Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara
Saya di pusat Muhammadiyah, Jogja. Keberagamaan di sini bisa dikatakan enak-enak aja, ngga tegang. Memang ada tawuran di lokasi tertentu. Ada demo masyarakat. Ada juga FJI yang mendemo Gus Fuad dan memfitnah leluhurnya sebagai PKI—lihat saja nanti, mereka akan mati su’ul khotimah. Saya tidak mendoakan, saya hanya memberitahu. Enteni wae titi wancine. Meski ada begitu-begitu saya rasa di sini enak. Masyarakatnya luwes dalam beragama. Tentu, tidak sempurna. Itu wajar. Kalau mau sempurna ideal 100% monggo sampean masuk surga duluan. Apa butuh dibantu mempercepat prosesnya?
Di Jogja saya pendatang. Jadi tentu awalnya saya tidak tahu budaya masyarakat di sini bagaimana. Warga di sini NU apa Muhammadiyah atau bagaimana; kalau ada orang meninggal, tahlilan apa ndak; kalau ada tahlilan mulainya jam berapa, dan lain-lain saya harus tanya-tanya warga setempat. Di Purwomartani, saya bercakap-cakap dengan warga dan menemukan yang menarik bagi saya. Saya diceritai kalau di situ ada banyak orang-orang NU yang jadi pengurus Muhammadiyah. “Gak ngerokok, Pak?” goda saya. “Ya, ngerokok, Mas. Wahh, malah kebal-kebul.” Kami berdua tertawa. “Di sini, Mas, campur-campur. Yang Muhammadiyah ya ikut tahlilan, yang NU jadi pengurus Muhammadiyah. Warga yang tidak mau ikut tahlilan, tidak apa-apa. Bebas, Mas. Yang mau ikut monggo, tidak ikut tidak apa-apa. Di sini mau NU atau Muhammadiyah tidak jadi soal.”
Suatu ketika ada tetangga sekitar 100 meter meninggal dunia. Sebagai pendatang saya berupaya jadi warga yang baik. Saya takziah. Malamnya saya ikut tahlilan. Usai tahlilan, saya heran kok ada acara nama warga disebut satu per satu kemudian setor sumbangan. Saya degdegan karena saya tidak bawa duit, saya cuma bawa rokok dan hp. Saya berasumsi praktek tahlilan di sini sama seperti di Madura yaitu yang mau datang ya tinggal datang saja. Tidak ada acara dipanggil-panggil begitu. “Wah, saya bakal malu ini,” saya membatin. Beruntungnya nama saya tidak disebut jadi batal malu. Di lain hari saya tanya lebih detail itu maksudnya bagaimana nama warga dipanggil setelah tahlilan. Ternyata yang mau ikut tahlilan harus daftar menjadi komunitas, yang hadir di tahlilan itu adalah komunitas itu dan ada iurannya, yang tidak daftar tidak hadir. Baru saya mengerti sistemnya. Jadi di waktu itu saya adalah tamu tak diundang—budaya yang berbeda dengan yang saya ketahui di Madura di mana yang mau datang tinggal datang saja tanpa perlu ada registrasi. Keesokan harinya saya putuskan tidak datang tahlilan lagi.
Di wilayah lain ada yang menarik juga bagi saya. Ada orang meninggal. Saya takziah. Saya ngobrol-ngobrol dengan seorang bapak, namanya Pak Dono (ini nama asli, saya tidak sedang berkelakar). Saya tanya apa ada tahlilan. “Ada, Mas.” “Nyuwun sewu, Pak. Saya tidak bermaksud apa-apa, njih. Berarti di sini NU ya?” “Di sini Muhammadiyah semua, Mas, cuma kami mengadakan tahlilan.” “Oh, gitu,” saya mengangguk-angguk, “Tujuh hari, Pak?” “Di sini tiga hari, Mas.” Wah itu menarik. Enak cuma tujuh hari. “Dulu pernah sampai tujuh hari cuma warga kecapean terus kami ganti jadi tiga hari, Mas.” “Njih, Pak, capek ya,” saya mencoba bersimpati, “Saya sangat mengerti itu.” Terdengar suara kencang dari kejauhan, “GOOSSS REFKEEEE!” sampai semua orang menoleh, ternyata Mas Resta. “Iki Gos iki, Pak, Gos Jawa Timuran,” dengan nada medoknya sambil menepuk pundak saya. “Ndak, Pak, saya orang normal,” jawab saya kalem. “Oh, kalau gitu aman bagian utara, sudah ada kader penerus, Mas Rifky aja, yang mimpin tahlilan ya kalau Pak Ustaz ndak bisa,” ujar Pak Pur. “Njih, insyaAllah, Pak.” Sejak saat itu saya keluar rumah selalu pakai katok (celana pendek). Sebuah upaya saya agar kesalahpahaman panggilan ‘Gus’ pada saya tidak berlanjut.
Ada yang lucu. Di kepala saya orang Muhammadiyah kan anti seremoni budaya yang saya kenal sebagai identik dengan NU (sebenarnya yang saya maksud: muslim tradisional bukan ormas, ini hanya untuk mempermudah penulisan). Umpamanya kalau di NU pindah ke rumah baru ada selametan, anak baru lahir ada selametan, apa-apa pokoknya selametan, kan begitu—di kepala saya, presumsi saya, orang Muhammadiyah di Jogja ndak begitu. Saya ada urusan ke suatu tempat, kebetulan rumah baru seorang tokoh Muhammadiyah hanya selang satu halaman saja. Saya lihat ada rame-rame. Saya tanya, “Bapak lagi ngapain kok rame-rame?” “Tahlilan.” Saya heran, “Tahlilan apa?” “Itu kan rumah baru, jadi ngundang tetangga-tetangga yang anggota tahlilan (orang NU) untuk tahlilan.” Saya heran rumah baru kok malah tahlilan, saya tanya, “Terus apa yang dibaca?” “Ya, tahlilan itu kaya biasanya.” Saya ketawa mendengar itu. Pasalnya, kalau di Madura kata ‘tahlilan’ identik untuk acara mendoakan orang meninggal. Untuk acara bersyukur menggunakan istilah ‘selametan’ atau ‘syukuran’. Jadi ketika saya mendengar ada acara ‘tahlilan’ digunakan untuk syukuran rumah baru terjadi dua konsep yang bertabrakan di kepala saya yaitu acara kematian untuk syukuran rumah baru. Saya ketawa kecil. Ya, ya, ya, baiklah, komposisi menarik: orang Muhammadiyah ngundang orang NU untuk tahlilan buat syukuran rumah baru.
Di lain hari, putrinya melahirkan cucu pertamanya. Beliau kan tokoh Muhammadiyah. Anak dan menantunya juga Muhammadiyah dan kerja di salah satu Universitas milik Muhammadiyah sekaligus di kepengurusan pusat Muhammadiyah entah di bagian apa. Dan ini di Jogja, pusat Muhammadiyah. Jadi saya pikir tidak akan ada acara semacam selametan seperti di Madura. Tapi kemudian saya diberitahu bahwa akan ada acara. Saya heran, oh ternyata orang Muhammadiyah mau juga acara begitu. Saya datang, awalnya saya pikir yang dibaca adalah bacaan tahlilan karena yang saya dengar di sini seperti Iklan Teh Botol Soro, apapun acaranya bacaannya tahlilan. Ternyata, ya Allah, saya terkejut, malah shalawatan coba. Saya geleng-geleng kepala sembari ketawa kecil, “Ini orang Muhammadiyah tapi lebih NU daripada saya,” karena saya menghindari acara-acara begitu. Bukan karena alasan teologis tetapi karena stamina mental (social battery) saya sedang tidak memadai.
Teman istri saya, ibunya meninggal. Orang Muhammadiyah. Kami takziah ke Kulon Progo. Ada tenda untuk para takziah, kebetulan waktu itu musim hujan, ya seperti biasa. Istri saya ngobrol dengan temannya sementara—karena nganggur—saya sedikit ambil jarak mendekat ke tembok untuk tahlilan sendirian dengan suara pelan menggunakan aplikasi NU Online yang dipimpin oleh orang yang disebutkan menerima dana dari George Soros dan mensponsori Rumail Abbas itu—budak habib. Selesainya, saya lihat ada sekelompok orang perempuan laki-laki berkumpul pegang Quran dekat sang mayit. Saya tanya ke keluarga yang meninggal, “Nyuwun sewu, Mas, kalau itu ada acara apa ya?” “Oh itu keluarga, lagi khamatan Quran, Mas.” “Emm,” sembari mengangguk saya sampaikan, “Tadi saya agak menjauh karena saya izin nyumbang doa tahlilan, Mas.” “Iya, Mas, tadi saya lihat.”
Saya pikir yo podo wae antara NU dan Muhammadiyah, sama-sama mendoakan, hanya bedanya pada bentuk caranya. Mereka tidak mengacarakan secara formil sedangkan orang tradisional biasanya mengacarakan secara formil yang kita sebut tahlilan yang kemudian diaku-aku sebagai tradisi NU. Mereka mendoakan dalam bentuk khataman Quran, saya dalam bentuk tahlilan.
Di Jogja tidak semua orang tahlilan dan tidak semua orang tidak tahlilan baik yang Muhammadiyah maupun NU. Di sini bebas dan tidak jadi persoalan baik melakukan tahlilan atau tidak tahlilan—tidak digosipi atau dituding bagaimana. Tidak ada tekanan sosial-budaya untuk melakukan tahlilan atau bentuk seremoni lainnya. Saya tidak tahu jika di wilayah atau kota lain bagaimana tapi begitulah pengalaman saya.
Pengalaman lain yang baru juga bagi saya yaitu tentang mendoakan tanah dan rumah. Ada keluarga saya di Jogja, tanahnya mau dibangun rumah. Sebelum dibangun, mengundangg keluarga untuk berdoa di tanah tersebut. Yang mendoakan orang Muhammadiyah. Melihat peristiwa itu saya membatin, “Ternyata orang Muhammadiyah mau yang begini-beginian ya,” dulunya saya pikir orang Muhammadiyah tidak mau. Setelah rumah selesai, bikin acara berdoa, sebagian yang datang adalah orang Muhammadiyah. Yang diidentifikasi oleh orang-orang sebagai NU satu-satunya adalah saya. Padahal saya tidak pernah mengaku-ngaku tapi itu mungkin karena di jidat orang Madura ada tulisan NU-nya di penglihatan orang lain. Berbeda dengan itu, saya tidak bikin-bikin acara seperti itu meski ditanya-tanya ayo kapan mau mendoakan tanah saya. Yang tanya siapa? Orang Muhammadiyah. Saya tidak bikin acara baik pra-pembangunan atau pun setelah rampungnya rumah. Saya doain sendiri semua bareng istri saya. Kenapa? Ya, males aja ribet-ribet ngundang orang harus begini begitu. Ada seorang Ibu, Muhammadiyah tulen, mungkin saking gemesnya dengan saya beliau sampai menawarkan, “Bikin acara makan-makan ya? Sudah Mas Rifky gak usah ikut-ikut repot, terima jadi aja. Semua makanan ibu yang masak. Pokoknya terima jadi, ndak keluar biaya.” Saya diam. “Ayo, Ca, bikin ya,” beliau mencoba nego ke istri saya. “Wah, kalau itu tanya ke Rifky, Bu, saya gak berani.” Saya diam aja. Lama kelamaan beliau menyerah juga.
Dari kumpulan pengalaman itu saya pikir-pikir ini posisinya kebalik. Saya yang dikira NU oleh orang Muhammadiyah, malah kelakuan saya yang Muhammadiyah yang dalam pikiran saya begitulah orang Muhammadiyah. Sementara orang Muhammadiyah sendiri justru kelakuannya NU meski dengan corak ekspresi (cara budaya) yang berbeda.
Jadi kalau Muhammadiyah dikatakan didirikan oleh Wahabi itu tidak benar karena jelas arus pemahamannya mengikuti KH. Ahmad Dahlan, Trah Sunan Giri Walisongo dari Keraton Jogja. Kalau misalnya di zaman dulu Mbah Dahlan mendekonstruksi atau mereformasi banyak hal terkait praktek budaya agama masyarakat, saya dapat memahaminya. Di zaman sekarang saja kebablasan masih banyak terjadi apalagi di zaman dulu di 1900an. Umpamanya di zaman sekarang praktek ziarah kubur dan haul di sebagian kalangan NU tercampur dengan ajaran Sekte Baalwi. Kyai Imad sendiri melakukan revisi atau memberikan penjelasan terhadap praktek itu bahwa ziarah kubur dan haul antara NU dengan Baalwi berbeda—itu hanya satu contoh. Belum lagi kultus individu yang terjadi dan khurafat. Ini kita belum memasukkan faktor ajaran Sekte Baalwi yang masuk ke NU. Fakta-fakta najis mugholladoh lainnya belum kita masukkan juga dalam tulisan ini. Sebenarnya, saya kira, keadaan Mbah Dahlan (Muhammadiyah) serupa dengan apa yang kita (Anda) lakukan hari ini: berupaya meluruskan bukan membumihanguskan. Kemudian disalahpahami.
Kalau Muhammadiyah dikatakan pada zaman sekarang berpaham Wahabi, kumpulan pengalaman saya berinteraksi dengan lingkungan Muhammadiyah sama sekali tidak menunjukkan itu. Saya juga dihadiahi buku Himpunan Keputusan Tarjih Muhammadiyah (cet. 2018) sejak lama. Saya pelajari dan tidak ada masalah. Anda juga bisa memeriksanya.
Memang pengalaman saya bersentuhan dengan Muhammadiyah terbatas pada medio 2000an awal hingga kini. Itu pun tidak intens. Jadi saya tidak tahu tentang hubungan NU-Muhammadiyah sebelum tahun 2000 bagaimana. Kalau di atas tahun 2000 sebagaimana yang telah saya ceritakan di tulisan Seri I dan II (saya tidak tahu itu tayang atau tidak) keributan antara NU dan Muhammadiyah kala itu menurut saya keributan yang sama sekali tidak penting—kurang kerjaan—semestinya tidak terjadi. Dan ada indikasi yang menurut Bang Nasab tuduhan Muhammadiyah adalah Wahabi kala itu disemburkan oleh Klan Habib Baalwi sampai-sampai orang NU tidak mau sholat di masjid Muhammadiyah, orang Muhammadiyah tidak mau sholat di masjid NU. Apa yang diceritakan Bang Nasab itu masuk akal, klop dengan timeline pengalaman saya dan pola Klan Habib Baalwi yang kita identifikasi di masa ini, meski butuh penelitian lebih lanjut untuk kepastiannya. Di tulisan Seri I saya juga sudah menunjukkan penjelasan dari Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir, bahwa beliau tidak tahu—entah dalam pusaran konflik apa narasi yang tidak benar itu terus-menerus direproduksi. Iya, terjadi kerancuan persepsi di tengah masyarakat terhadap Muhammadiyah, dianggap sama dengan Wahabi. Ini sebagaimana kerancuan yang dialami NU bahwa ajaran Habib dianggap sama dengan ajaran NU. Muhammadiyah telah berupaya mengedukasi masyarakat meluruskan persepsi bahwa Muhammadiyah bukan Wahabi dan perbedaannya dengana Wahabi melalui berbagai media edukasi. Saya sudah pernah membahas tentang iltibas ini saat podcast dengan Kyai Imad.
Sedangkan di bawah tahun 2000an yang paling menonjol di pengetahuan saya adalah KH. Hasan Basri, kader Muhammadiyah yang menjadi ketua MUI yang pada tahun 1993 (sebagian artikel menulis 1983) melontarkan pernyataan bahwa tidak ada anak keturunan Rasulullah di Indonesia bahkan di dunia (saya kira yang dimaksud atau disasar beliau adalah Klan Habib Baalwi yang mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi). Klan Habib Baalwi kebakaran jenggot, melakukan berbagai upaya pembelaan namun tetap gagal meredam kegaduhan. Kegaduhan itu ramai bertahun-tahun dan baru teredam setelah Gus Dur turun tangan. Saya mendengar selintas orang berpandangan mungkin karena itu Kyai Hasan Basri (yang mana beliau adalah kader Muhammadiyah) dikomentari sebagai semi-Wahabi. Saya sendiri penasaran latar belakang (pre-text) apa yang membuat Kiai Hasan Basri sampai mengeluarkan pernyataan itu di surat kabar. Pasti ada yang melatarbelakanginya, tidak mungkin tidak ada apa-apa ujug-ujug mengeluarkan pernyataan seperti itu di surat kabar (di mana kala itu sebagai media utama yang berdampak sangat besar) dan itu pasti terkait dengan kelakuan Klan Habib Baalwi. Sampai sekarang saya belum menemukan data tentang apa yang melatarbelakanginya.
Di dalam pengetahuan saya hanya itu yang paling menonjol mengenai ‘benturan’ antara NU (Gus Dur) dan Muhammadiyah (Kyai Hasan Basri) sebelum tahun 2000. Dan hari ini kita, Anda yang NU, membuktikan sendiri bahwa Klan Habib Baalwi mustahil dzuriyah Nabi Saw dan tentu saja kita semua bukan Wahabi (malah kita yang difitnah sebagai Wahabi dan Khawarij oleh Rais Aam PBNU). Memang saat itu Kyai Hasan menggunakan kalimat ‘tidak ada anak keturunan Rasulullah’—saat ini kita dapat memahami kalimat itu keliru—tapi maksud beliau benar yaitu hendak memberitahu masyarakat bahwa habib-habib itu bukan keturunan Rasulullah. Terbukti Kader Muhammadiyah itu benar—waktu itu mungkin beliau disewoti NU, meski Gus Dur pun benar, sayangnya keduanya berbicara tidak spesifik dan itu dapat dimaklumi mengingat ketersediaan pengetahuan di zaman itu tak sedetail dan seterus-terang saat ini.
Jadi, saya tidak paham atas bangunan pengetahuan dan pengalaman apa Kyai Imad mengatakan Muhammadiyah itu Wahabi dan atau Wahabilah yang mendirikan Muhammadiyah. Muhammadiyah bukan Wahabi. Bahwa berbeda dengan NU dalam ekspresi budayanya, betul. Bahwa mereka tidak mau TBC, Anda pun juga menolaknya meski pada faktanya NU-lah yang memelihara Sekte Baalwi berikut TBC-nya. Kalau Muhammadiyah dipersepsikan tidak percaya karomah para wali kemungkinan besar karena yang dilihatnya adalah pihak di lingkungan terdekatnya yaitu NU yang dipenuhi karomah Sekte Baalwi yang kini Anda nyatakan juga sebagai khurofat berdasar audit ilmiah dan kesesuaiannya dengan syariat. Bahwa Muhammadiyah nampak jarang ziarah kubur, betul, namun tidak berarti melarang. Walau jarang ziarah kubur, Muhammadiyah tidak membeton kuburan pribumi untuk diinjak-injak seperti yang dilakukan Gus Baha membeton 50 puluh kuburan lebih di Kudus demi Wali Baalwi melalui Fatwa Ambulansnya.
Muhammadiyah tidak sempurna, banyak kurangnya—wajar, tapi bukan Wahabi. Saya melihat mereka hanya berupaya disiplin pada keilmuan. Hanya Adi Hidayat yang kesurupan. Saya tidak menyatakan NU tidak disiplin pada keilmuan tetapi menarik melihat Waketum PBNU melaunching kitab mengajak ulama menghidupkan kembali semangat keilmuan. Itu artinya, sebelumnya mati selama ini mati makanya perlu diajak-ajak menghidupkan kembali. Sebuah ajakan yang unik. Unik karena ulama kok tidak menghidupkan keilmuan sampai butuh diajak-ajak dan kok bisa disebut ulama padahal tidak menghidupkan keilmuan. Tentu yang dimaksud ‘ulama’ oleh Kyai Zulfa di situ adalah ulama NU bukan ulama Muhammadiyah.














