Oleh: Dr. Muhammad Zuhair Al-Mur’ib
(Doktor Genetika Manusia / Pengajar di Universitas Al-Mustaqbal / Fakultas Sains / Departemen Bioteknologi)
Teknologi Sidik Jari Genetika atau DNA Fingerprinting
Teknologi sidik jari genetika atau yang disebut sidik jari genetik untuk asam nukleat (DNA FINGER PRINTING) adalah penemuan yang mewujudkan revolusi dalam ilmu forensik, dan dianggap sebagai yang terpenting sejak ditemukannya sidik jari tangan di kalangan ilmiah pada abad kesembilan belas. Para ilmuwan telah memanfaatkan keunikan pada manusia ini dalam bidang kedokteran forensik, masalah nasab (silsilah), dan keluarga, di samping investigasi untuk menentukan orang-orang yang dicurigai dalam berbagai kejahatan kekerasan.
Teknik asam nukleat (DNA) pada masa sekarang dianggap sebagai teknik yang paling akurat di zaman ini karena menyajikan bukti genetik yang menunjukkan identitas setiap manusia secara spesifik. DNA merupakan asam seluler yang unik pada setiap orang dan merupakan sidik jari yang tidak berulang dari satu orang ke orang lain, bahkan pada kembar identik sekalipun, sehingga mewujudkan keunikan dan distingsi bagi setiap manusia secara mandiri. Maha Suci Allah Sang Pencipta Yang Maha Agung yang berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
Indikasi Ilmiah Sidik Jari Genetika
Sidik jari genetika didefinisikan sebagai (pola genetik yang terbentuk dari urutan berulang yang tidak diketahui fungsinya, urutan ini bersifat unik dan khas bagi setiap individu). Secara ilmiah, ia juga didefinisikan sebagai unit-unit kimiawi dua sisi yang dibawa dalam murtotsat (gen-gen) dan didistribusikan dengan cara yang membedakan setiap individu dari yang lain dengan ketelitian yang sangat tinggi.
Sebab kekhususan ini merujuk pada sifat pembentukan sidik jari genetika itu sendiri, karena ia terbentuk dari dua sisi kromosom; satu sisi diwarisi individu dari ayahnya (Y atau X) dan sisi lain diwarisi dari ibunya (X) untuk membentuk kromosom baru yang merupakan campuran dari kedua kromosom tersebut. Kemudian, individu tersebut pada gilirannya memindahkan salah satu dari dua sisi sidik jari ini kepada anak-anaknya untuk membentuk sidik jari baru, dan demikian seterusnya. Dari sini, peta keberadaan gen pada pita DNA dideskripsikan sebagai “sidik jari” karena membawa karakteristik yang mencerminkan fondasi personal dan jati diri yang membuat manusia berbeda dari sesama jenisnya, dan itulah yang dikenal sebagai indikasi ilmiah sidik jari genetika.
Proyek Genetika Quraisy dan Bani Hasyim
Proyek ini fokus mempelajari DNA laki-laki (Y-DNA Chromosome) bagi para Sada Al-Asyraf dari kalangan Alawiyyin, Hasyimiyyin, dan sepupu mereka dari berbagai klan Quraisy serta mereka yang secara genetik berdekatan dari pemilik penanda genetik laki-laki untuk mutasi (SNP) berikut:
FGC8712, L859, FGC8703, FGC10500, FGC30416, FGC54257, CTS8308, FGC10492, FGC10493, FGC10502, FGC8702, FGC9581, ZS2094, ZS4604, ZS5448, ZS2102, & L615.
Proyek ini menyimpulkan ringkasan sebagai berikut:
• Bahwa mutasi L859 adalah penanda genetik yang dibawa oleh semua putra kabilah Quraisy historis.
• Bahwa mutasi FGC8703 adalah penanda genetik Thalibi Hasyimi.
• Bahwa mutasi FGC10500 adalah penanda genetik khusus untuk Imam Ali (as) yang dibawa oleh seluruh Sada Alawiyyin.
• Bahwa mutasi FGC30416 adalah penanda genetik khusus untuk Imam Husain (as) dan putranya Imam Ali As-Sajjad (as) yang dibawa oleh setiap keturunan laki-laki mereka (Sada Husainiyyun).
