• Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Opini

Relevansi NU dan Identitas Islam Nusantara Pasca Munculnya PWI-LS

Relevansi NU dan Identitas Islam Nusantara Pasca Munculnya PWI-LS
0
BAGIKAN
121
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Didin Syahbudin

Identitas Islam Nusantara yang selama ini melekat untuk Ormas Nahdlatul Ulama (NU) belakang ini tergeser pasca munculnya Ormas Islam baru Bernama Perjuangan Walisongo Indonesia-Laskar Sabilillah (PWI-LS).

Para pemerhati sosial budaya dan keagamaan di Indonesia menilai PWI-LS telah mampu memikat kaum Islam Tradisonalis dari mulai ulama dan masyarakatnya untuk bergabung dengan Ormas Islam yang baru berumur dua tahun tersebut. Bahkan kabarnya laskar PWI-LS yang berjumlah ratusan ribu itu banyak di antaranya merupakan mantan anggota Banser dan Pagar Nusa. Awalnya, banyak di antara mereka tetap aktif dikedua Ormas itu, tetapi semenjak PBNU menerbitkan surat yang menyatakan PWI-LS bukan merupakan bagian struktural NU disusul dengan pernyataan nonformal sebagian petinggi PBNU yang melarang anggota Banser untuk aktif di PWI-LS, anggota Banser terpaksa harus memilih satu di antara keduanya. Yang demikian itu kemudian membuat nama PWI-LS semakin independen dan lebih terbuka.

Nilai-nilai Islam yang toleran serta faham Islam Ahlussunah Waljamaah yang diusung oleh PWI-LS tidak berbeda dengan NU. Yang membedakan mereka adalah ketegasan mereka sebagai penerus perjuangan Walisongo yang menyebarkan faham Islam Rahmatan Lil’alamin. Juga sikap tegas PWI-LS terhadap upaya pembelokan sejarah Islam di Nusantara dan perjalanan bangsa Indonesia dari masa ke masa yang dilakukan oleh kaum imigran serta keberpihakan yang nyata terhadap peran kiai-kiai pribumi Nusantara.

PWI-LS juga menyatakan bahwa Islam sebagai agama mayoritas harus melindungi agama minoritas begitupula suku Jawa. Keduanya adalah mayoritas di tengah bangsa Indonesia yang menurut PWI-LS, jika keduanya telah memiliki keinsafan untuk mengayomi yang lainnya maka keharmonisan dan persatuan bangsa Indonesia dalam bingkai NKRI akan tetap bisa dijaga selama-lamanya. Menurut PWI-LS sikap mengayomi dari mayoritas itu akan menumbuhkan rasa hormat dari minoritas dan akan bermuara kepada hilangnya sifat saling curiga dan menumbuhkan sikap saling menyayangi.

Hal lain dari Ormas Islam yang diketuai oleh KH. Abas Bili Yahsyi dari Pesantren Buntet Cirebon yang memikat hati masyarakat adalah sikap mereka terhadap usaha menjaga ajaran Walisongo dan kebudayaan Nusantara. Dalam acara-acara yang digelar PWI-LS ditampilkan kesenian dan budaya local Nusantara, hal tersebut kemudian menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan budaya sendiri.

PWI-LS pula dengan tegas menyatakan penolakannya terhadap klaim keturunan Nabi dari kaum Ba’alwi. Menurut PWI-LS kaum Ba’alwi yang disebut dengan habib itu bukan keturunan Nabi Muhammad SAW. DNA mereka berhaplogroup G yang merupakan penanda dari keturunan Suku kaukasus Bangsa Turki Kuno. Mereka pun menolak keras klaim para habib bahwa kaum Ba’alwi lebih mulia secara dzat dari bangsa Indonesia. Bagi PWI-LS bangsa Indonesia yang telah mendiami tanah Nusantara ribuan tahun yang silam adalah keturunan mulia dan lebih mulia secara dzat dari kaum Ba’alwi.

