• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Berita

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya
0
BAGIKAN
1
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA – Peneliti dan pakar sosiologi, Dr. Saleh Basyari, mengamati adanya perubahan signifikan dalam peta kekuatan kultural keagamaan di Indonesia pasca mencuatnya riset nasab yang dipelopori oleh Kiai Imaduddin Utsman Albantani. Dalam diskusi daring di Padasuka TV (13/05/2026) ia mengungkapkan tesis-tesis Kiai Imad secara nyata telah menggerus dominasi tokoh-tokoh yang selama ini memegang otoritas aristokrasi keagamaan.

Dalam keterangannya, Dr. Saleh menyebut nama-nama besar yang selama ini identik dengan massa selawat dan pengaruh spiritual luas, seperti Syekh bin Abdul Qadir Assegaf dan Luthfi bin Yahya.

“Kita sudah merasakan hasil dari tesis-tesis Kiai Imaduddin. Kita tidak lagi melihat Habib Syekh merajai panggung-panggung selawat seperti sebelumnya. Begitu juga dengan Habib Luthfi bin Yahya, yang kini tidak lagi seleluasa dulu dalam mengaristokrasikan dirinya melalui label-label seperti waliullah atau simbol kesucian lainnya,” ujar Dr. Saleh.

Menurut Dr. Saleh, riset yang mengedepankan verifikasi sumber primer dan data genetik (DNA) ini telah menciptakan segregasi atau pemisahan di tengah masyarakat. Hal ini mengakibatkan wilayah pengaruh klan Ba’alwi—yang secara organisasi diwakili oleh tokoh seperti Taufik Assegaf—mengalami penyempitan ruang gerak kultural.

Ia menilai fenomena ini sebagai dampak dari “kerja ilmiah” yang berhasil membongkar hegemoni berbasis klaim nasab. Masyarakat kini mulai beralih dari pola penghormatan yang bersifat buta (husnuzon tanpa verifikasi) menuju pola pikir yang lebih kritis dan berbasis data.

Ia menyoroti dampak sosiologis dari tesis nasab Kiai Imaduddin terhadap peta kekuatan organisasi dan budaya keagamaan di Indonesia. Ia secara spesifik menyebutkan adanya penyempitan wilayah pengaruh bagi kelompok yang dipimpin oleh tokoh-tokoh tertentu.

“Ada segregasi dan juga penyempitan wilayah kaum Alawiyin yang diketuai oleh Taufiq Assegaf misalnya,” ujar Dr. Saleh. Ia menilai bahwa riset Kiai Imad telah memberikan sudut pandang baru bagi masyarakat dalam melihat otoritas keagamaan berbasis klan.

Salah satu perubahan nyata yang ia garis bawahi adalah menurunnya dominasi tradisi pembacaan kitab tertentu di masyarakat akar rumput. “Kita tidak mendengar lagi di kampung-kampung ada pembacaan Simtudduror yang masif seperti dulu, yang (sebelumnya sempat) menggeser Maulid Ad-Diba’i,” tambahnya.

Menurut Dr. Saleh, kembalinya masyarakat pada tradisi lokal seperti Maulid Al-Diba’i atau Barzanji dan berkurangnya dominasi Simtudduror merupakan bukti nyata bahwa kerja ilmiah Kiai Imaduddin berhasil membongkar hegemoni kultural yang selama ini dianggap absolut.

Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah sekadar masalah suka atau tidak suka, melainkan hasil dari sebuah proses intelektual yang memaksa masyarakat untuk melakukan verifikasi ulang terhadap narasi sejarah dan tradisi yang mereka terima.

Lebih lanjut, Dr. Saleh menegaskan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah bentuk koreksi terhadap “aristokrasi agama” yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang terberikan (given). Dengan runtuhnya narasi kesucian absolut, otoritas keagamaan di Indonesia kini didorong untuk kembali pada prinsip meritokrasi, yakni kapasitas intelektual dan integritas pribadi, bukan semata-mata garis keturunan.

“Ini adalah pergeseran besar. Hegemoni kultural yang selama ini tidak tersentuh kini menemui titik baliknya,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, polemik nasab terus berkembang menjadi diskusi nasional yang melibatkan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pakar genetika, hingga lembaga negara. (KD)

Terkait Kiriman

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani Sampaikan Surat Laporan Batalnya Nasab Habaib Kepada Presiden Prabowo

K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani Sampaikan Surat Laporan Batalnya Nasab Habaib Kepada Presiden Prabowo

12 Mei 2026
Kiai Imaduddin Temui Pak Dudung Kepala Staf Kepresidenan di Gedung KSP

Kiai Imaduddin Temui Pak Dudung Kepala Staf Kepresidenan di Gedung KSP

12 Mei 2026
Haul H. Abdul Gani, Ulama Milyuner Dari Kresek Tangerang Di Hadiri Wamenag RI

Haul H. Abdul Gani, Ulama Milyuner Dari Kresek Tangerang Di Hadiri Wamenag RI

4 Mei 2026
Gaungkan Semangat Koperasi Merah Putih, PKM UNPAM Serang Bangkitkan Partisipasi Warga Ranjeng

Gaungkan Semangat Koperasi Merah Putih, PKM UNPAM Serang Bangkitkan Partisipasi Warga Ranjeng

26 April 2026
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Silsilatul Dzahab Bantarsari vs Silsilatul Dajjal Baalwi: Praktekkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

20 April 2026

Info Baru Lainnya

Sidik Jari Genetika dan Proyek Genetika Quraisy

Sidik Jari Genetika dan Proyek Genetika Quraisy

14 Mei 2026
Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

Sejalan Dengan Anti-Nekolim Presiden Prabowo, Gus Rocky Usulkan Kiai Imad Menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Sejarah Islam

14 Mei 2026
Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

DR. Saleh Basyari: Bung Karno Nasionalisasi Aset Ekonomi, Kiai Imad Nasionalisasi Sosial-Keagamaan

14 Mei 2026
Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .