• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Opini

Pakubuwana XIV: Kembalinya Api Keagungan Surakarta

Pakubuwana XIV: Kembalinya Api Keagungan Surakarta
0
BAGIKAN
38
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

“Satrio bukan ia yang menghunus senjata, tetapi ia yang merawat keseimbangan.”
–Serat Wedhatama

“Leadership is not about age; it is about clarity of purpose and courage of the heart.”
(Kepemimpinan bukanlah soal usia, melainkan kejernihan tujuan dan keberanian hati)
— John C. Maxwell

“Pemimpin besar adalah mereka yang mau terus belajar, bahkan ketika dunia hanya berharap ia memerintah.”
— Khalil Gibran

Surakarta Hadiningrat bukan sekadar nama di peta. Ia adalah jantung kebudayaan Jawa, tempat adab, bahasa, tata santun, dan spiritualitas tumbuh dalam bentuk paling halus. Ia adalah pewaris langsung Mataram Islam, kerajaan yang dahulu membentuk lanskap politik, budaya, dan batin Nusantara.

Keraton bukan museum.
Keraton adalah ingatan yang hidup.

Dan di tengah perjalanan panjang ini, sejarah kembali berputar.
Tahta Surakarta kini diterima oleh seorang raja muda.

Raja Muda Yang Lahir Dari Permaisuri

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Hamangkunegoro, yang akrab dikenal sebagai Gusti Purbaya, lahir 27 Februari 2003 dari GKR Pakubuwana Pradapaningsih, Permaisuri resmi Sri Susuhunan Pakubuwana XIII Hangabehi yang mendampingi dengan setia hingga akhir hayatnya. Gelar sebagai Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwana yang diberikan oleh Raja Pakubuwono XIII menunjukkan pengakuan bahwa sang ibunda adalah Permaisuri Utama dan tak terbantahkan berdasarkan keputusan raja.

Pada 27 Februari 2022, tepat di usia 20 tahun, ia dinobatkan sebagai Putra Mahkota.
Dan kini, di usia 22 tahun, ia menerima amanah sepenuhnya.

Sumpah Setia Dihadapan Jenazah Ayahanda
(Sebuah Simbol Jawa Yang Mendalam)

Ketika Sri Susuhunan Pakubuwana XIII berpulang, Surakarta menyaksikan peristiwa sakral yang akan dikenang dalam sejarah.

Gusti Purbaya mengikrarkan sumpah kesetiaan sebagai raja
Di hadapan jenazah ayahanda tercinta
Itu bukan sekadar penobatan.

Itu adalah:

Sang anak menyambung napas leluhur
Sang pewaris menerima beban sejarah
Sang raja muda memasuki laku spiritual paling tinggi
Inilah makna kawula–gusti dalam pemahaman Jawa,
jiwa yang tunduk bukan kepada kekuasaan, tetapi kepada amanah dan kehalusan budi

(https://www.google.com/amp/s/www.merdeka.com/amp/peristiwa/putra-mahkota-kgpaa-purboyo-ikrarkan-diri-sebagai-raja-surakarta-paku-buwono-xiv-490512-mvk.html)

Kesinambungan Mataram Islam

Sejarah Nusantara menunjukkan pola yang jernih, yaitu pemimpin besar sering dipanggil pada usia muda.

  • Sultan Agung lahir 1593, naik tahta 1613, di usia sekitar 20 tahun. Ia memimpin penyerbuan ke Batavia 1628–1629, menjadi simbol perlawanan terbesar Jawa terhadap VOC.
  • Pakubuwana VI berdiri di sisi Pangeran Diponegoro, memilih tahanan dan pembuangan daripada mengkhianati perjuangan bangsanya.
  • Pakubuwana IX, “Sinuhun Bangun Kedhaton,” merestorasi kemegahan keraton setelah masa sulit.
  • Pakubuwana X menjadi bapak kebangkitan nasional, mendukung Budi Utomo (1908) dan membiayai penyelenggaraan Sumpah Pemuda 1928.
  • Pakubuwana XI menyumbang pemikiran kebangsaan melalui dukungan nyata kepada kaum pergerakan, termasuk mengutus abdi dalem Surakarta yaitu KRT dr. Rajiman Wediodiningrat, yang terpilih sebagai ketua BPUPKI. Dan sekaligus mengutus keponakannya Pangeran Hamijoyo sebagai anggota BPUPKI pula.
  • Sementara Pakubuwana XII, “Raja dalam Senyap”, menjaga harmoni Surakarta dan NKRI dalam era kemerdekaan.

Dan kini, Pakubuwana XIV berdiri di panggilan sejarah yang sama.

Serukan Persatuan:
Padamkan Bara, Satukan Jiwa

Sejarah telah mengajarkan, perpecahan di Nusantara selalu membawa luka panjang.
Perpecahan memudarkan marwah. Ambisi menghilangkan wibawa. Dan perebutan tahta merusak keheningan batin Jawa.

Maka sudah saatnya :

  • Ambisi dipadamkan
  • Kepentingan dilebur
  • Ego dipasrahkan kepada Sang Waktu

Karena Keraton bukan panggung perebutan. Keraton adalah panggung ketauladanan. Dimana semua mata dari segenap warga bangsa Nusantara selalu melihat dan akan menilainya. Karena apa yang ada di Keraton adalah bagian dari cerminan sejarah para leluhur bangsa.

“Sira iku satrio, yen iso ngalah tanpa kelangan drajad.”
(Engkau adalah ksatria, jika engkau mampu mengalah tanpa kehilangan derajat)

Mereka yang mulia harus mampu menunjukkan :

  • kelembutan dalam tutur
  • keteduhan dalam sikap, dan
  • kejernihan dalam keputusan

Keraton harus menjadi rumah damai, yang memancarkan ketauladanan bagi seluruh bumi Jawa dan Nusantara. Dari situlah Keraton akan tampak keagungannya karena dihuni oleh manusia-manusia agung dan berwatak mulia.

Surakarta dan NKRI: Dua Sayap Dari Garuda Nusantara

Keraton bukan rival negara.
Keraton adalah akar tempat negara tumbuh
NKRI adalah batang dan daun.
Keraton adalah akar dan tanahnya.

Keduanya :

Saling menopang
Saling menguatkan
Saling menjaga arah

Bangsa yang melupakan akar, akan menjadi bangsa yang hilang arah.

Karena Indonesia tidak lahir dari kekosongan dan ruang hampa.
Ia lahir dari kerajaan-kerajaan leluhur yang memayungi rakyat dengan falsafah :

“Hamemayu Hayuning Bawana”
(Menjaga harmoni keindahan dunia)

Ibaratnya Bangsa Indonesia, adalah sebuah pohon. Sebesar dan setinggi apapun pohon tersebut bila akarnya rapuh, maka dia akan mudah tumbang oleh angin perubahan. Namun bila akarnya kuat maka ia akan mampu bertahan di segala jaman.

Demikianlah Indonesia dengan segala akar kebudayaan dan sejarahnya. Tentu saja Keraton Nusantara jelas adalah bagian penting dari keduanya, bahkan penjaga utama akan kelestariannya.

Penutup

Selamat Datang, Sang Penjaga Keseimbangan
Kepada PAKUBUWANA XIV, kami mengucapkan sugeng rawuh — selamat datang.

Semoga engkau:

Teduh seperti beringin alun-alun Surakarta
Tegas seperti langkah Sultan Agung
Lembut seperti ajaran Sunan Kalijaga
Dan jernih seperti mata air petuah para leluhur yang telah mengajarkan dan membangun peradaban yang luar biasa indah ini.

Karena:

Raja sejati bukan yang berkuasa atas manusia, melainkan yang menjaga keseimbangan jagad raya !
Surakarta belum padam.
Cahayanya baru saja menyala kembali.

Rahayu Nusantaraku, dan Jayalah Bangsaku!
Selamat Jalan Menuju Hari Keabadian Sinuhun Pakubuwono XIII, dan Selamat Memimpin Pakubuwono XIV, 5 Nopember 2025

Ditulis oleh:
Faqih Wirahadiningrat
(Pemerhati Budaya, Sejarah, dan Genetika Nusantara)

Terkait Kiriman

Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Ini Sangsi Yang Akan Diterima Oknum Polres dan Jaksa Jika Paksakan RJ Dalam Kasus Pengeroyokan Oleh Bahar Smith Terhadap Anggota Banser

6 Maret 2026
Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

3 Maret 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Melepas Bahar Smith Polres Metro Tangerang Kota Ada Apa?

3 Maret 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Alidin Assegaf Tegas Walisongo Dan Keturunannya Bukan Marga Habib B Alwi: Riziq Syihab Tetap Mengemis Keturunan Walisongo Agar Percaya Bahwa Mereka Adalah Ba Alwi

24 Februari 2026
Karya KH Imaduddin Utsman VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

Karya KH Imaduddin Utsman VS Rabithah Alawiyah di Persimpangan Jalan: Dokumentasi Sejarah atau Sekadar Doktrin Politik?

22 Februari 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

KENAPA SANTRI PENDUKUNG HABIB BA’ALWI BISA DISEBUT JAHIL MURAKKAB FAL MURAKKAB TSUMMAL MURAKKAB

18 Februari 2026

Info Baru Lainnya

Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

PD DMI Kab. Serang Buka Posko Mudik 1447 H di Alun-Alun Kramatwatu, KH Bunyamin Hafiz: Dari Masjid untuk Indonesia

14 Maret 2026
Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

Posko Mudik DMI 1447 H Hadir di Kramatwatu Serang, Sediakan Tempat Istirahat hingga Tukang Pijat

14 Maret 2026
PWI LS Purwokerto Kidul dan Pemuda Pancasila Gelar Aksi Berbagi Takjil di Banyumas

PWI LS Purwokerto Kidul dan Pemuda Pancasila Gelar Aksi Berbagi Takjil di Banyumas

13 Maret 2026
Tokoh, Ulama dan Budayawan Banten Gelar Buka Bersama di Ponpes NU Cempaka

Tokoh, Ulama dan Budayawan Banten Gelar Buka Bersama di Ponpes NU Cempaka

13 Maret 2026
PWILS Sumbang Banyumas Bagikan Takjil ke Pengendara di Bulan Ramadhan

PWILS Sumbang Banyumas Bagikan Takjil ke Pengendara di Bulan Ramadhan

12 Maret 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .