Peneliti manuskrip dan kitab sejarah asal Surabaya, KH Nur Ihya Hadinegoro, menyoroti tajam isi kitab Tadzkirunnas yang memuat kumpulan Kalam Habib Ahmad bin Hasan Al Attas. Pada halaman 258-259 kitab tersebut, ditemukan narasi yang dinilai sangat melukai dan melecehkan kedudukan ibadah haji dan umrah sebagai rukun Islam.
Dalam tulisannya, KH Nur Ihya membedah dialog antara Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas (penyusun Ratib Al Attas) dengan muridnya, Syekh Ali Baros. Saat membahas ibadah haji, Habib Umar terekam berkata:
“Sekantong air yang engkau berikan untuk anak-anakku itu lebih baik daripada 600 kali ibadah haji dan umroh yang diterima oleh Allah SWT.”
Menyikapi teks ini, KH Nur Ihya menegaskan bahwa ini bukan sekadar persoalan fadhilah (keutamaan) amal, melainkan bentuk pendegradasian syariat yang nyata.
“Mengatakan pemberian sekantong air kepada anak seorang habib lebih baik dari 600 kali haji yang mabrur (diterima Allah) adalah ucapan yang melampaui batas. Ini pelecehan terhadap rukun Islam kelima yang diperintahkan langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an,” ujar KH Nur Ihya.

Beliau menambahkan, setelah melakukan penelusuran mendalam, model ucapan yang merendahkan ibadah mahdah demi mengangkat derajat personal seperti ini tidak ditemukan dalam literatur kitab kuning peninggalan ulama-ulama salafus shalih manapun.
“Bahkan dalam literatur Syiah sekalipun, kami tidak menemukan perbandingan yang se-ekstrem ini. Narasi semacam ini tampaknya hanya muncul dalam literatur khusus kalangan Ba Alwi,” jelasnya.
KH Nur Ihya menekankan bahwa upaya meluruskan hal ini sangat mendesak demi menjaga akidah dan syariah umat dari distorsi pemahaman sufistik yang kebablasan, yang dapat menjerumuskan pada fitnah agama. (KD)














