TANGERANG — Pembangunan Museum Pahlawan Nasional Raden Aria Wangsakara resmi dimulai dengan prosesi peletakan batu pertama di Kompleks Taman Makam Pahlawan Raden Aria Wangsakara, Kampung Lengkong Ulama, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Jumat (11/9/2026).
Peletakan batu pertama tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat Tangerang dan Banten dalam merawat ingatan sejarah tentang sosok Raden Aria Wangsakara, seorang ulama sekaligus pejuang yang memiliki peran penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme VOC serta perkembangan Islam di wilayah Tangerang dan Banten.
Kegiatan tersebut digelar oleh Ikatan Keluarga Besar Raden Aria Wangsakara (IKBAR WANGSA) bersama Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Komarudin, M.A.P., yang mewakili Gubernur Banten Andra Soni, S.M., M.AP.; Bupati Tangerang Drs. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si.; Camat Pagedangan Dhani; perwakilan PUPR Provinsi Banten; Anggota DPRD Provinsi Banten Nurkholis, S.THI.; Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Firman Maulana; Ketua IKBAR WANGSA KH. M. Taqiyudin, S.Pd.; Penasihat IKBAR WANGSA KH. Baiquni Yasin; jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, para ulama, warga sekitar, serta keluarga besar Raden Aria Wangsakara.
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa pembangunan museum bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah, merawat warisan budaya, sekaligus menanamkan nilai perjuangan kepada generasi penerus. Pemerintah Kabupaten Tangerang juga menyatakan dukungannya agar museum tersebut kelak menjadi pusat sejarah, edukasi dan wisata religi.

Sejumlah anggota PWI-LS (Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah) turut hadir, termasuk Kang Didin, yang juga merupakan Ketua Bidang Media PWILS Pusat.
Raden Aria Wangsakara merupakan ulama sekaligus pejuang yang memiliki peran penting dalam sejarah Tangerang dan Banten. Beliau dikenal terlibat dalam perjuangan melawan VOC di Batavia dan Tangerang serta berperan dalam membangun kehidupan keislaman masyarakat.
Jejak perjuangannya tercatat dalam berbagai sumber historiografi Nusantara yang perlu terus dikaji, termasuk Sajarah Banten, Paririmbon Ka-aria-an Parahiyang dan Babad Diponegoro. Negara kemudian menetapkan Raden Aria Wangsakara sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2021.
Kiprahnya juga menunjukkan bahwa ulama Nusantara pada abad ke-17 memiliki jaringan hubungan yang luas dengan dunia Islam. Dalam sejumlah riwayat, Raden Aria Wangsakara disebut memiliki peran dalam hubungan diplomatik dengan Syarif Mekah serta upaya membangun kerja sama antarkerajaan Muslim Nusantara dalam menghadapi tekanan VOC.
Jejak Raden Aria Wangsakara hingga kini masih dirawat oleh para dzurriyah dan keluarga besarnya. Di antara tokoh yang disebut memiliki garis keturunan atau hubungan keluarga dengan beliau adalah Prof. Dr. KH. Maruf Amin, RH. Oma Irama, KH. Imaduddin Utsman Al-Bantani, R. Tb. M. Nurfadhil, KH. Ahmad Mahrussilah, R. Gina, R. Lutfi Abdul Gani, KH Muhammad Heppy serta Sofian Hadi.
Bagi PWI-LS, keberadaan museum ini bukan sekadar pembangunan sebuah gedung. Museum diharapkan menjadi pusat dokumentasi sejarah, manuskrip, silsilah, kebudayaan dan perjuangan Raden Aria Wangsakara sekaligus ruang pendidikan bagi generasi muda.
Sejarah, nasab dan jasa seseorang semestinya dirawat melalui data valid, manuskrip, arsip dan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar klaim.
Peletakan batu pertama ini menjadi simbol bahwa perjuangan Raden Aria Wangsakara tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu.
Dari Lengkong, sejarah Tangerang dan Banten terus dirawat untuk Indonesia. (Din)