Pembaruan Hasil Sada Al-Mur’ib Al-Dzabhawi Al-Husaini
Informasi Sada Al-Mur’ib telah ditingkatkan (diperbarui) oleh Dr. Muhammad Zuhair Naji Al-Mur’ib setelah memberikan sampel darinya dan dari Sayyid Ja’far Musa Al-Mur’ib (pemimpin Sada Al-Mur’ib di Provinsi Babel). Hasilnya menunjukkan Positif untuk mutasi genetik FGC54257 yang menjadi ciri khas Sada Husainiyyah. Hasil tersebut telah berhasil ditambahkan ke Proyek Genetika Quraisy dan Bani Hasyim dan mendapat sambutan hangat dari Sayyid Hadi Al-Amili (Lebanon) selaku manajer proyek, serta dari para sepupu dari kalangan Sada Husainiyyah di Irak, Bahrain, Arab Saudi, Swedia, Inggris, dan Amerika Serikat.
Hasil Sada Al-Mur’ib Al-Dzabhawi Al-Husaini / 8 Maret 2022: Muncul hasil 111-STRs untuk sampel Sada Al-Mur’ib Al-Dzabhawi Al-Husaini (dari Hilla – Irak), sebagai tahap pertama dari pemeriksaan BigY700. Hasilnya sesuai dengan sampel Quraisy dan Thalibi (DYS485=14) dan positif untuk mutasi berulang (STR) berikut:
- Alawiyyah Umum: DYS452=29 dan DYS513=11.
- Husainiyyah Umum: DYS442=12 dan CDY=32.
- Husainiyyah Cabang: (Y-GGAAT-1B07=10 dan DYS712=19) khusus untuk anggota klaster FGC86264 di bawah (FGC54257).
- Hasil tersebut Negatif untuk mutasi berulang cabang DYS445=12 yang dibawa oleh sepupu mereka: Sada Al-Buhadari Al-Dzabhawi, Al-Shalih, Al-A’raji, Al-Zaidi, Al-Saqqaf, serta sisa Sada Radhawiyyin (Al-Askari, Al-Haidar, Al-Na’im, Al-Syir, dan Al-Nadwi), yang membuat mereka berada di luar garis genetik FT406499 (di bawah FGC54257).
Sampel tersebut juga menunjukkan kesesuaian dengan berbagai sampel dari Sada Hasaniyyun, Husainiyyun, dan Alawiyyin, di mana yang terdekat adalah:
• Al-Mu’afa Al-Hasani dengan selisih 5 dari 67 STRs, namun negatif untuk mutasi Hasani (DYS513=12).
• Al-Athwi Al-Husaini dengan selisih 8 dari 67 STRs.
• Dengan hasil awal ini, sampel tersebut diklasifikasikan ke dalam kelompok Husainiyyun umum, dan terbukti positif untuk mutasi FGC54257.
Garis Keturunan (Nasab)
Asal-usul Sada Al-Mur’ib Al-Dzabhawi merujuk ke kota Hilla (Babel historis, Irak), dan nasab mereka berakhir pada: Sayyid Mur’ib bin Muhammad bin Azzam Al-Kabir (kakek pemersatu dengan Sada Al-Buhadari dan Al-Zuwain) bin Abdullah Al-Dzabih bin Abi Al-Qasim bin Ali bin Muhammad Abu Al-Barakat bin Al-Qasim bin Ali bin Syukr Al-Naqib bin Muhammad bin Al-Hasan Al-Asmar Al-Naqib bin Al-Husain bin Abi Abdullah Syamsuddin Ahmad Al-Naqib bin Abi Al-Hasan Ali Al-Naqib bin Abi Thalib Muhammad bin Abi Al-Hasan Muhammad bin Abi Ali Umar Al-Syarif bin Abi Al-Hasan Yahya Naqib Al-Nuqaba bin Abi Abdullah Al-Husain Al-Nassabah bin Ahmad Al-Muhaddits bin Abi Ali Umar bin Abi Al-Hasan Yahya Al-Muhaddits bin Al-Husain Dzi Al-Dam’ah bin Al-Faqih Zaid Al-Syahid bin Imam Ali Zainal Abidin (alaihis salam). (KD)
Artikel asli dalam Bahasa Arab di bawah ini dapat dilihat di link:
https://uomus.edu.iq/Department/Details/25640