Menurut para pengamat sosial, hal terakhir itulah yang paling memikat kaum Islam Tradisionalis di Indonesia sehingga meyakinkan mereka bergabung dengan PWI-LS. Ormas NU dinilai absen dalam hal yang dirasa urgen bagi kaum Islam tradisionalis. Kaum Islam tradisionalis yang selama ini memendam kejengkelan terhadap perilaku para Ba’alwi terhadap para kiai di akar rumput merasa terwakili oleh ketegasan PWI-LS. Dalam wadah PWI-LS kiai-kiai di kampung merasa aman dari perilaku menjengkelkan para Ba’alwi tanpa harus takut lagi dengan doktrin-doktrin using kiai-kiai NU yang masih mukibin yang menakuti mereka dengan kuwalat dan sebagainya.

Hal menarik dari munculnya PWI-LS adalah relasi antara kaum Islam Tradisionalis di masa yang akan datang dengan Ormas NU yang selama ini menjadi identitas mereka. Kaum Islam tradisoinalis yang selama ini mengidentifikasi diri atau merasa dekat dengan NU apakah akan bergeser kepada PWI-LS. Apakah ke depan NU akan hanya terkonsentrasi di pesantren basis NU saja, sementara Islam tradisionalis di luar basis pesantren akan mengidentifikasi sebagai bagian dari PWI-LS. Walaupun tentu kemungkinan itu tidak serta merta mengatakan bahwa dalam PWI-LS tidak mempunyai basis pesantren. Struktur pengurus PWI-LS yang hari ini ada justru menunjukan para kiai-kiai pengasuh pesantren merupakan mayoritas dalam struktur kasepuhan setiap tingkatan kepengurusan PWI-LS. Ditambah ketua PWI-LS merupakan kiai pengasuh pesantren dari salah satu pesantren tertua di Indonesia. Nampaknya relasi NU, PWI-LS dan Islam tradisionalis akan menarik diamati di masa-masa mendatang.

Wassalam.

Tagar: didin syahbudinIslam Nusantarakenapa pwils lahirnasab habibNUpolemik nasabPWI-LSPWILSpwils pemalangRelevansitesis kiai imadtesis nasab

Terkait Kiriman

Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Muhammadiyah di Jogja Bukan Wahabi, Waketum PBNU Launching Kitab Ajak Ulama Hidupkan Kembali Semangat Keilmuan

20 Juli 2026
Tidak Sah Membuktikan Nasab dengan Ketenaran dan Penyebaran Jika Terdapat Penentang: Tanggapan Syaikh Imaduddin Utsman Al-Bantani Terhadap Syaikh Ibrahim bin Manshur dari Ulama Kerajaan Arab Saudi

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

29 Juni 2026
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Daftar Reportase Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU

2 Juli 2026
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Penjabaran Psikologis: Festival Su’ul Khotimah Klan Habib Baalwi dan Budak-Budaknya

24 Juni 2026

Info Baru Lainnya

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

Telah Terbit Buku Kiai Imad 1000 Halaman Lebih: Sejarah Runtuhnya Nasab Baalwi di Indonesia

28 Juli 2026
Pesantren Nahdlatul Ulum Sabet Seluruh Juara Kitab Kasyifatussaja pada MTQ ke-55 Kabupaten Serang 2026

Pesantren Nahdlatul Ulum Sabet Seluruh Juara Kitab Kasyifatussaja pada MTQ ke-55 Kabupaten Serang 2026

26 Juli 2026
Gemilang di MTQ Banten, Santri Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Borong Juara Pertama Cabang Lomba Kitab Kuning

Gemilang di MTQ Banten, Santri Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Borong Juara Pertama Cabang Lomba Kitab Kuning

23 Juli 2026
PCNU Grobogan Instruksikan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa Tak Amankan Acara Habib

PCNU Grobogan Instruksikan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa Tak Amankan Acara Habib

21 Juli 2026
Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .