbuatan yang pada dasarnya bernilai dosa dan tercela justru malah menjadi medium jihad fissabilillah, senjata dalam membela negara, bangsa dan tanah air; bernilai pahala kebaikan yang besar. Karena faktanya semakin Baalwi dihujat semakin aman umat dan semakin aman NKRI, semakin keras (kejam) hujatan dan perilaku kepada Baalwi semakin aman umat dan semakin aman pula NKRI.

Dan dalam berdakwah atau berjuang mestilah kita sabar. Sabar adalah berteguh hati pada sikap perilaku yang berdampak baik dan benar meskipun kita tidak menyukainya atau berlawanan dengan keinginan kita. Pada dasarnya kita sama-sama tidak menyukai kata-kata kasar, celaan dan hujatan; kita inginnya tidak begitu; tetapi karena itulah yang terbukti tak terbantahkan berdampak baik dan benar, kita mesti sabar untuk tetap melakukannya. Itulah bentuk sabar di situasi saat ini.

Apa mau dikata, realitasnya begitu itu.


[1] Lihat https://www.thoughtco.com/chevy-nova-that-wouldnt-go-3078090
[2] Lihat https://kumparan.com/berita-terkini/arti-pajero-dalam-bahasa-spanyol-yang-menjadi-alasan-penggantian-merek-mobil-25qkdLH64uh
[3] Lihat https://youtu.be/fI_l_0Diqps?si=iqzLWWeGJjD4n43O.
[4] Lihat https://youtu.be/m85IwgkrRrs?si=y_3565R_Y9JwXxYN

Terkait Kiriman

Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

14 Maret 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Ini Sangsi Yang Akan Diterima Oknum Polres dan Jaksa Jika Paksakan RJ Dalam Kasus Pengeroyokan Oleh Bahar Smith Terhadap Anggota Banser

6 Maret 2026
Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

3 Maret 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Melepas Bahar Smith Polres Metro Tangerang Kota Ada Apa?

3 Maret 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Alidin Assegaf Tegas Walisongo Dan Keturunannya Bukan Marga Habib B Alwi: Riziq Syihab Tetap Mengemis Keturunan Walisongo Agar Percaya Bahwa Mereka Adalah Ba Alwi

24 Februari 2026
Karya KH Imaduddin Utsman VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

Karya KH Imaduddin Utsman VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

22 Februari 2026

Info Baru Lainnya

Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

14 Maret 2026
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

14 Maret 2026
Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

PD DMI Kab. Serang Buka Posko Mudik 1447 H di Alun-Alun Kramatwatu, KH Bunyamin Hafiz: Dari Masjid untuk Indonesia

14 Maret 2026
Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

14 Maret 2026
PWI LS Purwokerto Kidul dan Pemuda Pancasila Gelar Aksi Berbagi Takjil di Banyumas

PWI LS Purwokerto Kidul dan Pemuda Pancasila Gelar Aksi Berbagi Takjil di Banyumas

13 Maret 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .