Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara
Baalwisasi-Yamanisasi masif terjadi di Indonesia (Nusantara). Bagaimana itu bisa terjadi? Dari mana awal mulanya? Jawabannya: hal itu dimulai dari penyelewengan definisi dan konsep pada diksi atau gelar ‘Habib’ yang didoktrinkan ke tengah masyarakat.
Klan Habib Baalwi menciptakan konsep dasar doktrin sebagai berikut:
Habib = [satu-satunya] keturunan/dzurriyah Nabi = [satu-satunya] Ahlul Bait [yang tersisa di dunia ini]. Habib = [satu-satunya] Ahlul Bait [yang tersisa di dunia ini].
Pemahaman di atas rata diyakini dan disampaikan oleh seluruh Klan Habib Baalwi baik yang ‘mengaku’[1] Sunni maupun yang Syiah.
Dari konsep dasar itu bangunan doktrin berikutnya adalah:
Habib = [satu-satunya] Ahlul Bait [yang tersisa di dunia ini] —> Al Ahzab 33 & Hadits Tsaqolain
Klan Habib Baalwi menyamakan diri mereka dengan Ahlul Bait yang dimaksud pada Surat Al Ahzab ayat 33 “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa (dosa/noda) dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” dan hadits tsaqolain “Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian apa yang jika kalian pegang (erat-erat) pasti kalian tidak akan sesat sudah aku (tiada). Salah satunya lebih agung dari pada yang lainnya, (yaitu) Kitabullah. Dia merupakan tali yang memanjang dari langit ke bumi. Dan keturunanku (Itrah, pen) (yaitu) ahli baitku. Kedua pusaka itu tidak akan berpisah sehingga keduanya dapat mendatangkan haudh-telaga-kepadaku. Perhatikanlah (berhati-hatilah dan pikirkanlah) bagaimana kalian memperlakukan mereka sepeninggalku.”[2]
Perhatikan kalimat dalam kurung pada dua formulasi doktrin di atas, itu artinya subtle—disampaikan dan ditanamkan secara terselubung tersirat (covert) dan itu merupakan faktor penting dan menentukan karena di situ letak daya paksa yang mengunci mental masyarakat untuk mengikuti, bersimpati, takut dan tunduk patuh kepada Klan Habib Baalwi. Bagaimana bisa? Saya jelaskan.
Klan Habib Baalwi menciptakan keadaan:
Habib adalah manusia suci karena Habib adalah Ahlul Bait yang dimaksud pada Al Ahzab 33 dan hadits tsaqolain yang kalau Anda mengikuti Habib Anda tidak akan tersesat dan kalau tidak mengikuti Habib Anda akan tersesat. Di mana Habib adalah satu-satunya Ahlul Bait yang tersisa di dunia ini. Jadi, satu-satunya pilihan Anda untuk taat pada firman Allah pada Al Ahzab 33 dan taat pada Rasulullah Saw pada hadits tsaqolain adalah dengan cara mengikuti dan taat kepada Habib. Tidak ada pilihan lain kecuali itu.
Dengan ketiadaan pilihan seperti itu, mengerucut tunggal hanya ada satu pilihan, masyarakat dipaksa atau terpaksa—didorong atau terdorong—ditarik atau tertarik untuk bersimpati, mengikuti dan taat kepada Klan Habib Baalwi karena mereka satu-satunya Ahlul Bait yang tersisa di dunia ini dan Allah dan Rasulullah memerintahkan itu. Masyarakat jadi tidak berani melawan dan atau terpaksa taat (takut) kepada Klan Habib Baalwi karena Allah dan Rasulullah memerintahkan itu melalui Al Quran Al Ahzab ayat 33 dan hadits tsaqolain.
Pada kenyataannya, dzurriyah Nabi Saw di dunia ini ada banyak sekali di berbagai belahan dunia namun Klan Habib Baalwi menyembunyikan kenyataan itu dari pemahaman publik dengan cara tidak menyampaikannya, konsisten memposisikan diri sebagai satu-satunya, dan mengaburkan (distortion) pemahaman publik terhadap dzurriyah Nabi di negara lain dengan penyebutan Habib pula. Masyarakat dibuat berpikir bahwa dzurriyah Nabi yang ada di negara lain dari berbagai jalur juga sama disebut Habib—di mana taktik itu memunculkan masalah pelik berikutnya bagi Klan Habib Baalwi berupa relasi dan distingsi antara gelar Sayyid, Syarif, dan Habib serta problem lainnya. Penulis bahas pada bab lain.
Dari konstruksi doktrin itulah muncul simpati masyarakat muslim, semangat membara untuk melakukan pembelaan terhadap Klan Habib Baalwi karena mereka satu-satunya dzurriyah Nabi yang tersisa di dunia ini dan kemudian darinya Klan Habib Baalwi memfabrikasi militansi massa berbasis rasa cinta (mahabbah) dan ketaatan transendental kepada Allah dan Rasulullah melalui dirinya (Habib). Masyarakat mencurahkan mahabbah dan ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah melalui mahabbah dan ketaatan kepada Klan Habib Baalwi, tidak kepada yang lain, karena—sekali lagi—Klan Habib Baalwi adalah satu-satunya Ahlul Bait yang tersisa di dunia ini.
Konstruksi doktrin itulah titik awal (benih) terjadinya Baalwisasi-Yamanisasi yang mengancam eksistensi pribumi, bangsa dan NKRI.
Contoh Penyelewengan
Di antara begitu banyaknya data penyelewengan definisi dan konsep berikut ini beberapa contohnya. Semua data yang ditampilkan sudah terdokumentasi di suatu Buku Induk Kelicikan dan Kejahatan Klan Habib Baalwi kepada Pribumi Nusantara yang penulis susun. Bahwa kemudian ada link sumber ada yang dihapus atau terhapus oleh sistem YouTube, itu di luar kendali penulis. Oleh karenanya, mengantisipasi itu, pada setiap contoh saya menampilkan gambar supaya pembaca tahu video mana yang penulis maksud dan bisa mencarinya sendiri apabila link sumber yang penulis cantumkan di footnote dihapus atau terhapus oleh pemilik video.
Habib Taufik Assegaf, ketua Rabithah Alawiyah (RA), menceramahkan:[3]

Habib itu yang punya nasab yang bersambung sampai sayyidina Hasan sayyidina Husein sampai kepada Siti Fatimah sampai kepada Rasulullah. Itu Habib. Nasab itu daripada Ayah bukan dari ibu.
Perhatikan. Taufik Assegaf menyebarkan pemahaman bahwa seluruh dzurriyah Nabi disebut Habib baik dari jalur Hasan maupun Husein.
Seorang Habib Syiah bermarga Baabud[4], saya belum tahu nama lengkapnya, ia berceramah:[5]

Kalau Anda tanya kepada saya, Saya dzurriah (nabi Saw), silsilah saya dari ayah ke ayah nyambung ke Rasulullah. Tapi kalau Anda tanya kepada saya apakah anda suci? Tidak. Saya bukan orang suci. Dan kalau Anda tanya ke habaib-habaib yang lain tanya ke mereka apakah anda suci? pasti tidak ada seorang Habib yang sehat akalnya dan pikirnya yang berani mengaku dirinya suci, gak ada itu.
Meski mengatakan dirinya tidak suci namun realitas persepsi yang terbentuk di masyarakat akibat doktrin Klan Habib Baalwi adalah Habib = [satu-satunya] keturunan/dzurriyah Nabi = [satu-satunya] Ahlul Bait [yang tersisa di dunia ini]. Habib = [satu-satunya] Ahlul Bait [yang tersisa di dunia ini]. Dengan menyatakan dirinya di depan publik bahwa ia adalah dzurriyah Nabi konstruksi doktrin itu teraktivasi secara subtle/covert dan tetap saja menciptakan privilege sosial-keagamaan bagi diri dan golongannya (Baalwi).
Mari kita lihat bagaimana Klan Habib Baalwi merangkai puzzle hingga membentuk satu gambaran yang saling melengkapi dan menguatkan di pemahaman masyarakat tentang definisi Habib. Habib Taufik Assegaf membentuk persepsi bahwa Habib adalah Ahlul Bait yang ada di dalam Diba:[6]

Ente baca Diba? Ahlul baiti Mustofa tururi hum amanul Ardhi.… Siapa ahlul bait? Aman, (bhs arab), siapa itu? (bhs arab) siapa? (bhs arab) siapa? (Bhs arab) mau Ambil berkahnya siapa? (bhs arab) ikuti jalannya siapa? (bhs arab) thoriqohnya siapa? Jadi tutup (selesai dan sudahi pembahasan tentang habib, pen).
Pertanyaan-pertanyaannya itu mengarahkan jawabannya adalah habaib.
Habib Hasan bin Ismail Al Muhdor pada podcastnya menyampaikan:[7]

… Semua habib itu sama karena pangkatnya cucu nabi, pangkatnya cucu nabi … Karena semuanya ahlul bait semuanya cucu Nabi Muhammad Saw.
Perhatikan. Dia menyampaikan konstruksi doktrin “Habib = Cucu Nabi = Ahlul Bait”.
Habib Jafar Husein dalam wawancara dengan Cinta Laura mengatakan:[8]

Sebenarnya sih itu (Habib) bukan gelar terhormat kami, sebenarnya itu gelar terhormat Nabi Muhammad. Karena kami keturunannya kemudian kami kecipratan kehormatan nabi. Jadi seorang Habib kalau dia tidak mengupgrade skillnya dia gak mengupgrade nulisnya dia gak mengupgrade keimanannya dia tidak akan mendapatkan kemuliaan, itu hanya jadi panggilan semata akhirnya. nah tapi kalau waktu kecil itu dipanggilnya sebenarnya ‘yek’, ‘yek’ itu panggilan di Jawa Timur untuk keturunan Nabi Muhammad. Di setiap wilayah biasanya berbeda-beda. Yek yaitu akar katanya Sayyid, Sayyid itu artinya tuan, panggilan kepada keturunan nabi Muhammad.
Dari sini kita tahu Klan Habib Baalwi sebenarnya tahu bahwa gelar ‘Habib’ adalah gelar bagi Nabi Muhammad Saw. Namun mereka dengan lancangnya menggelari diri mereka dengan gelar itu untuk menciptakan persepsi publik bahwa betul Klan Habib Baalwi terhubung dan tervalidasi sebagai dzurriyah Nabi karena terwarisi gelar Habib sebagaimana Nabi digelari Habib. Seorang Kyai dari Madura telah membahas ini bahwa Klan Habib Baalwi kualat dengan mengenakan gelar ‘Habib’ yang merupakan gelar bagi Nabi Muhammad Saw. Baca di link ini: https://drive.google.com/file/d/1tE-1qIgjV8cA03roNoVOUXm9XQOQTNYq/view?usp=drive_link .
Demikianlah The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi di Indonesia (Nusantara). Hal-hal lain merupakan derivasi dan development dari pondasi doktrin itu. Akan dijabarkan pada bab-bab berikutnya secara bertahap.
[1] Penulis menggunakan diksi ‘mengaku’ plus dalam tanda kutip karena berdasar ajarannya Klan Habib Baalwi tidak dapat dikatakan sebagai Sunni (Aswaja) bahkan tidak dapat dikatakan masuk dalam kategori Islam.
[2] Lihat Hadis Tsaqalain – Fatwa Mufti Mazhab Syafi’i
[3] Lihat https://youtu.be/GBPuD_dXW-I?si=c8J6D-wq94sOJsz0
[4] Dia pernah pula di panggung Maiyah Bangbang Wetan Surabaya bersama Cak Nun. Cak Nun “Diskusi dengan ulama syiah” di Bangbang Wetan KEMULAN nDUNYO Part 02 https://youtu.be/NxrHriaJiD0?si=n0EbcGK4zC3GWX-B&t=587
[5] Lihat https://youtu.be/QJ87PKITAE0?si=ryVMMS74ijkpFatG
[6] Makin Sesat Gus Fuad Plered Larang Habaib Ceramah Di Indonesia‼️ Ini Respon Habib Taufiq Assegaf https://youtu.be/H16kxrEVIIo?si=-cbzxvgt7bKQSeLZ&t=158
[7] Lihat https://youtu.be/mPBHwPD_P7M?si=yc1R3p6bGjt6J8jv
[8] Lihat https://youtu.be/AoZupIIgTpA?si=rze2q9dzvnPFyIY0












