• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Opini

DR. Saleh Basyari: Bung Karno Nasionalisasi Aset Ekonomi, Kiai Imad Nasionalisasi Sosial-Keagamaan

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya
0
BAGIKAN
20
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA – Pakar sosiologi dan peneliti Dr. Saleh Basyari menilai bahwa langkah Kiai Imaduddin Utsman Albantani dalam mendekonstruksi narasi nasab di Indonesia bukan sekadar perdebatan agama biasa. Menurutnya, riset yang dilakukan pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum tersebut merupakan langkah besar dalam menuntaskan kajian post-colonialism (pascakolonial) di tanah air.

Dalam sebuah diskusi daring di Padasuka TV (Rabu, 13/05/2026), Dr. Saleh menjelaskan bahwa esensi dari kajian pascakolonial adalah upaya nasionalisasi terhadap aset-aset milik imperialis menjadi aset nasional. Jika di era Bung Karno nasionalisasi dilakukan terhadap aset ekonomi seperti pabrik gula dan perkebunan, maka apa yang dilakukan Kiai Imad adalah “nasionalisasi” di ranah sosial-keagamaan.

Dr. Saleh menyebutkan bahwa selama ini Indonesia masih menyisakan struktur sosial warisan Belanda yang menempatkan kelompok tertentu sebagai penduduk kelas satu (first class). Ia merujuk pada korespondensi sejarah antara Bung Karno dan Ustaz Ahmad Hassan mengenai kritik terhadap sistem aristokrasi “Sayyid” yang dianggap bertentangan dengan prinsip egaliter dalam Islam.

“Kiai Imad menuntaskan apa yang belum selesai. Kita selama ini melupakan aspek nasionalisasi sosial kemasyarakatan. Fenomena penduduk kelas satu yang tiba-tiba muncul di masa kolonial, kini dikoreksi melalui riset ilmiah yang mendalam,” ujar Dr. Saleh.

Menariknya, Dr. Saleh membandingkan posisi Kiai Imad dengan orientalis Belanda, Snouck Hurgronje. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa Kiai Imad bergerak di jalur Oksidentalisme.

“Jika Snouck Hurgronje menggunakan riset untuk kepentingan imperialisme, maka Kiai Imad menggunakan riset ini sebagai instrumen nasionalisme untuk membangun kedaulatan berpikir bangsa. Ini adalah koreksi atas nalar orientalisme murni,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi keterbukaan negara, dalam hal ini Kantor Staf Presiden (KSP), yang mulai memberikan perhatian pada isu ini. Menurutnya, ketika hasil riset ilmiah dijadikan basis kebijakan oleh negara, maka itu adalah puncak dari perjalanan sebuah penelitian.

Dampak dari tesis-tesis Kiai Imad, menurut pengamatan Dr. Saleh, sudah mulai terlihat di akar rumput. Ia mencatat adanya pergeseran otoritas keagamaan di mana masyarakat kini tidak lagi sekadar tunduk pada klaim genetik, melainkan mulai menuntut verifikasi akademik dan bukti sejarah yang sahih.

“Kita melihat ada penyempitan wilayah hegemoni kultural yang selama ini tidak tersentuh. Ini adalah kerja kreatif dan ilmiah yang memberikan dampak nyata pada cara bangsa kita memahami identitasnya sendiri,” tutup Dr. Saleh.

Penelitian Kiai Imaduddin sendiri terus menjadi perbincangan hangat, terutama setelah ia secara resmi menyurati Presiden Prabowo Subianto untuk melaporkan hasil temuan risetnya terkait sejarah dan genetik nasab di Indonesia. (KD)

Terkait Kiriman

Membaca Ketidakhadiran Presiden Prabowo Dalam Pengukuhan Pengurus PBNU 2026

Membaca Ketidakhadiran Presiden Prabowo Dalam Pengukuhan Pengurus PBNU 2026

25 Oktober 2026
Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

17 Oktober 2026
Habib Umar bin Hafidz Melecehkan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia: Saya Heran NU Diam Saja

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI: Lirik Iwan Fals Buat NU

Habib Umar bin Hafidz Melecehkan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia: Saya Heran NU Diam Saja

15 Oktober 2026

Info Baru Lainnya

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

Kritik Historis-Genetis Nasab Ba’alwi: Telaah KH Imaduddin Utsman, Dr Sugeng S., dan Dr. Manachem Mengatasi Glorifikasi Keberagamaan Menuju Pendidikan Kritis

26 Oktober 2026
Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

25 Oktober 2026
Membaca Ketidakhadiran Presiden Prabowo Dalam Pengukuhan Pengurus PBNU 2026

Membaca Ketidakhadiran Presiden Prabowo Dalam Pengukuhan Pengurus PBNU 2026

25 Oktober 2026
Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

23 Oktober 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

22 Oktober 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .