• About Us
  • Privacy Policy
  • Contact
newsky.id
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
newsky.id
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Politik

Dilema PSI: Menantang Arus Sentimen “Anti-Baalwi” Demi Politik Akomodasi

Dilema PSI: Menantang Arus Sentimen “Anti-Baalwi” Demi Politik Akomodasi

Kaesang Pangarep dan Hussein bin Hasyim Ba’agil, Sumber: Antara (2/12/23)

0
BAGIKAN
2
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter

Dinamika politik Indonesia tahun 2024-2025 diwarnai oleh fenomena sosioreligius yang unik: gugatan massal terhadap validitas nasab kelompok Baalwi. Gerakan yang dipicu oleh penelitian ilmiah-sejarah ini telah melahirkan gelombang kesadaran baru di akar rumput, khususnya warga Nahdliyin, yang mulai mendambakan kembalinya otoritas keagamaan kepada ulama Nusantara asli. Namun, di tengah arus besar “demistifikasi” ini, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) justru mengambil langkah yang dianggap anomali dengan merangkul sosok Habib Husin Ba’agil ke dalam jajaran partai.

Keputusan PSI untuk memamerkan keterlibatan tokoh Baalwi secara terang-terangan menciptakan dilema internal dan eksternal. Di satu sisi, PSI di bawah Kaesang Pangarep tampak ingin memperluas basis massa ke segmen religius-nasionalis dengan memanfaatkan figur yang memiliki kedekatan dengan simbol-simbol negara dan militer. Namun, di sisi lain, langkah ini justru terlihat “tuli” terhadap gejolak yang sedang terjadi di kalangan pemilih rasional dan warga NU yang sedang gencar mengampanyekan pemisahan politik dari pengaruh hegemoni nasab.

Ada beberapa risiko strategis yang kini membayangi PSI. Basis massa NU yang kini sedang “bangun” dan kritis terhadap narasi “jualan agama” lewat gelar nasab kemungkinan besar akan melihat PSI sebagai partai yang justru melanggengkan model politik identitas lama. Jika sentimen anti-Baalwi terus membesar, PSI berisiko kehilangan potensi ceruk suara dari jutaan warga Nahdiyyin yang menginginkan kepemimpinan berbasis rekam jejak, bukan silsilah.

Sejak awal, PSI mem-branding diri sebagai partai anak muda yang progresif, rasional, dan anti-politisasi agama. Menjadikan tokoh dengan identitas “habib” sebagai ujung tombak politik menciptakan kesan bahwa PSI sedang melakukan “standar ganda”: menentang politik identitas di satu sisi, namun menggunakannya di sisi lain demi kepentingan elektoral instan.

Sebagaimana yang dialami PPP dan PKS yang suaranya cenderung stagnan atau menurun karena gagal membaca perubahan psikologi pemilih dan arus utama anti ekploitasi nasab, PSI bisa terjebak dalam lubang yang sama. Mengandalkan figur karismatik tradisional di era digital, di mana klaim-klaim sejarah dapat diuji secara terbuka, adalah strategi yang rentan.

Langkah PSI ini memang bisa dibaca sebagai upaya menantang arus (contrarian strategy). Mereka mungkin bertaruh bahwa massa yang masih loyal pada figur habib tetap masih ada. Namun, dalam politik yang dinamis, mengabaikan sentimen sosiologis yang sedang tumbuh kuat di organisasi terbesar seperti NU adalah perjudian yang sangat mahal.

Jika gerakan anti-Baalwi berhasil mengubah peta kepemimpinan di PBNU di masa depan, PSI mungkin akan mendapati dirinya berdiri di sisi sejarah yang salah—terisolasi dari arus utama pemilih Nusantara yang kini lebih menghargai “nasab perjuangan” dan intelektualisme daripada sekadar “nasab keturunan”.

Oleh: Didin Syahbudin

Terkait Kiriman

Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

3 Maret 2026
Habib Assegaf Berencana Membunuh Megawati Dua Kali dan Jendral (Purn) Benny Moerdani (?)

Habib Assegaf Berencana Membunuh Megawati Dua Kali dan Jendral (Purn) Benny Moerdani (?)

24 Juli 2025

Info Baru Lainnya

Dilema PSI: Menantang Arus Sentimen “Anti-Baalwi” Demi Politik Akomodasi

Dilema PSI: Menantang Arus Sentimen “Anti-Baalwi” Demi Politik Akomodasi

4 Maret 2026
Ansor Tangerang Tolak RJ, Desak Tersangka Kasus Ridha Ditahan

Ansor Tangerang Tolak RJ, Desak Tersangka Kasus Ridha Ditahan

3 Maret 2026
Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

Menuju Muktamar NU 2026: “PBNU Terbebas Doktrin Ba’alwi”

3 Maret 2026
Israel Tolak Bayar Iuran Dewan Perdamaian Rp17 Triliun, AS Setujui tanpa Protes

Israel Tolak Bayar Iuran Dewan Perdamaian Rp17 Triliun, AS Setujui tanpa Protes

3 Maret 2026
DMI Banten dan BPJS Ketenagakerjaan Teken Kerja Sama, Fokus Lindungi Pekerja Rentan di Masjid

DMI Banten dan BPJS Ketenagakerjaan Teken Kerja Sama, Fokus Lindungi Pekerja Rentan di Masjid

25 Februari 2026

KategoriLainnya

  • All
  • Nasional
  • Kebangsaan
  • Keislaman
Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?
Keislaman

Apakah Zakat Fitrah Dengan Uang Harus 200 Ribu Rupiah?

oleh Admin
25 Maret 2025
0

Oleh: KH. Imaduddin Utsman (Pengasuh PP Nahdlatul Ulum, Kresek Tangerang, Banten) Beberapa hari ini, beredar di media sosial whatsapp sebuah...

Baca lebihDetails
Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

Diluruskan Gus Aziz Jazuli Tentang Nasab Ba’alwi, Gus Baha Belum Standar Ilmiah

23 November 2025
Mengenal dan Memahami Teknologi AI

Mengenal dan Memahami Teknologi AI

25 Maret 2025
RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

RUU TNI Disahkan Jadi UU, DPR Gelar Rapat Paripurna

25 Maret 2025
Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

Teknologi Baru Yang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

25 Maret 2025
Prev Next
Facebook Twitter

© 2026 Newsky - .

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Hukum
  • Keislaman
  • Opini
    • Rakyat Bersuara
  • Tekno
  • Pendidikan
  • Olah Raga

© 2026 Newsky - .